
Beliau sedang membela martabat seluruh murid di kelas.
Di saat yang sama, beliau juga sedang mengingatkan saya agar tidak mudah menyerah pada keadaan, tidak merendahkan diri sendiri, dan tidak mengukur kualitas seseorang hanya dari capaian akademik.
Anehnya, kalimat yang pernah saya dengar sejak SD kembali hadir: "Kita tidak pernah tahu masa depan. Berusahalah."
Kalimat itu kemudian mengantarkan saya mengikuti berbagai forum akademik.
Perjalanannya tentu tidak selalu mudah. Saya pernah diminta turun dari mimbar karena dianggap tidak pantas berada di forum akademik. Saya juga pernah merasakan bagaimana guru dan teman-teman sekelas patungan agar saya dapat mengikuti konferensi pertama di Manila.
Semakin lama saya berkecimpung di dunia pendidikan, semakin saya merasa pelajaran dari guru tersebut menjadi sangat relevan.
Hari ini pendidikan sering dipandang sebagai arena kompetisi: siapa murid terbaik, sekolah terbaik, atau kampus terbaik. Padahal pendidikan seharusnya juga melahirkan manusia yang mampu menghargai proses belajar dirinya sendiri sekaligus menghormati perjalanan belajar orang lain.
Belajar tentang Welas Asih
Guru ketiga datang dari tempat yang sama sekali berbeda.
Beliau mengajar bahasa Belanda. Selama dua minggu saya tidak mengikuti kuliah, saya hanya duduk di luar kelas sambil membuka kamus dan melihat komik Donald Duck berbahasa Belanda. Saya tertarik dengan ilustrasinya, meski belum mampu memahami isinya.
Suatu hari beliau bertanya mengapa saya tidak pernah masuk kelas.
Dengan perasaan malu saya menjelaskan bahwa saya sebenarnya ingin belajar, tetapi tidak memiliki biaya untuk mengikuti kursus tersebut.
Beliau meminta saya menanyakan biaya administrasi terlebih dahulu. Setelah itu, sambil berjalan di belakang saya, beliau berkata pelan,
"Uangmu jatuh di lantai."
Begitulah saya akhirnya mulai belajar bahasa Belanda.
Bertahun-tahun kemudian saya baru menyadari bahwa yang beliau berikan bukan sekadar kesempatan belajar bahasa asing.
Beliau sedang menunjukkan bentuk welas asih yang menjaga martabat seorang murid.
Beliau juga pernah mengatakan sesuatu yang tidak pernah saya lupakan:
"Kalau ingin cepat belajar, jadilah guru."
Biaya yang "jatuh di lantai" itu kemudian saya "bayar" dengan membantu beliau mengajar murid-murid baru dan membuka kelas gratis setiap minggu bagi siapa pun yang ingin belajar, tetapi memiliki keterbatasan biaya.
Hubungan kami tentu tidak selalu mulus. Beliau pernah marah besar ketika saya memutuskan tidak mengikuti ujian tingkat C2. Kami bahkan sempat tidak saling berbicara selama beberapa bulan.
Ketika akhirnya saya berpamitan karena ingin menempuh jalan hidup sebagai petani dan ibu rumah tangga, beliau memberikan sebuah kamus—kamus yang dahulu menemaninya saat pertama kali berangkat ke Belanda.
Sebelum berpisah, beliau kembali mengucapkan kalimat yang kini terasa seperti benang merah dalam perjalanan hidup saya.