Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Yulius Roma Patandean
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Yulius Roma Patandean adalah seorang yang berprofesi sebagai Guru. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Musim Panen Cengkeh Kini Tak Lagi Serentak

Kompas.com, 31 Juli 2026, 14:16 WIB

Bagi masyarakat di wilayah selatan Tana Toraja, cengkeh merupakan salah satu komoditas perkebunan yang memiliki nilai ekonomi penting.

Tanaman rempah ini banyak dibudidayakan di sejumlah wilayah, seperti Kecamatan Gandangbatu Sillanan dan Mengkendek, serta menjadi salah satu sumber penghasilan masyarakat ketika musim panen tiba.

Tahun ini, harga cengkeh kering di tingkat petani, berdasarkan informasi yang beredar di masyarakat, berada di kisaran lebih dari seratus ribu rupiah per kilogram. Nilai tersebut masih tergolong cukup baik dan menjadi kabar yang menggembirakan bagi para petani.

Meski demikian, musim panen tahun ini menghadirkan pemandangan yang sedikit berbeda.

Di sejumlah kebun, pohon-pohon cengkeh tampak dipenuhi buah yang mulai matang. Namun, di kebun lainnya justru ada pohon yang belum menunjukkan tanda-tanda akan berbuah. Bahkan, tidak sedikit lahan yang sama sekali belum memasuki fase pembentukan buah.

Belum dapat dipastikan apa penyebab utamanya. Namun, perubahan pola cuaca yang belakangan terasa tidak menentu diduga ikut memengaruhi pertumbuhan tanaman.

Curah hujan yang berlangsung cukup lama kemudian berganti dengan periode kemarau yang berkepanjangan menjadi tantangan tersendiri bagi para petani.

Selain itu, pola pemupukan yang tidak selalu dilakukan secara berkelanjutan juga bisa menjadi salah satu faktor yang memengaruhi produktivitas tanaman.

Memasuki pertengahan Juli 2026, sebagian petani mulai memanen buah cengkeh yang telah siap dipetik. Di Kelurahan Salubarani dan wilayah sekitarnya, suasana kebun mulai kembali hidup. Tangga-tangga pemetik mulai disiapkan, sementara para petani bersiap menyambut musim panen yang perlahan datang.

Hal serupa juga saya temui di kebun milik sendiri.

Beberapa pohon telah dipenuhi buah cengkeh berwarna merah cerah dengan bunga yang mulai mekar, tanda bahwa buah sudah siap dipanen. Di antara ranting-rantingnya, suara lebah terdengar ramai mengitari bunga-bunga cengkeh yang sedang bermekaran.

Namun, tidak semua pohon menunjukkan kondisi yang sama. Hanya beberapa pohon yang berbuah, sedangkan pohon lainnya masih menunggu waktunya.

Meski hasilnya belum banyak, rasanya sulit menolak ajakan alam untuk segera memanen buah yang telah matang. Tantangan justru datang dari hal yang sederhana, yakni menyiapkan tangga pemetik yang aman digunakan di pohon-pohon cengkeh yang cukup tinggi.

Beruntung, seorang tetangga yang kebunnya juga mulai berbuah memiliki kebutuhan yang sama.

Kami pun sepakat menggunakan satu tangga secara bergantian. Ia membuat tangganya, sementara saya menyediakan tali sebagai pelengkap. Kerja sama sederhana seperti ini menjadi hal yang lumrah di tengah masyarakat ketika musim panen tiba.

Saat proses pemetikan berlangsung, saya memperhatikan ada hal yang menarik.

Di sela-sela buah yang sudah matang ternyata mulai muncul bakal buah baru yang dalam istilah masyarakat setempat disebut mempollo' batik.

Bentuknya masih kecil, menyerupai ekor belalang, sehingga perlu kehati-hatian saat memetik agar bakal buah tersebut tidak ikut rusak.

Fenomena serupa juga terlihat pada beberapa pohon lainnya.

Oleh karena itu, panen kali ini lebih tepat disebut sebagai panen awal atau panen sela. Buah yang dipetik baru sebagian, sementara proses pembentukan buah berikutnya masih terus berlangsung.

Jika kondisi cuaca mendukung, panen raya cengkeh di wilayah Tana Toraja diperkirakan baru akan berlangsung sekitar Oktober hingga November mendatang.

Meski hasil panen saat ini belum sebesar musim panen utama, tetap ada rasa syukur yang menyertainya. Dari satu pohon yang sedang produktif, hasilnya dapat mencapai sekitar tiga hingga lima kilogram cengkeh kering.

Jumlah tersebut memang belum mencerminkan keseluruhan potensi panen tahun ini. Namun, cukup menjadi penanda bahwa musim cengkeh mulai bergerak.

Panen awal ini juga menjadi kesempatan bagi para petani untuk kembali menyiapkan berbagai kebutuhan menjelang musim panen yang sesungguhnya.

Mulai dari memastikan peralatan siap digunakan, memperbaiki tangga pemetik, hingga memperkirakan waktu terbaik untuk memanen buah yang akan matang dalam beberapa bulan ke depan.

Di dunia pertanian, tidak semua musim datang dengan pola yang sama. Ada kalanya panen berlangsung serempak, tetapi ada pula saat ketika alam memilih ritmenya sendiri.

Barangkali, dari musim cengkeh tahun ini kita belajar bahwa hasil tidak selalu hadir dalam waktu yang bersamaan. Ada pohon yang lebih dahulu memberi, ada pula yang masih membutuhkan waktu untuk bertumbuh.

Dan seperti para petani yang tetap sabar menunggu musim berikutnya, kita pun diajak untuk percaya bahwa setiap proses memiliki waktunya masing-masing.

Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Panen Cengkeh yang Tidak Serentak"

Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT


Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Jejak Guru yang Membentuk Seorang Guru
Jejak Guru yang Membentuk Seorang Guru
Kata Netizen
Musim Panen Cengkeh Kini Tak Lagi Serentak
Musim Panen Cengkeh Kini Tak Lagi Serentak
Kata Netizen
Faktanya, Tak Semua Buku Impor Orisinal
Faktanya, Tak Semua Buku Impor Orisinal
Kata Netizen
Seberapa Penting Keterbukaan Finansial dalam Rumah Tangga?
Seberapa Penting Keterbukaan Finansial dalam Rumah Tangga?
Kata Netizen
Reusable Bag hingga Panen Kompos, Langkah Kecil Mengurangi Sampah
Reusable Bag hingga Panen Kompos, Langkah Kecil Mengurangi Sampah
Kata Netizen
Kembali KKN dengan Peran yang Berbeda
Kembali KKN dengan Peran yang Berbeda
Kata Netizen
Meningkatnya Kejahatan Jalanan, Keresahan Bersama di Bandung
Meningkatnya Kejahatan Jalanan, Keresahan Bersama di Bandung
Kata Netizen
Mekar di Negeri Orang, Menjaga Harapan untuk Pulang
Mekar di Negeri Orang, Menjaga Harapan untuk Pulang
Kata Netizen
Langkah Kecil Kaum Urban Kurangi Sampah Rumah Tangga
Langkah Kecil Kaum Urban Kurangi Sampah Rumah Tangga
Kata Netizen
Sastra Indonesia dan Peluang Menjadi Wirausahawan Literasi
Sastra Indonesia dan Peluang Menjadi Wirausahawan Literasi
Kata Netizen
Liburan yang Tak Terlupakan karena Cacar Air
Liburan yang Tak Terlupakan karena Cacar Air
Kata Netizen
Realitas Keuangan ASN yang Jarang Orang Ketahui
Realitas Keuangan ASN yang Jarang Orang Ketahui
Kata Netizen
Di Balik Semua Stereotip ASN, Mana yang Benar?
Di Balik Semua Stereotip ASN, Mana yang Benar?
Kata Netizen
Main-main ke Kabupaten Semarang, Ada Wisata Apa?
Main-main ke Kabupaten Semarang, Ada Wisata Apa?
Kata Netizen
Mainan Tradisional Mengajarkan Kreativitas di Lingkungan Sekolah
Mainan Tradisional Mengajarkan Kreativitas di Lingkungan Sekolah
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Terpopuler
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau