Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Galuh Ambar
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Galuh Ambar adalah seorang yang berprofesi sebagai Dosen. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Jejak Guru yang Membentuk Seorang Guru

Kompas.com, 31 Juli 2026, 19:07 WIB

Beliau sedang membela martabat seluruh murid di kelas.

Di saat yang sama, beliau juga sedang mengingatkan saya agar tidak mudah menyerah pada keadaan, tidak merendahkan diri sendiri, dan tidak mengukur kualitas seseorang hanya dari capaian akademik.

Anehnya, kalimat yang pernah saya dengar sejak SD kembali hadir: "Kita tidak pernah tahu masa depan. Berusahalah."

Kalimat itu kemudian mengantarkan saya mengikuti berbagai forum akademik.

Perjalanannya tentu tidak selalu mudah. Saya pernah diminta turun dari mimbar karena dianggap tidak pantas berada di forum akademik. Saya juga pernah merasakan bagaimana guru dan teman-teman sekelas patungan agar saya dapat mengikuti konferensi pertama di Manila.

Semakin lama saya berkecimpung di dunia pendidikan, semakin saya merasa pelajaran dari guru tersebut menjadi sangat relevan.

Hari ini pendidikan sering dipandang sebagai arena kompetisi: siapa murid terbaik, sekolah terbaik, atau kampus terbaik. Padahal pendidikan seharusnya juga melahirkan manusia yang mampu menghargai proses belajar dirinya sendiri sekaligus menghormati perjalanan belajar orang lain.

Belajar tentang Welas Asih

Guru ketiga datang dari tempat yang sama sekali berbeda.

Beliau mengajar bahasa Belanda. Selama dua minggu saya tidak mengikuti kuliah, saya hanya duduk di luar kelas sambil membuka kamus dan melihat komik Donald Duck berbahasa Belanda. Saya tertarik dengan ilustrasinya, meski belum mampu memahami isinya.

Suatu hari beliau bertanya mengapa saya tidak pernah masuk kelas.

Dengan perasaan malu saya menjelaskan bahwa saya sebenarnya ingin belajar, tetapi tidak memiliki biaya untuk mengikuti kursus tersebut.

Beliau meminta saya menanyakan biaya administrasi terlebih dahulu. Setelah itu, sambil berjalan di belakang saya, beliau berkata pelan,

"Uangmu jatuh di lantai."

Begitulah saya akhirnya mulai belajar bahasa Belanda.

Bertahun-tahun kemudian saya baru menyadari bahwa yang beliau berikan bukan sekadar kesempatan belajar bahasa asing.

Beliau sedang menunjukkan bentuk welas asih yang menjaga martabat seorang murid.

Beliau juga pernah mengatakan sesuatu yang tidak pernah saya lupakan:

"Kalau ingin cepat belajar, jadilah guru."

Biaya yang "jatuh di lantai" itu kemudian saya "bayar" dengan membantu beliau mengajar murid-murid baru dan membuka kelas gratis setiap minggu bagi siapa pun yang ingin belajar, tetapi memiliki keterbatasan biaya.

Hubungan kami tentu tidak selalu mulus. Beliau pernah marah besar ketika saya memutuskan tidak mengikuti ujian tingkat C2. Kami bahkan sempat tidak saling berbicara selama beberapa bulan.

Ketika akhirnya saya berpamitan karena ingin menempuh jalan hidup sebagai petani dan ibu rumah tangga, beliau memberikan sebuah kamus—kamus yang dahulu menemaninya saat pertama kali berangkat ke Belanda.

Sebelum berpisah, beliau kembali mengucapkan kalimat yang kini terasa seperti benang merah dalam perjalanan hidup saya.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Jejak Guru yang Membentuk Seorang Guru
Jejak Guru yang Membentuk Seorang Guru
Kata Netizen
Musim Panen Cengkeh Kini Tak Lagi Serentak
Musim Panen Cengkeh Kini Tak Lagi Serentak
Kata Netizen
Faktanya, Tak Semua Buku Impor Orisinal
Faktanya, Tak Semua Buku Impor Orisinal
Kata Netizen
Seberapa Penting Keterbukaan Finansial dalam Rumah Tangga?
Seberapa Penting Keterbukaan Finansial dalam Rumah Tangga?
Kata Netizen
Reusable Bag hingga Panen Kompos, Langkah Kecil Mengurangi Sampah
Reusable Bag hingga Panen Kompos, Langkah Kecil Mengurangi Sampah
Kata Netizen
Kembali KKN dengan Peran yang Berbeda
Kembali KKN dengan Peran yang Berbeda
Kata Netizen
Meningkatnya Kejahatan Jalanan, Keresahan Bersama di Bandung
Meningkatnya Kejahatan Jalanan, Keresahan Bersama di Bandung
Kata Netizen
Mekar di Negeri Orang, Menjaga Harapan untuk Pulang
Mekar di Negeri Orang, Menjaga Harapan untuk Pulang
Kata Netizen
Langkah Kecil Kaum Urban Kurangi Sampah Rumah Tangga
Langkah Kecil Kaum Urban Kurangi Sampah Rumah Tangga
Kata Netizen
Sastra Indonesia dan Peluang Menjadi Wirausahawan Literasi
Sastra Indonesia dan Peluang Menjadi Wirausahawan Literasi
Kata Netizen
Liburan yang Tak Terlupakan karena Cacar Air
Liburan yang Tak Terlupakan karena Cacar Air
Kata Netizen
Realitas Keuangan ASN yang Jarang Orang Ketahui
Realitas Keuangan ASN yang Jarang Orang Ketahui
Kata Netizen
Di Balik Semua Stereotip ASN, Mana yang Benar?
Di Balik Semua Stereotip ASN, Mana yang Benar?
Kata Netizen
Main-main ke Kabupaten Semarang, Ada Wisata Apa?
Main-main ke Kabupaten Semarang, Ada Wisata Apa?
Kata Netizen
Mainan Tradisional Mengajarkan Kreativitas di Lingkungan Sekolah
Mainan Tradisional Mengajarkan Kreativitas di Lingkungan Sekolah
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Terpopuler
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau