
Jika kemerdekaan berarti bekerja tanpa tekanan, dihargai atas pekerjaan yang dilakukan, serta memperoleh hak yang layak, sudahkah para tenaga kesehatan benar-benar merasakan kemerdekaan itu?
Belakangan ini, lini masa media sosial cukup ramai membicarakan tenaga kesehatan (nakes). Sayangnya, perhatian tersebut tidak selalu datang dari kabar yang menggembirakan. Ada kalanya profesi nakes menjadi sorotan karena unggahan seseorang, potongan video, atau komentar di media sosial yang menilai pekerjaan mereka dari apa yang tampak sekilas.
Seorang dokter yang sedang mengetik sesuatu di telepon genggam, misalnya, bisa saja dengan mudah dianggap sedang bermain ponsel dan mengabaikan pasien.
Padahal, di balik ketikan tersebut mungkin ada hasil pemeriksaan laboratorium yang harus segera dikonsultasikan atau informasi penting terkait kondisi pasien yang perlu ditindaklanjuti.
Apa yang terlihat dari luar memang belum tentu menggambarkan keseluruhan pekerjaan seorang nakes.
Seorang dokter bedah bisa menghabiskan waktu berjam-jam di ruang operasi. Selama itu, ia mungkin merasa haus, pegal karena berdiri terlalu lama, atau bahkan ingin ke toilet. Namun, semua kebutuhan pribadi tersebut harus ditunda sampai tugasnya selesai.
Ketika operasi berjalan dengan baik dan pasien dapat melewati prosedur dengan selamat, apakah keberhasilan itu akan menjadi sorotan?
Barangkali tidak. Sebab, bagi banyak orang, keberhasilan seorang nakes menjalankan tugas memang dianggap sebagai sesuatu yang sewajarnya terjadi. Pasien sembuh, keluarga merasa lega, dan kehidupan kembali berjalan seperti biasa.
Padahal, di balik sesuatu yang terlihat "biasa" itu, ada kerja panjang yang sering kali tidak terlihat.
Pekerjaan yang Sering Tak Terlihat
Bayangkan seorang perawat yang harus terbangun pada pukul 02.00 karena pasiennya mengalami diare di tempat tidur.
Pasien tersebut berada dalam kondisi total care, dengan separuh tubuh yang lumpuh sehingga tidak mampu bergerak sendiri. Bahkan untuk sekadar duduk atau memiringkan badan pun membutuhkan bantuan.
Perawat itu tetap berdiri dan membantu membersihkan pasien. Bukan karena ia tidak membutuhkan tidur, melainkan karena ia memahami bahwa pasien tentu merasa tidak nyaman jika kondisinya dibiarkan begitu saja.
Sebagai manusia, perawat juga membutuhkan waktu untuk beristirahat. Namun, pada malam itu, kebutuhan pasien harus lebih dahulu ditangani.
Ketika tugas tersebut selesai, ketika rasa kantuk berhasil ditahan dan pasien kembali merasa nyaman, apakah ada yang menyorot pekerjaan itu? Tidak.
Begitu pula ketika seorang perawat harus duduk dengan tekun di samping pasien untuk mencari akses pembuluh darah yang tepat. Akses infus sebelumnya mengalami pembengkakan sehingga alirannya tidak lagi baik.
Menjelang pukul 22.00, ia masih berusaha menemukan pembuluh darah yang aman agar antibiotik dapat diberikan tepat waktu. Rasa kantuk ada, tetapi konsentrasi tetap harus dijaga.
Ketika akhirnya akses infus berhasil ditemukan, obat dapat masuk dan pasien memperoleh terapi yang dibutuhkan. Apakah keberhasilan itu menjadi berita? Tidak.
Penghargaan yang diterima mungkin hanya berupa ucapan terima kasih dari keluarga pasien dan gaji bulanan sebagai haknya.
Namun, mungkin memang demikian cara kerja profesi kesehatan. Ketika pekerjaan dilakukan dengan baik, keberhasilan itu dianggap sebagai bagian dari tanggung jawab.
Lalu, mengapa hal yang sama tidak selalu berlaku ketika pekerjaan nakes dianggap kurang baik?
Ketika terjadi kesalahan, pelayanan dinilai tidak ramah, atau ada tindakan yang dianggap tidak sesuai harapan, sorotan bisa datang dengan cepat. Media sosial membuat penilaian terhadap seseorang semakin mudah disebarkan, bahkan sebelum kita mengetahui keseluruhan cerita.
Di sinilah barangkali kita perlu belajar untuk melihat pekerjaan nakes secara lebih utuh.
Antara Sorotan dan Privasi