
"Kita tidak pernah tahu masa depan. Berusahalah."
Guru Mewariskan Lebih dari Sekadar Ilmu
Di Indonesia, pendidikan sering dipahami sebagai jalan menuju mobilitas sosial. Akan tetapi, mobilitas sosial tidak pernah lahir hanya dari kurikulum.
Itu lahir ketika ada seseorang yang bersedia membuka pintu yang sebelumnya tertutup.
Tiga guru itu melakukannya untuk saya. Tanpa mereka, saya tidak tahu akan menjadi seperti apa hari ini. Kini saya mengajar calon guru.
Di kelas, saya sering mengajak mahasiswa membaca arsip pendidikan kolonial dan mendiskusikan bagaimana guru sejak dahulu dipersiapkan untuk membentuk warga negara yang merdeka, bebas dari warisan kolonialisme maupun feodalisme.
Sayangnya, setelah puluhan tahun, kita masih sering berbicara tentang pendidikan tanpa benar-benar membicarakan bagaimana seorang guru dibentuk.
Kita sibuk memperdebatkan sistem, tetapi kadang melupakan manusia yang menjalankannya. Padahal pengalaman saya menunjukkan sesuatu yang sederhana. Tidak ada guru yang lahir sendirian.
Di dalam setiap guru selalu hidup guru-guru lain yang pernah membimbingnya.
Mereka hadir dalam cara berbicara, cara memperlakukan murid, bahkan dalam nilai-nilai yang diwariskan tanpa disadari.
Kesadaran itu muncul kembali ketika suatu hari seorang mahasiswa bercerita bahwa orang tuanya heran mengapa saya begitu percaya kepadanya.
Saat itulah saya mulai memahami bagaimana dulu guru-guru saya memandang saya.
Saya juga mulai mengerti mengapa hati saya selalu terusik ketika melihat seorang mahasiswi dari daerah tertinggal meragukan dirinya sendiri di hadapan forum akademik. Mungkin, di situlah saya sedang mewarisi cara guru-guru saya melihat muridnya.
Saya memang belum pernah meninggikan suara di ruang kelas. Saya lebih sering memilih diam, memberi jeda, lalu berdiskusi.
Namun, belakangan saya sering bertanya kepada diri sendiri: guru seperti apa yang sedang saya wariskan kepada calon-calon guru berikutnya, terutama kepada anak-anak perempuan yang datang dari wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal di Indonesia?
Saya belum memiliki jawaban yang sempurna.
Tetapi saya tahu, ada satu kalimat yang tampaknya akan terus saya bawa, sebagaimana dahulu diwariskan oleh guru-guru saya.
"Kita tidak pernah tahu masa depan. Berusahalah."
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Dari Mana Seorang Guru Belajar Menjadi Guru?"
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT