Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Rinta Wulandari
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Rinta Wulandari adalah seorang yang berprofesi sebagai Perawat. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Apa Arti Merdeka bagi Nakes?

Kompas.com, 19 Agustus 2026, 15:09 WIB

Jika kemerdekaan berarti bekerja tanpa tekanan, dihargai atas pekerjaan yang dilakukan, serta memperoleh hak yang layak, sudahkah para tenaga kesehatan benar-benar merasakan kemerdekaan itu?

Belakangan ini, lini masa media sosial cukup ramai membicarakan tenaga kesehatan (nakes). Sayangnya, perhatian tersebut tidak selalu datang dari kabar yang menggembirakan. Ada kalanya profesi nakes menjadi sorotan karena unggahan seseorang, potongan video, atau komentar di media sosial yang menilai pekerjaan mereka dari apa yang tampak sekilas.

Seorang dokter yang sedang mengetik sesuatu di telepon genggam, misalnya, bisa saja dengan mudah dianggap sedang bermain ponsel dan mengabaikan pasien.

Padahal, di balik ketikan tersebut mungkin ada hasil pemeriksaan laboratorium yang harus segera dikonsultasikan atau informasi penting terkait kondisi pasien yang perlu ditindaklanjuti.

Apa yang terlihat dari luar memang belum tentu menggambarkan keseluruhan pekerjaan seorang nakes.

Seorang dokter bedah bisa menghabiskan waktu berjam-jam di ruang operasi. Selama itu, ia mungkin merasa haus, pegal karena berdiri terlalu lama, atau bahkan ingin ke toilet. Namun, semua kebutuhan pribadi tersebut harus ditunda sampai tugasnya selesai.

Ketika operasi berjalan dengan baik dan pasien dapat melewati prosedur dengan selamat, apakah keberhasilan itu akan menjadi sorotan?

Barangkali tidak. Sebab, bagi banyak orang, keberhasilan seorang nakes menjalankan tugas memang dianggap sebagai sesuatu yang sewajarnya terjadi. Pasien sembuh, keluarga merasa lega, dan kehidupan kembali berjalan seperti biasa.

Padahal, di balik sesuatu yang terlihat "biasa" itu, ada kerja panjang yang sering kali tidak terlihat.

Pekerjaan yang Sering Tak Terlihat

Bayangkan seorang perawat yang harus terbangun pada pukul 02.00 karena pasiennya mengalami diare di tempat tidur.

Pasien tersebut berada dalam kondisi total care, dengan separuh tubuh yang lumpuh sehingga tidak mampu bergerak sendiri. Bahkan untuk sekadar duduk atau memiringkan badan pun membutuhkan bantuan.

Perawat itu tetap berdiri dan membantu membersihkan pasien. Bukan karena ia tidak membutuhkan tidur, melainkan karena ia memahami bahwa pasien tentu merasa tidak nyaman jika kondisinya dibiarkan begitu saja.

Sebagai manusia, perawat juga membutuhkan waktu untuk beristirahat. Namun, pada malam itu, kebutuhan pasien harus lebih dahulu ditangani.

Ketika tugas tersebut selesai, ketika rasa kantuk berhasil ditahan dan pasien kembali merasa nyaman, apakah ada yang menyorot pekerjaan itu? Tidak.

Begitu pula ketika seorang perawat harus duduk dengan tekun di samping pasien untuk mencari akses pembuluh darah yang tepat. Akses infus sebelumnya mengalami pembengkakan sehingga alirannya tidak lagi baik.

Menjelang pukul 22.00, ia masih berusaha menemukan pembuluh darah yang aman agar antibiotik dapat diberikan tepat waktu. Rasa kantuk ada, tetapi konsentrasi tetap harus dijaga.

Ketika akhirnya akses infus berhasil ditemukan, obat dapat masuk dan pasien memperoleh terapi yang dibutuhkan. Apakah keberhasilan itu menjadi berita? Tidak.

Penghargaan yang diterima mungkin hanya berupa ucapan terima kasih dari keluarga pasien dan gaji bulanan sebagai haknya.

Namun, mungkin memang demikian cara kerja profesi kesehatan. Ketika pekerjaan dilakukan dengan baik, keberhasilan itu dianggap sebagai bagian dari tanggung jawab.

Lalu, mengapa hal yang sama tidak selalu berlaku ketika pekerjaan nakes dianggap kurang baik?

Ketika terjadi kesalahan, pelayanan dinilai tidak ramah, atau ada tindakan yang dianggap tidak sesuai harapan, sorotan bisa datang dengan cepat. Media sosial membuat penilaian terhadap seseorang semakin mudah disebarkan, bahkan sebelum kita mengetahui keseluruhan cerita.

Di sinilah barangkali kita perlu belajar untuk melihat pekerjaan nakes secara lebih utuh.

Antara Sorotan dan Privasi

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Danau Singkarak, Lebih dari Sekadar Pemandangan Indah
Danau Singkarak, Lebih dari Sekadar Pemandangan Indah
Kata Netizen
Perempuan dan Masa Depan Investasi di Pasar Modal
Perempuan dan Masa Depan Investasi di Pasar Modal
Kata Netizen
Anak Belajar Mengenal Tradisi Daerah lewat Karnaval Budaya
Anak Belajar Mengenal Tradisi Daerah lewat Karnaval Budaya
Kata Netizen
Sekolah dan Kuliah Gratis, Apakah Kesempatan Belajar Jadi Setara?
Sekolah dan Kuliah Gratis, Apakah Kesempatan Belajar Jadi Setara?
Kata Netizen
Cerita Musim Kemarau di NTT, dari Pohon Lontar ke Gula Lempeng
Cerita Musim Kemarau di NTT, dari Pohon Lontar ke Gula Lempeng
Kata Netizen
Mengenal TB Lebih Dekat, dari Penularan hingga Pencegahannya
Mengenal TB Lebih Dekat, dari Penularan hingga Pencegahannya
Kata Netizen
Ketemu Vitamin A-syik saat Jogging Malam di Manahan
Ketemu Vitamin A-syik saat Jogging Malam di Manahan
Kata Netizen
Menjadi Guru Tak Cukup Hanya dengan Keikhlasan
Menjadi Guru Tak Cukup Hanya dengan Keikhlasan
Kata Netizen
Anggrek Membawa Saya Kembali kepada Kuntowijoyo
Anggrek Membawa Saya Kembali kepada Kuntowijoyo
Kata Netizen
Mindfulness Bukan Sekadar Menjauh dari Kabar Buruk
Mindfulness Bukan Sekadar Menjauh dari Kabar Buruk
Kata Netizen
Menyusuri Jejak Sejarah Kali Pepe di Tengah Kota Solo
Menyusuri Jejak Sejarah Kali Pepe di Tengah Kota Solo
Kata Netizen
Karhutla Mapongka Mendekati Bandara dan Sekolah Rakyat
Karhutla Mapongka Mendekati Bandara dan Sekolah Rakyat
Kata Netizen
Kesendirian Tak Lagi Menjadi Sesuatu yang Menakutkan
Kesendirian Tak Lagi Menjadi Sesuatu yang Menakutkan
Kata Netizen
Brokoli Kuning dan Cara Sederhana Membuat Taman Lebih Hidup
Brokoli Kuning dan Cara Sederhana Membuat Taman Lebih Hidup
Kata Netizen
Keluarga Stucky, di Balik Awal Pendidikan Perempuan di Malang
Keluarga Stucky, di Balik Awal Pendidikan Perempuan di Malang
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Terpopuler
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau