Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Risma Achmad
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Risma Achmad adalah seorang yang berprofesi sebagai Guru. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Dari Sumba ke Flores, Menunggu Kabar di Tengah Gempa

Kompas.com, 19 Agustus 2026, 14:04 WIB

Pada titik itu, saya melihat sesuatu yang lebih besar dari sekadar bencana. Ada naluri untuk tetap merawat orang lain, bahkan ketika rumah sendiri sedang tidak baik-baik saja.

Seorang tenaga kesehatan yang rumahnya retak tetap memilih berada di tengah masyarakat, menjaga orang lain sebelum sempat memikirkan dirinya sendiri. Hingga tulisan ini saya rangkai, kakak dan rekan-rekan nakesnya, para perantau yang jauh dari kampung halaman masing-masing, masih berada di tenda itu.

Gempa susulan sesekali masih terasa. Udara Flores malam itu dingin dan berangin. Dingin yang berbeda dengan dinginnya subuh Sumba yang saya rasakan pagi tadi. Dingin yang menembus terpal tenda dan membuat orang-orang saling merapat, bukan hanya untuk mencari kehangatan, tetapi juga untuk meyakinkan satu sama lain bahwa mereka tidak sendirian.

Air Laut yang Surut, Kabar yang Menyusut

Media sosial pagi itu berubah menjadi jendela yang menghadirkan banyak kabar dari Flores. Video demi video beredar dari Manggarai dan Manggarai Timur. Ada bangunan yang rusak, rumah warga yang terdampak, hingga jalan yang tertutup longsor.

Salah satu video yang membuat saya terdiam adalah rekaman air laut yang surut di Pelabuhan Aimere, ketika kapal feri ASDP baru saja bersandar dari Waingapu.

Teman saya, Aivul, berada di kapal tersebut.

Untungnya ia sudah lebih dulu turun ke daratan. Hanya motornya yang masih tertinggal di geladak. Kerugian itu tentu tetap berarti, tetapi pagi itu terasa kecil dibandingkan rasa syukur karena nyawanya selamat.

Saya juga mencoba menghubungi kerabat di Nagekeo, lokasi pusat gempa. Pesan saya berhenti di centang satu. Jaringan seolah ikut menghilang di tengah situasi yang tidak menentu.

Ketika akhirnya pesan itu terbaca, saya sedikit lega. Mereka sudah mengungsi ke tempat yang lebih tinggi.

Dari layar yang sama, saya melihat kabar longsor di Ende dan bangunan-bangunan yang terdampak di Maumere, Kabupaten Sikka. Jarak-jarak tersebut biasanya hanya kami hitung ketika hendak bepergian atau merencanakan perjalanan pulang kampung.

Pagi itu, jarak berubah menjadi sesuatu yang berbeda. Peta kecemasan yang membentang di Pulau Flores.

Dering yang Tak Kunjung Tersambung

Ada satu nama lagi yang terus berada di kepala saya pagi itu: adik saya. Seorang tour guide yang sedang berada di Labuan Bajo, mendampingi sekeluarga wisatawan asal Italia.

Ia bukan sedang berada di rumah yang bisa saya bayangkan keberadaannya. Ia berada di perjalanan, di kawasan wisata, dan sedang menjalankan tanggung jawab untuk mendampingi orang-orang yang mempercayakan keselamatan perjalanan mereka kepadanya.

Kabar mengenai air laut yang surut di Labuan Bajo membuat saya semakin cemas. Saya menelepon berkali-kali.

Setiap nada sambung yang terputus sebelum diangkat terasa begitu panjang. Kecemasan bukan hanya muncul karena memikirkan adik saya, tetapi juga karena ia sedang bersama sebuah keluarga dari negeri yang jauh.

Beberapa kali mencoba, akhirnya panggilan tersambung. Suaranya terdengar lelah, tetapi membawa kabar yang saya tunggu: ia baik-baik saja. Para tamunya pun aman.

Untuk sementara, mereka memilih bertahan di Labuan Bajo. Bukan karena tidak ingin pulang, melainkan karena akses menuju Bajawa yang dalam kondisi normal saja membutuhkan sekitar delapan jam perjalanan darat telah tertutup longsoran tebing berbatu.

Saya tetap berpesan agar ia mencari tempat yang lebih tinggi dan menjauh dari garis pantai sampai keadaan benar-benar aman.

Saat itu saya kembali menyadari bahwa kecemasan seorang kakak tidak pernah berhenti pada satu nama.

Ia bisa menjalar kepada saudara yang lain, kepada orang tua, kepada keluarga yang berada di pulau berbeda.

Barangkali begitulah cara cinta bekerja ketika jarak membuat kita tidak bisa hadir secara langsung.

Rumah yang Retak, Cinta yang Utuh

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Danau Singkarak, Lebih dari Sekadar Pemandangan Indah
Danau Singkarak, Lebih dari Sekadar Pemandangan Indah
Kata Netizen
Perempuan dan Masa Depan Investasi di Pasar Modal
Perempuan dan Masa Depan Investasi di Pasar Modal
Kata Netizen
Anak Belajar Mengenal Tradisi Daerah lewat Karnaval Budaya
Anak Belajar Mengenal Tradisi Daerah lewat Karnaval Budaya
Kata Netizen
Sekolah dan Kuliah Gratis, Apakah Kesempatan Belajar Jadi Setara?
Sekolah dan Kuliah Gratis, Apakah Kesempatan Belajar Jadi Setara?
Kata Netizen
Cerita Musim Kemarau di NTT, dari Pohon Lontar ke Gula Lempeng
Cerita Musim Kemarau di NTT, dari Pohon Lontar ke Gula Lempeng
Kata Netizen
Mengenal TB Lebih Dekat, dari Penularan hingga Pencegahannya
Mengenal TB Lebih Dekat, dari Penularan hingga Pencegahannya
Kata Netizen
Ketemu Vitamin A-syik saat Jogging Malam di Manahan
Ketemu Vitamin A-syik saat Jogging Malam di Manahan
Kata Netizen
Menjadi Guru Tak Cukup Hanya dengan Keikhlasan
Menjadi Guru Tak Cukup Hanya dengan Keikhlasan
Kata Netizen
Anggrek Membawa Saya Kembali kepada Kuntowijoyo
Anggrek Membawa Saya Kembali kepada Kuntowijoyo
Kata Netizen
Mindfulness Bukan Sekadar Menjauh dari Kabar Buruk
Mindfulness Bukan Sekadar Menjauh dari Kabar Buruk
Kata Netizen
Menyusuri Jejak Sejarah Kali Pepe di Tengah Kota Solo
Menyusuri Jejak Sejarah Kali Pepe di Tengah Kota Solo
Kata Netizen
Karhutla Mapongka Mendekati Bandara dan Sekolah Rakyat
Karhutla Mapongka Mendekati Bandara dan Sekolah Rakyat
Kata Netizen
Kesendirian Tak Lagi Menjadi Sesuatu yang Menakutkan
Kesendirian Tak Lagi Menjadi Sesuatu yang Menakutkan
Kata Netizen
Brokoli Kuning dan Cara Sederhana Membuat Taman Lebih Hidup
Brokoli Kuning dan Cara Sederhana Membuat Taman Lebih Hidup
Kata Netizen
Keluarga Stucky, di Balik Awal Pendidikan Perempuan di Malang
Keluarga Stucky, di Balik Awal Pendidikan Perempuan di Malang
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Terpopuler
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau