
Di tengah derasnya kabar, ada satu berita yang begitu menyayat hati: seorang ibu di Manggarai ditemukan tertimbun reruntuhan rumah bersama balitanya.
Kabar duka lain kemudian datang dari Ende, Maumere, dan wilayah Manggarai Timur.
Hingga sore hari, pembaruan resmi yang disebutkan dalam tulisan ini mencatat puluhan korban meninggal dunia, warga yang mengalami luka-luka, serta ribuan orang yang terdampak dan harus mengungsi.
Angka-angka tersebut mungkin terlihat sederhana ketika ditulis dalam sebuah laporan. Namun di balik setiap angka ada keluarga, rumah, dan kehidupan yang berubah dalam sekejap.
Flores memang berada di kawasan yang memiliki aktivitas tektonik tinggi. Gempa hari itu bukan berasal dari aktivitas gunung api, melainkan gempa tektonik dari pergerakan bumi.
Gempa susulan juga terus terjadi. Warga sempat dikejutkan oleh kondisi air laut yang surut. Meskipun peringatan dini tsunami kemudian dicabut, sebagian warga tetap memilih bertahan di tempat yang lebih tinggi.
Dalam situasi seperti itu, kewaspadaan bukan selalu berarti ketakutan. Ia juga merupakan cara manusia menghargai alam yang baru saja menunjukkan kekuatannya.
Dari peristiwa ini saya belajar membedakan dua makna tentang rumah. Ada rumah yang dibangun dari bata dan semen. Rumah yang bisa retak dalam hitungan detik ketika bumi bergerak.
Tetapi ada pula rumah yang tidak mudah disentuh oleh guncangan. Rumah itu dibangun dari hubungan keluarga, dari suara Abah yang tetap menjawab telepon, dari kakak yang masih memikirkan keselamatan orang lain meskipun rumahnya sendiri mengalami kerusakan.
Rumah fisik mungkin dapat retak. Tetapi rumah batin justru bisa menjadi semakin kuat ketika diuji oleh jarak dan keadaan.
Merawat Sesama, Merajut Harap
Pemerintah Kabupaten Manggarai juga menetapkan status tanggap darurat bencana selama sembilan puluh hari, terhitung sejak hari kejadian hingga pertengahan November.
Keputusan itu menjadi pengingat bahwa pemulihan tidak selalu selesai dalam hitungan hari. Setelah kabar mengenai bencana berhenti memenuhi layar, masih ada warga yang harus memperbaiki rumah, kembali bekerja, memulihkan kehidupan, dan menghadapi trauma.
Kabar baiknya, teman-teman saya dari ILUNI UI Wilayah NTT bergerak membuka jalur donasi bagi para korban yang masih membutuhkan bantuan.
Bagi saya, gotong royong seperti itu menunjukkan bahwa kepedulian tidak selalu membutuhkan kedekatan secara geografis. Ia bisa tumbuh dari hubungan antarmanusia, dari rasa senasib, bahkan dari sebuah pesan sederhana: bagaimana saya bisa membantu?
Bagi siapa pun yang membaca kisah ini dan tergerak, uluran tangan sekecil apa pun tentu berarti bagi mereka yang malam itu masih tidur di tenda-tenda darurat.
Hari itu hati saya hanya ingin pulang ke Flores. Bukan untuk melarikan diri dari kecemasan, tetapi untuk berdiri di samping saudara-saudara yang masih bertahan. Untuk melihat sendiri keadaan mereka. Untuk menemani mereka menghitung kembali apa yang tersisa setelah bumi berguncang.
Namun saya percaya, tanah Flores yang sesekali bergetar telah lama mengajarkan penduduknya tentang keteguhan. Bahwa hidup bersama alam bukan berarti manusia selalu menang atas alam. Ada saatnya kita harus mengakui bahwa ada sesuatu yang jauh lebih besar daripada diri kita.
Dan dari sana, mungkin kita belajar tentang keikhlasan, tentang saling menjaga, serta tentang bagaimana kembali berdiri setelah kehilangan.
Semoga mereka yang masih berada di tenda-tenda darurat segera dapat kembali ke rumah dengan rasa aman.
Setiap doa yang dipanjatkan dari seberang pulau sampai kepada mereka yang sedang menunggu, bahwa meski jarak membentang di antara kami, mereka tidak pernah benar-benar sendirian.
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Ketika Flores Menggigil: Doa dari Sumba dan Puing Rindu di Rumah Baru"
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT