Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Risma Achmad
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Risma Achmad adalah seorang yang berprofesi sebagai Guru. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Dari Sumba ke Flores, Menunggu Kabar di Tengah Gempa

Kompas.com, 19 Agustus 2026, 14:04 WIB

Bagaimana rasanya ketika tanah tempat orang-orang yang kita cintai berpijak tiba-tiba berguncang, sementara kita hanya bisa menjangkau mereka lewat telepon, doa, dan kabar yang datang tersendat dari seberang pulau?

Subuh di Sumba punya caranya sendiri untuk mengajarkan syukur. Udaranya menusuk pelan-pelan, membuat siapa pun ingin berlama-lama di balik dua lapis selimut, menikmati sunyi yang belum diganggu deru kendaraan.

Pagi itu, selepas subuh, saya memilih rebahan dalam kehangatan yang masih tersisa. Saya tidak tahu bahwa di bawah tanah tempat saya berbaring, ada energi yang telah lama tersimpan dan menunggu waktunya untuk bergerak.

Menjelang pukul 06.00, bumi bergetar. Bukan getaran singkat yang lazim kita maklumi sebagai bagian dari kehidupan di tanah yang berada di kawasan rawan gempa.

Guncangan itu terasa cukup lama, hampir tiga puluh detik. Dalam keadaan normal, waktu selama itu mungkin terasa singkat. Namun ketika bumi berguncang, beberapa detik saja bisa terasa begitu panjang.

Saya menggenggam telepon genggam. Tiba-tiba benda kecil itu terasa begitu penting. Informasi yang saya dapatkan membuat kecemasan seketika muncul. Pusat gempa berada di Nagekeo, dengan kekuatan yang besar dan potensi tsunami. Sementara itu, di pulau seberang, orang tua dan sanak keluarga saya tinggal.

Geografi Kecemasan

Selama ini ada jarak yang terasa biasa saja: Sumba dan Flores dipisahkan laut, dengan perjalanan penyeberangan yang dapat memakan waktu berjam-jam. Pulau-pulau itu dipisahkan selat yang pada hari-hari biasa terasa tenang.

Pagi itu, jarak tersebut terasa berbeda. Bukan lagi sekadar ukuran geografis, melainkan ukuran kecemasan. Setiap kilometer seolah ikut menambah beban di dada. Saya segera menelepon ke Bajawa, tempat orang tua saya tinggal. Lokasinya berdampingan dengan Kabupaten Nagekeo dan berjarak sekitar dua jam perjalanan darat dari pusat gempa.

Suara Abah di ujung telepon terdengar bergetar. Bukan karena sinyal yang buruk, tetapi karena kepanikan yang masih belum sepenuhnya reda.

Gempa susulan masih terjadi. Mereka memilih berada di luar rumah, di bawah langit yang pagi itu terasa lebih aman daripada atap yang selama bertahun-tahun menaungi mereka.

Saat itu saya menyadari, teknologi bisa menjadi jembatan yang begitu berarti. Sinyal telepon, yang dalam keseharian sering kita anggap biasa, pagi itu menjadi penghubung antara orang-orang yang terpisah pulau. Setiap panggilan yang tersambung membawa sedikit kelegaan. Sebaliknya, panggilan yang gagal justru menambah kecemasan.

Jarak memang memisahkan. Tetapi hubungan keluarga membuat kita terus berusaha menjangkaunya.

Tenda di Halaman Puskesmas

Tak lama kemudian, kakak saya menelepon dari Manggarai, tepatnya dari pelosok Kecamatan Reok. Ia bertugas sebagai tenaga kesehatan di sana, sekitar enam hingga tujuh jam perjalanan darat dari Bajawa, tempat orang tua kami tinggal.

Hal pertama yang ia lakukan justru menanyakan kabar saya di Sumba. Begitu cara kakak saya. Bahkan ketika berada dalam situasi yang tidak mudah, ia masih sempat memikirkan keadaan orang lain.

Kemudian ia bercerita bahwa rumahnya retak. Rumah itu bukan berada di Reok, tempat ia bertugas, melainkan di Bajawa. Ia dan suaminya memang sengaja membangun rumah di sana agar lebih dekat dengan orang tua kami dan mertuanya.

Mereka ingin orang-orang tua yang mereka cintai tidak lagi merasa sendirian. Jika membutuhkan sesuatu, anak-anak bisa datang dalam hitungan menit, bukan berjam-jam.

Rumah itu merupakan rumah pertama yang mereka rintis dari nol. Dibangun sedikit demi sedikit dengan keringat dan cicilan panjang. Ketika gempa terjadi, rumah tersebut masih dalam tahap penyelesaian.

"Kalau ada gempa susulan lagi, rumah kami bisa ambruk, Ris," katanya.

Saya tahu ada kepedihan di balik kalimat itu. Bukan hanya karena rumah yang belum sempat ditempati tersebut mengalami kerusakan, melainkan karena rumah itu memiliki makna yang lebih jauh: sebuah cara untuk mendekatkan diri kepada orang tua.

Saya hanya bisa menjawab dengan kalimat sederhana yang terasa kecil dibandingkan kecemasan yang sedang dihadapi.

Sabar, ikhlas, insyaallah aman. Yang penting kakak selamat. Panggilan itu kemudian terputus ketika gempa susulan kembali terjadi. Jaringan ikut goyah, seperti tanah yang baru saja berguncang.

Tidak lama kemudian, sebuah pesan WhatsApp masuk. Kakak dan rekan-rekan tenaga kesehatan bersama warga Desa Loce memilih bertahan di ruang terbuka. Mereka mendirikan tenda darurat di halaman Puskesmas.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Sepiring Gonggong dan Sensasi yang Tidak Biasa
Sepiring Gonggong dan Sensasi yang Tidak Biasa
Kata Netizen
MBG Hadir, Kantin Sekolah Tetap Punya Cerita
MBG Hadir, Kantin Sekolah Tetap Punya Cerita
Kata Netizen
Pertemanan yang Merenggang Tak Selalu Berarti Putus
Pertemanan yang Merenggang Tak Selalu Berarti Putus
Kata Netizen
Ada Perjuangan di Balik Mual dan Emosi Ibu Hamil
Ada Perjuangan di Balik Mual dan Emosi Ibu Hamil
Kata Netizen
Setelah Gempa Berlalu, Bagaimana Mengembalikan Rasa Aman?
Setelah Gempa Berlalu, Bagaimana Mengembalikan Rasa Aman?
Kata Netizen
Seharian di Cipete dan Sekitarnya
Seharian di Cipete dan Sekitarnya
Kata Netizen
Belajar Ketahanan Pangan dari Hutan Kota di Seniman Pangan
Belajar Ketahanan Pangan dari Hutan Kota di Seniman Pangan
Kata Netizen
Dulu Maba, Kini Sarjana: Apa yang Berubah dari Cara Berpikir?
Dulu Maba, Kini Sarjana: Apa yang Berubah dari Cara Berpikir?
Kata Netizen
El Nino Bukan Sekadar Musim Kemarau, Ini Dampaknya bagi Kita
El Nino Bukan Sekadar Musim Kemarau, Ini Dampaknya bagi Kita
Kata Netizen
Membawa Kincung, Sedikit Bagian dari Kampung Halaman
Membawa Kincung, Sedikit Bagian dari Kampung Halaman
Kata Netizen
(Tidak) Semua Pertemanan Mesti Bertahan Selamanya
(Tidak) Semua Pertemanan Mesti Bertahan Selamanya
Kata Netizen
Yang Tertinggal Setelah Seorang Dosen Pergi
Yang Tertinggal Setelah Seorang Dosen Pergi
Kata Netizen
Menanam Nangka di Pekarangan, Menikmati Buahnya, Merasakan Hematnya
Menanam Nangka di Pekarangan, Menikmati Buahnya, Merasakan Hematnya
Kata Netizen
Sejuknya Hutan, Hangatnya Cerita tentang Petani Kopi
Sejuknya Hutan, Hangatnya Cerita tentang Petani Kopi
Kata Netizen
Kemerdekaan yang Belum Selesai, Korupsi Menggerogoti Hak Rakyat
Kemerdekaan yang Belum Selesai, Korupsi Menggerogoti Hak Rakyat
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Terpopuler
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau