
Bagaimana rasanya ketika tanah tempat orang-orang yang kita cintai berpijak tiba-tiba berguncang, sementara kita hanya bisa menjangkau mereka lewat telepon, doa, dan kabar yang datang tersendat dari seberang pulau?
Subuh di Sumba punya caranya sendiri untuk mengajarkan syukur. Udaranya menusuk pelan-pelan, membuat siapa pun ingin berlama-lama di balik dua lapis selimut, menikmati sunyi yang belum diganggu deru kendaraan.
Pagi itu, selepas subuh, saya memilih rebahan dalam kehangatan yang masih tersisa. Saya tidak tahu bahwa di bawah tanah tempat saya berbaring, ada energi yang telah lama tersimpan dan menunggu waktunya untuk bergerak.
Menjelang pukul 06.00, bumi bergetar. Bukan getaran singkat yang lazim kita maklumi sebagai bagian dari kehidupan di tanah yang berada di kawasan rawan gempa.
Guncangan itu terasa cukup lama, hampir tiga puluh detik. Dalam keadaan normal, waktu selama itu mungkin terasa singkat. Namun ketika bumi berguncang, beberapa detik saja bisa terasa begitu panjang.
Saya menggenggam telepon genggam. Tiba-tiba benda kecil itu terasa begitu penting. Informasi yang saya dapatkan membuat kecemasan seketika muncul. Pusat gempa berada di Nagekeo, dengan kekuatan yang besar dan potensi tsunami. Sementara itu, di pulau seberang, orang tua dan sanak keluarga saya tinggal.
Geografi Kecemasan
Selama ini ada jarak yang terasa biasa saja: Sumba dan Flores dipisahkan laut, dengan perjalanan penyeberangan yang dapat memakan waktu berjam-jam. Pulau-pulau itu dipisahkan selat yang pada hari-hari biasa terasa tenang.
Pagi itu, jarak tersebut terasa berbeda. Bukan lagi sekadar ukuran geografis, melainkan ukuran kecemasan. Setiap kilometer seolah ikut menambah beban di dada. Saya segera menelepon ke Bajawa, tempat orang tua saya tinggal. Lokasinya berdampingan dengan Kabupaten Nagekeo dan berjarak sekitar dua jam perjalanan darat dari pusat gempa.
Suara Abah di ujung telepon terdengar bergetar. Bukan karena sinyal yang buruk, tetapi karena kepanikan yang masih belum sepenuhnya reda.
Gempa susulan masih terjadi. Mereka memilih berada di luar rumah, di bawah langit yang pagi itu terasa lebih aman daripada atap yang selama bertahun-tahun menaungi mereka.
Saat itu saya menyadari, teknologi bisa menjadi jembatan yang begitu berarti. Sinyal telepon, yang dalam keseharian sering kita anggap biasa, pagi itu menjadi penghubung antara orang-orang yang terpisah pulau. Setiap panggilan yang tersambung membawa sedikit kelegaan. Sebaliknya, panggilan yang gagal justru menambah kecemasan.
Jarak memang memisahkan. Tetapi hubungan keluarga membuat kita terus berusaha menjangkaunya.
Tenda di Halaman Puskesmas
Tak lama kemudian, kakak saya menelepon dari Manggarai, tepatnya dari pelosok Kecamatan Reok. Ia bertugas sebagai tenaga kesehatan di sana, sekitar enam hingga tujuh jam perjalanan darat dari Bajawa, tempat orang tua kami tinggal.
Hal pertama yang ia lakukan justru menanyakan kabar saya di Sumba. Begitu cara kakak saya. Bahkan ketika berada dalam situasi yang tidak mudah, ia masih sempat memikirkan keadaan orang lain.
Kemudian ia bercerita bahwa rumahnya retak. Rumah itu bukan berada di Reok, tempat ia bertugas, melainkan di Bajawa. Ia dan suaminya memang sengaja membangun rumah di sana agar lebih dekat dengan orang tua kami dan mertuanya.
Mereka ingin orang-orang tua yang mereka cintai tidak lagi merasa sendirian. Jika membutuhkan sesuatu, anak-anak bisa datang dalam hitungan menit, bukan berjam-jam.
Rumah itu merupakan rumah pertama yang mereka rintis dari nol. Dibangun sedikit demi sedikit dengan keringat dan cicilan panjang. Ketika gempa terjadi, rumah tersebut masih dalam tahap penyelesaian.
"Kalau ada gempa susulan lagi, rumah kami bisa ambruk, Ris," katanya.
Saya tahu ada kepedihan di balik kalimat itu. Bukan hanya karena rumah yang belum sempat ditempati tersebut mengalami kerusakan, melainkan karena rumah itu memiliki makna yang lebih jauh: sebuah cara untuk mendekatkan diri kepada orang tua.
Saya hanya bisa menjawab dengan kalimat sederhana yang terasa kecil dibandingkan kecemasan yang sedang dihadapi.
Sabar, ikhlas, insyaallah aman. Yang penting kakak selamat. Panggilan itu kemudian terputus ketika gempa susulan kembali terjadi. Jaringan ikut goyah, seperti tanah yang baru saja berguncang.
Tidak lama kemudian, sebuah pesan WhatsApp masuk. Kakak dan rekan-rekan tenaga kesehatan bersama warga Desa Loce memilih bertahan di ruang terbuka. Mereka mendirikan tenda darurat di halaman Puskesmas.