
Pada titik itu, saya melihat sesuatu yang lebih besar dari sekadar bencana. Ada naluri untuk tetap merawat orang lain, bahkan ketika rumah sendiri sedang tidak baik-baik saja.
Seorang tenaga kesehatan yang rumahnya retak tetap memilih berada di tengah masyarakat, menjaga orang lain sebelum sempat memikirkan dirinya sendiri. Hingga tulisan ini saya rangkai, kakak dan rekan-rekan nakesnya, para perantau yang jauh dari kampung halaman masing-masing, masih berada di tenda itu.
Gempa susulan sesekali masih terasa. Udara Flores malam itu dingin dan berangin. Dingin yang berbeda dengan dinginnya subuh Sumba yang saya rasakan pagi tadi. Dingin yang menembus terpal tenda dan membuat orang-orang saling merapat, bukan hanya untuk mencari kehangatan, tetapi juga untuk meyakinkan satu sama lain bahwa mereka tidak sendirian.
Air Laut yang Surut, Kabar yang Menyusut
Media sosial pagi itu berubah menjadi jendela yang menghadirkan banyak kabar dari Flores. Video demi video beredar dari Manggarai dan Manggarai Timur. Ada bangunan yang rusak, rumah warga yang terdampak, hingga jalan yang tertutup longsor.
Salah satu video yang membuat saya terdiam adalah rekaman air laut yang surut di Pelabuhan Aimere, ketika kapal feri ASDP baru saja bersandar dari Waingapu.
Teman saya, Aivul, berada di kapal tersebut.
Untungnya ia sudah lebih dulu turun ke daratan. Hanya motornya yang masih tertinggal di geladak. Kerugian itu tentu tetap berarti, tetapi pagi itu terasa kecil dibandingkan rasa syukur karena nyawanya selamat.
Saya juga mencoba menghubungi kerabat di Nagekeo, lokasi pusat gempa. Pesan saya berhenti di centang satu. Jaringan seolah ikut menghilang di tengah situasi yang tidak menentu.
Ketika akhirnya pesan itu terbaca, saya sedikit lega. Mereka sudah mengungsi ke tempat yang lebih tinggi.
Dari layar yang sama, saya melihat kabar longsor di Ende dan bangunan-bangunan yang terdampak di Maumere, Kabupaten Sikka. Jarak-jarak tersebut biasanya hanya kami hitung ketika hendak bepergian atau merencanakan perjalanan pulang kampung.
Pagi itu, jarak berubah menjadi sesuatu yang berbeda. Peta kecemasan yang membentang di Pulau Flores.
Dering yang Tak Kunjung Tersambung
Ada satu nama lagi yang terus berada di kepala saya pagi itu: adik saya. Seorang tour guide yang sedang berada di Labuan Bajo, mendampingi sekeluarga wisatawan asal Italia.
Ia bukan sedang berada di rumah yang bisa saya bayangkan keberadaannya. Ia berada di perjalanan, di kawasan wisata, dan sedang menjalankan tanggung jawab untuk mendampingi orang-orang yang mempercayakan keselamatan perjalanan mereka kepadanya.
Kabar mengenai air laut yang surut di Labuan Bajo membuat saya semakin cemas. Saya menelepon berkali-kali.
Setiap nada sambung yang terputus sebelum diangkat terasa begitu panjang. Kecemasan bukan hanya muncul karena memikirkan adik saya, tetapi juga karena ia sedang bersama sebuah keluarga dari negeri yang jauh.
Beberapa kali mencoba, akhirnya panggilan tersambung. Suaranya terdengar lelah, tetapi membawa kabar yang saya tunggu: ia baik-baik saja. Para tamunya pun aman.
Untuk sementara, mereka memilih bertahan di Labuan Bajo. Bukan karena tidak ingin pulang, melainkan karena akses menuju Bajawa yang dalam kondisi normal saja membutuhkan sekitar delapan jam perjalanan darat telah tertutup longsoran tebing berbatu.
Saya tetap berpesan agar ia mencari tempat yang lebih tinggi dan menjauh dari garis pantai sampai keadaan benar-benar aman.
Saat itu saya kembali menyadari bahwa kecemasan seorang kakak tidak pernah berhenti pada satu nama.
Ia bisa menjalar kepada saudara yang lain, kepada orang tua, kepada keluarga yang berada di pulau berbeda.
Barangkali begitulah cara cinta bekerja ketika jarak membuat kita tidak bisa hadir secara langsung.
Rumah yang Retak, Cinta yang Utuh