Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Galuh Ambar
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Galuh Ambar adalah seorang yang berprofesi sebagai Dosen. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Jejak Guru yang Membentuk Seorang Guru

Kompas.com, 31 Juli 2026, 19:07 WIB

Dalam beberapa tahun terakhir, perbincangan mengenai pendidikan di Indonesia hampir selalu berpusat pada kurikulum, asesmen, literasi, teknologi, generasi pascapandemi, hingga kecerdasan buatan. Semua itu penting.

Namun, di tengah berbagai diskusi tersebut, ada satu pertanyaan yang menurut saya layak mendapat perhatian lebih: dari mana sebenarnya seorang guru belajar menjadi guru?

Pertanyaan itu selalu membawa saya kembali kepada tiga sosok guru yang pernah hadir dalam perjalanan hidup saya.

Mereka datang dari latar yang berbeda, mengajar dengan cara yang berbeda, tetapi meninggalkan jejak yang sama kuatnya. Tanpa saya sadari, sebagian cara saya memandang pendidikan hari ini tumbuh dari pelajaran yang mereka berikan.

Berani Bermimpi

Guru pertama saya bernama Pak Tomo.

Saat saya duduk di kelas lima sekolah dasar, kenangan yang paling melekat bukanlah suasana di ruang kelas, melainkan perjalanan di boncengan sepeda motornya menuju berbagai perlombaan. Hampir setiap ada kompetisi, nama saya selalu didaftarkan.

Orang tua saya beberapa kali memprotes keputusan itu. Mereka khawatir saya tumbuh terlalu kompetitif. Namun, Pak Tomo memiliki cara pandang yang berbeda.

Menurutnya, anak-anak dari kampung seperti tempat saya dibesarkan perlu diberi kesempatan melihat dunia yang lebih luas. Mereka perlu mengetahui bahwa kehidupan tidak berhenti di batas desa tempat mereka tinggal.

Di lingkungan saya waktu itu, cita-cita bukan sesuatu yang sering dibicarakan, terlebih bagi anak perempuan. Pilihan hidup terasa sudah tersedia: menikah muda, bekerja di kota, atau menjadi pekerja migran.

Karena itulah, Pak Tomo terus mendorong murid-muridnya untuk berani membayangkan masa depan yang lebih luas. Ada satu kalimat yang hampir selalu beliau ulangi.

"Kita tidak pernah tahu masa depan. Berusahalah."

Saat kecil saya menganggap kalimat itu terdengar sederhana, bahkan agak abstrak. Baru setelah saya menjadi guru, saya memahami bahwa sesungguhnya beliau sedang membuka cakrawala berpikir murid-muridnya. Ia sedang mengajarkan keberanian untuk bermimpi.

Menghargai Proses

Guru kedua saya temui ketika kuliah.

Beliau seorang profesor yang usianya hampir tiga kali lipat usia saya. Sosoknya dikenal sangat santun. Nada bicaranya tenang, dan hampir tidak pernah meninggikan suara.

Karena itu saya sangat terkejut ketika suatu hari beliau menghabiskan hampir dua jam untuk menegur saya.

Saat itu makalah yang harus saya presentasikan tertinggal di kereta. Saya mencoba menjelaskan materi seadanya.

Permintaan maaf yang saya sampaikan perlahan berubah menjadi pembelaan diri. Saya merasa diperlakukan tidak adil, bahkan sempat membandingkan diri dengan teman-teman lain yang menurut saya kemampuan akademiknya berada di bawah saya.

Perdebatan itu berakhir dengan satu kalimat yang sampai hari ini masih saya ingat.

"Anda tidak layak duduk di kelas saya."

Kalimat itu membuat saya memilih tidak masuk kuliah selama hampir dua minggu karena merasa sangat malu.

Belakangan saya baru memahami bahwa kemarahan beliau bukan semata karena makalah saya tertinggal. Yang beliau tegur adalah cara saya meremehkan teman-teman sendiri.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Sepiring Gonggong dan Sensasi yang Tidak Biasa
Sepiring Gonggong dan Sensasi yang Tidak Biasa
Kata Netizen
MBG Hadir, Kantin Sekolah Tetap Punya Cerita
MBG Hadir, Kantin Sekolah Tetap Punya Cerita
Kata Netizen
Pertemanan yang Merenggang Tak Selalu Berarti Putus
Pertemanan yang Merenggang Tak Selalu Berarti Putus
Kata Netizen
Ada Perjuangan di Balik Mual dan Emosi Ibu Hamil
Ada Perjuangan di Balik Mual dan Emosi Ibu Hamil
Kata Netizen
Setelah Gempa Berlalu, Bagaimana Mengembalikan Rasa Aman?
Setelah Gempa Berlalu, Bagaimana Mengembalikan Rasa Aman?
Kata Netizen
Seharian di Cipete dan Sekitarnya
Seharian di Cipete dan Sekitarnya
Kata Netizen
Belajar Ketahanan Pangan dari Hutan Kota di Seniman Pangan
Belajar Ketahanan Pangan dari Hutan Kota di Seniman Pangan
Kata Netizen
Dulu Maba, Kini Sarjana: Apa yang Berubah dari Cara Berpikir?
Dulu Maba, Kini Sarjana: Apa yang Berubah dari Cara Berpikir?
Kata Netizen
El Nino Bukan Sekadar Musim Kemarau, Ini Dampaknya bagi Kita
El Nino Bukan Sekadar Musim Kemarau, Ini Dampaknya bagi Kita
Kata Netizen
Membawa Kincung, Sedikit Bagian dari Kampung Halaman
Membawa Kincung, Sedikit Bagian dari Kampung Halaman
Kata Netizen
(Tidak) Semua Pertemanan Mesti Bertahan Selamanya
(Tidak) Semua Pertemanan Mesti Bertahan Selamanya
Kata Netizen
Yang Tertinggal Setelah Seorang Dosen Pergi
Yang Tertinggal Setelah Seorang Dosen Pergi
Kata Netizen
Menanam Nangka di Pekarangan, Menikmati Buahnya, Merasakan Hematnya
Menanam Nangka di Pekarangan, Menikmati Buahnya, Merasakan Hematnya
Kata Netizen
Sejuknya Hutan, Hangatnya Cerita tentang Petani Kopi
Sejuknya Hutan, Hangatnya Cerita tentang Petani Kopi
Kata Netizen
Kemerdekaan yang Belum Selesai, Korupsi Menggerogoti Hak Rakyat
Kemerdekaan yang Belum Selesai, Korupsi Menggerogoti Hak Rakyat
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Terpopuler
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau