
Dalam beberapa tahun terakhir, perbincangan mengenai pendidikan di Indonesia hampir selalu berpusat pada kurikulum, asesmen, literasi, teknologi, generasi pascapandemi, hingga kecerdasan buatan. Semua itu penting.
Namun, di tengah berbagai diskusi tersebut, ada satu pertanyaan yang menurut saya layak mendapat perhatian lebih: dari mana sebenarnya seorang guru belajar menjadi guru?
Pertanyaan itu selalu membawa saya kembali kepada tiga sosok guru yang pernah hadir dalam perjalanan hidup saya.
Mereka datang dari latar yang berbeda, mengajar dengan cara yang berbeda, tetapi meninggalkan jejak yang sama kuatnya. Tanpa saya sadari, sebagian cara saya memandang pendidikan hari ini tumbuh dari pelajaran yang mereka berikan.
Berani Bermimpi
Guru pertama saya bernama Pak Tomo.
Saat saya duduk di kelas lima sekolah dasar, kenangan yang paling melekat bukanlah suasana di ruang kelas, melainkan perjalanan di boncengan sepeda motornya menuju berbagai perlombaan. Hampir setiap ada kompetisi, nama saya selalu didaftarkan.
Orang tua saya beberapa kali memprotes keputusan itu. Mereka khawatir saya tumbuh terlalu kompetitif. Namun, Pak Tomo memiliki cara pandang yang berbeda.
Menurutnya, anak-anak dari kampung seperti tempat saya dibesarkan perlu diberi kesempatan melihat dunia yang lebih luas. Mereka perlu mengetahui bahwa kehidupan tidak berhenti di batas desa tempat mereka tinggal.
Di lingkungan saya waktu itu, cita-cita bukan sesuatu yang sering dibicarakan, terlebih bagi anak perempuan. Pilihan hidup terasa sudah tersedia: menikah muda, bekerja di kota, atau menjadi pekerja migran.
Karena itulah, Pak Tomo terus mendorong murid-muridnya untuk berani membayangkan masa depan yang lebih luas. Ada satu kalimat yang hampir selalu beliau ulangi.
"Kita tidak pernah tahu masa depan. Berusahalah."
Saat kecil saya menganggap kalimat itu terdengar sederhana, bahkan agak abstrak. Baru setelah saya menjadi guru, saya memahami bahwa sesungguhnya beliau sedang membuka cakrawala berpikir murid-muridnya. Ia sedang mengajarkan keberanian untuk bermimpi.
Menghargai Proses
Guru kedua saya temui ketika kuliah.
Beliau seorang profesor yang usianya hampir tiga kali lipat usia saya. Sosoknya dikenal sangat santun. Nada bicaranya tenang, dan hampir tidak pernah meninggikan suara.
Karena itu saya sangat terkejut ketika suatu hari beliau menghabiskan hampir dua jam untuk menegur saya.
Saat itu makalah yang harus saya presentasikan tertinggal di kereta. Saya mencoba menjelaskan materi seadanya.
Permintaan maaf yang saya sampaikan perlahan berubah menjadi pembelaan diri. Saya merasa diperlakukan tidak adil, bahkan sempat membandingkan diri dengan teman-teman lain yang menurut saya kemampuan akademiknya berada di bawah saya.
Perdebatan itu berakhir dengan satu kalimat yang sampai hari ini masih saya ingat.
"Anda tidak layak duduk di kelas saya."
Kalimat itu membuat saya memilih tidak masuk kuliah selama hampir dua minggu karena merasa sangat malu.
Belakangan saya baru memahami bahwa kemarahan beliau bukan semata karena makalah saya tertinggal. Yang beliau tegur adalah cara saya meremehkan teman-teman sendiri.