
Bagi masyarakat di wilayah selatan Tana Toraja, cengkeh merupakan salah satu komoditas perkebunan yang memiliki nilai ekonomi penting.
Tanaman rempah ini banyak dibudidayakan di sejumlah wilayah, seperti Kecamatan Gandangbatu Sillanan dan Mengkendek, serta menjadi salah satu sumber penghasilan masyarakat ketika musim panen tiba.
Tahun ini, harga cengkeh kering di tingkat petani, berdasarkan informasi yang beredar di masyarakat, berada di kisaran lebih dari seratus ribu rupiah per kilogram. Nilai tersebut masih tergolong cukup baik dan menjadi kabar yang menggembirakan bagi para petani.
Meski demikian, musim panen tahun ini menghadirkan pemandangan yang sedikit berbeda.
Di sejumlah kebun, pohon-pohon cengkeh tampak dipenuhi buah yang mulai matang. Namun, di kebun lainnya justru ada pohon yang belum menunjukkan tanda-tanda akan berbuah. Bahkan, tidak sedikit lahan yang sama sekali belum memasuki fase pembentukan buah.
Belum dapat dipastikan apa penyebab utamanya. Namun, perubahan pola cuaca yang belakangan terasa tidak menentu diduga ikut memengaruhi pertumbuhan tanaman.
Curah hujan yang berlangsung cukup lama kemudian berganti dengan periode kemarau yang berkepanjangan menjadi tantangan tersendiri bagi para petani.
Selain itu, pola pemupukan yang tidak selalu dilakukan secara berkelanjutan juga bisa menjadi salah satu faktor yang memengaruhi produktivitas tanaman.
Memasuki pertengahan Juli 2026, sebagian petani mulai memanen buah cengkeh yang telah siap dipetik. Di Kelurahan Salubarani dan wilayah sekitarnya, suasana kebun mulai kembali hidup. Tangga-tangga pemetik mulai disiapkan, sementara para petani bersiap menyambut musim panen yang perlahan datang.
Hal serupa juga saya temui di kebun milik sendiri.
Beberapa pohon telah dipenuhi buah cengkeh berwarna merah cerah dengan bunga yang mulai mekar, tanda bahwa buah sudah siap dipanen. Di antara ranting-rantingnya, suara lebah terdengar ramai mengitari bunga-bunga cengkeh yang sedang bermekaran.
Namun, tidak semua pohon menunjukkan kondisi yang sama. Hanya beberapa pohon yang berbuah, sedangkan pohon lainnya masih menunggu waktunya.
Meski hasilnya belum banyak, rasanya sulit menolak ajakan alam untuk segera memanen buah yang telah matang. Tantangan justru datang dari hal yang sederhana, yakni menyiapkan tangga pemetik yang aman digunakan di pohon-pohon cengkeh yang cukup tinggi.
Beruntung, seorang tetangga yang kebunnya juga mulai berbuah memiliki kebutuhan yang sama.
Kami pun sepakat menggunakan satu tangga secara bergantian. Ia membuat tangganya, sementara saya menyediakan tali sebagai pelengkap. Kerja sama sederhana seperti ini menjadi hal yang lumrah di tengah masyarakat ketika musim panen tiba.