
Bahkan, ketika ada penyewa yang membayar uang kontrakan kepada keluarga, ibu mertua selalu menyerahkan uang tersebut kepada saya. Padahal sebelumnya seluruh pengelolaannya berada di tangan beliau.
Kami sebenarnya telah sepakat bahwa selama ibu masih ingin mengelola hasil kontrakan, tidak ada masalah. Namun, sikap beliau yang tetap melibatkan saya sebagai bagian dari pengelolaan keuangan keluarga membuat saya merasa dihargai sebagai anggota keluarga.
Begitu pula dalam kehidupan sehari-hari. Setiap kali suami ingin membantu keluarganya, ia selalu membicarakannya terlebih dahulu dengan saya. Tidak pernah ada uang yang disembunyikan ataupun keputusan finansial yang diambil secara sepihak.
Saya pun melakukan hal yang sama. Ketika ingin memberikan sesuatu kepada orang tua saya, saya selalu menyampaikannya kepada suami, meskipun menggunakan penghasilan pribadi.
Kini saya sudah tidak lagi bekerja penuh waktu. Penghasilan saya berasal dari pekerjaan lepas yang jumlahnya tidak menentu. Kadang digunakan untuk kebutuhan rumah tangga, kadang untuk sekadar mengajak anak-anak menikmati waktu bersama.
Meski demikian, prinsip kami tetap sama. Setelah menikah, banyak keputusan—termasuk soal keuangan, lebih baik dibicarakan bersama.
Saya tidak pernah melarang suami membantu keluarganya ataupun menikmati hasil jerih payahnya sendiri. Di sisi lain, saya juga berusaha memastikan pengeluaran rumah tangga tetap berada dalam batas kemampuan.
Tentu saja, mengatur keuangan keluarga bukan perkara mudah. Terlebih ketika sebagian penghasilan harus dialokasikan untuk kebutuhan jangka panjang, seperti membangun rumah.
Namun, sejauh ini kami bersyukur tidak pernah mengalami pertengkaran besar karena masalah keuangan. Ketika ada kesulitan, kami memilih duduk bersama mencari jalan keluarnya.
Mengapa Keterbukaan Finansial Penting?
Bagi saya, keterbukaan finansial merupakan salah satu fondasi penting dalam kehidupan rumah tangga.
Keterbukaan bukan berarti setiap pasangan kehilangan hak atas penghasilan pribadi. Lebih dari itu, keterbukaan menunjukkan adanya kepercayaan serta kesediaan untuk menjalani kehidupan bersama tanpa menyembunyikan hal-hal penting.
Semakin terbuka pasangan mengenai kondisi keuangannya, semakin kecil pula ruang bagi munculnya prasangka dan kesalahpahaman.
Keterbukaan juga mencakup berbagai hal lain, seperti tabungan, utang, rencana investasi, hingga keputusan memberikan bantuan kepada orang tua atau keluarga besar.
Komunikasi semacam ini membantu pasangan memahami prioritas bersama. Misalnya ketika ingin memberikan hadiah kepada orang tua, baik dalam bentuk uang, kebutuhan pokok, maupun bentuk perhatian lainnya.