Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Risma Achmad
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Risma Achmad adalah seorang yang berprofesi sebagai Guru. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Dari Sumba ke Flores, Menunggu Kabar di Tengah Gempa

Kompas.com, 19 Agustus 2026, 14:04 WIB

Di tengah derasnya kabar, ada satu berita yang begitu menyayat hati: seorang ibu di Manggarai ditemukan tertimbun reruntuhan rumah bersama balitanya.

Kabar duka lain kemudian datang dari Ende, Maumere, dan wilayah Manggarai Timur.

Hingga sore hari, pembaruan resmi yang disebutkan dalam tulisan ini mencatat puluhan korban meninggal dunia, warga yang mengalami luka-luka, serta ribuan orang yang terdampak dan harus mengungsi.

Angka-angka tersebut mungkin terlihat sederhana ketika ditulis dalam sebuah laporan. Namun di balik setiap angka ada keluarga, rumah, dan kehidupan yang berubah dalam sekejap.

Flores memang berada di kawasan yang memiliki aktivitas tektonik tinggi. Gempa hari itu bukan berasal dari aktivitas gunung api, melainkan gempa tektonik dari pergerakan bumi.

Gempa susulan juga terus terjadi. Warga sempat dikejutkan oleh kondisi air laut yang surut. Meskipun peringatan dini tsunami kemudian dicabut, sebagian warga tetap memilih bertahan di tempat yang lebih tinggi.

Dalam situasi seperti itu, kewaspadaan bukan selalu berarti ketakutan. Ia juga merupakan cara manusia menghargai alam yang baru saja menunjukkan kekuatannya.

Dari peristiwa ini saya belajar membedakan dua makna tentang rumah. Ada rumah yang dibangun dari bata dan semen. Rumah yang bisa retak dalam hitungan detik ketika bumi bergerak.

Tetapi ada pula rumah yang tidak mudah disentuh oleh guncangan. Rumah itu dibangun dari hubungan keluarga, dari suara Abah yang tetap menjawab telepon, dari kakak yang masih memikirkan keselamatan orang lain meskipun rumahnya sendiri mengalami kerusakan.

Rumah fisik mungkin dapat retak. Tetapi rumah batin justru bisa menjadi semakin kuat ketika diuji oleh jarak dan keadaan.

Merawat Sesama, Merajut Harap

Pemerintah Kabupaten Manggarai juga menetapkan status tanggap darurat bencana selama sembilan puluh hari, terhitung sejak hari kejadian hingga pertengahan November.

Keputusan itu menjadi pengingat bahwa pemulihan tidak selalu selesai dalam hitungan hari. Setelah kabar mengenai bencana berhenti memenuhi layar, masih ada warga yang harus memperbaiki rumah, kembali bekerja, memulihkan kehidupan, dan menghadapi trauma.

Kabar baiknya, teman-teman saya dari ILUNI UI Wilayah NTT bergerak membuka jalur donasi bagi para korban yang masih membutuhkan bantuan.

Bagi saya, gotong royong seperti itu menunjukkan bahwa kepedulian tidak selalu membutuhkan kedekatan secara geografis. Ia bisa tumbuh dari hubungan antarmanusia, dari rasa senasib, bahkan dari sebuah pesan sederhana: bagaimana saya bisa membantu?

Bagi siapa pun yang membaca kisah ini dan tergerak, uluran tangan sekecil apa pun tentu berarti bagi mereka yang malam itu masih tidur di tenda-tenda darurat.

Hari itu hati saya hanya ingin pulang ke Flores. Bukan untuk melarikan diri dari kecemasan, tetapi untuk berdiri di samping saudara-saudara yang masih bertahan. Untuk melihat sendiri keadaan mereka. Untuk menemani mereka menghitung kembali apa yang tersisa setelah bumi berguncang.

Namun saya percaya, tanah Flores yang sesekali bergetar telah lama mengajarkan penduduknya tentang keteguhan. Bahwa hidup bersama alam bukan berarti manusia selalu menang atas alam. Ada saatnya kita harus mengakui bahwa ada sesuatu yang jauh lebih besar daripada diri kita.

Dan dari sana, mungkin kita belajar tentang keikhlasan, tentang saling menjaga, serta tentang bagaimana kembali berdiri setelah kehilangan.

Semoga mereka yang masih berada di tenda-tenda darurat segera dapat kembali ke rumah dengan rasa aman.

Setiap doa yang dipanjatkan dari seberang pulau sampai kepada mereka yang sedang menunggu, bahwa meski jarak membentang di antara kami, mereka tidak pernah benar-benar sendirian.

Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Ketika Flores Menggigil: Doa dari Sumba dan Puing Rindu di Rumah Baru"

Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Danau Singkarak, Lebih dari Sekadar Pemandangan Indah
Danau Singkarak, Lebih dari Sekadar Pemandangan Indah
Kata Netizen
Perempuan dan Masa Depan Investasi di Pasar Modal
Perempuan dan Masa Depan Investasi di Pasar Modal
Kata Netizen
Anak Belajar Mengenal Tradisi Daerah lewat Karnaval Budaya
Anak Belajar Mengenal Tradisi Daerah lewat Karnaval Budaya
Kata Netizen
Sekolah dan Kuliah Gratis, Apakah Kesempatan Belajar Jadi Setara?
Sekolah dan Kuliah Gratis, Apakah Kesempatan Belajar Jadi Setara?
Kata Netizen
Cerita Musim Kemarau di NTT, dari Pohon Lontar ke Gula Lempeng
Cerita Musim Kemarau di NTT, dari Pohon Lontar ke Gula Lempeng
Kata Netizen
Mengenal TB Lebih Dekat, dari Penularan hingga Pencegahannya
Mengenal TB Lebih Dekat, dari Penularan hingga Pencegahannya
Kata Netizen
Ketemu Vitamin A-syik saat Jogging Malam di Manahan
Ketemu Vitamin A-syik saat Jogging Malam di Manahan
Kata Netizen
Menjadi Guru Tak Cukup Hanya dengan Keikhlasan
Menjadi Guru Tak Cukup Hanya dengan Keikhlasan
Kata Netizen
Anggrek Membawa Saya Kembali kepada Kuntowijoyo
Anggrek Membawa Saya Kembali kepada Kuntowijoyo
Kata Netizen
Mindfulness Bukan Sekadar Menjauh dari Kabar Buruk
Mindfulness Bukan Sekadar Menjauh dari Kabar Buruk
Kata Netizen
Menyusuri Jejak Sejarah Kali Pepe di Tengah Kota Solo
Menyusuri Jejak Sejarah Kali Pepe di Tengah Kota Solo
Kata Netizen
Karhutla Mapongka Mendekati Bandara dan Sekolah Rakyat
Karhutla Mapongka Mendekati Bandara dan Sekolah Rakyat
Kata Netizen
Kesendirian Tak Lagi Menjadi Sesuatu yang Menakutkan
Kesendirian Tak Lagi Menjadi Sesuatu yang Menakutkan
Kata Netizen
Brokoli Kuning dan Cara Sederhana Membuat Taman Lebih Hidup
Brokoli Kuning dan Cara Sederhana Membuat Taman Lebih Hidup
Kata Netizen
Keluarga Stucky, di Balik Awal Pendidikan Perempuan di Malang
Keluarga Stucky, di Balik Awal Pendidikan Perempuan di Malang
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Terpopuler
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau