
Jika dibandingkan dengan profesi lain, pekerjaan nakes memang memiliki karakteristik yang berbeda.
Ketika polisi berhasil menangkap sekelompok perampok atau menggagalkan penyelundupan narkoba, keberhasilan tersebut dapat diberitakan secara luas. Tidak jarang ada konferensi pers yang secara khusus menjelaskan keberhasilan aparat.
Masyarakat memang perlu mengetahui informasi tersebut karena persoalan keamanan menyangkut kepentingan publik yang luas.
Sementara itu, urusan kesehatan sering kali bersifat personal. Informasi mengenai penyakit, pemeriksaan, tindakan medis, hingga kondisi seseorang memiliki aspek privasi yang perlu dijaga. Karena itu, tidak semua keberhasilan maupun pekerjaan seorang dokter, perawat, atau tenaga kesehatan dapat ditampilkan kepada publik.
Hal lain yang belakangan juga menjadi perhatian adalah kebiasaan mengambil foto atau merekam aktivitas nakes secara diam-diam, kemudian mengunggahnya ke media sosial dengan keterangan yang belum tentu sesuai dengan konteks sebenarnya.
Beberapa kali saya pun menegur orang yang secara diam-diam memotret atau merekam aktivitas kami. Bukan karena ingin menutup-nutupi pekerjaan, melainkan karena ada aturan yang perlu dihormati, terutama ketika menyangkut privasi dan hal-hal sensitif.
Jika memang ada kepentingan tertentu untuk mengambil gambar atau merekam, tentu akan jauh lebih baik jika dilakukan dengan persetujuan nakes yang bersangkutan dan tetap memperhatikan batas-batas privasi. Sebab, di balik seragam dan profesinya, nakes juga manusia.
Lalu, Apa Arti Merdeka bagi Nakes?
Pada momentum kemerdekaan, pertanyaan itu kembali muncul di kepala saya: sebagai tenaga kesehatan, apakah saya sudah benar-benar merdeka?
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), merdeka antara lain berarti bebas dari perhambaan, penjajahan, atau kekuasaan pihak tertentu. Merdeka juga dapat dimaknai sebagai keadaan ketika seseorang dapat berdiri sendiri, tidak bergantung pada pihak lain, serta leluasa bertindak secara mandiri.
Jika menggunakan pengertian tersebut, barangkali kemerdekaan bagi nakes masih menjadi perjalanan yang panjang.
Ada kalanya kami berusaha menyelesaikan berbagai urusan pasien agar tugas dapat dituntaskan dengan baik, tetapi penghargaan yang diterima tidak selalu sebanding dengan pengorbanan yang diberikan.
Ada pula anggapan bahwa ketika seorang nakes membuka telepon genggam saat jam kerja, ia sedang bermain ponsel. Padahal, tidak sedikit pekerjaan yang memang harus dilakukan melalui perangkat tersebut.
Bagi sebagian nakes, telepon genggam bukan sekadar alat untuk bersantai. Ia bisa menjadi sarana komunikasi dengan rekan sejawat, membaca hasil pemeriksaan, melakukan konsultasi, atau menjalankan berbagai urusan pekerjaan lainnya.
Kemerdekaan juga berbicara tentang kesejahteraan. Bagaimana dengan nakes yang bekerja di wilayah perbatasan, desa, atau pulau-pulau terpencil? Apakah mereka telah memperoleh hak yang layak? Apakah penghasilan mereka sudah sesuai dengan kebutuhan hidup di daerah masing-masing?
Jawabannya belum tentu. Masih ada nakes yang setiap bulan hanya menerima honor sekitar Rp300 ribu. Padahal, pendidikan untuk menjadi perawat bukan sesuatu yang ditempuh dalam waktu singkat.
Setidaknya dibutuhkan tiga tahun pendidikan. Jika melanjutkan ke jenjang profesi, masa pendidikan dapat mencapai lima tahun.
Menjadi nakes membutuhkan pikiran, tenaga, waktu, dan biaya. Setelah menyelesaikan pendidikan pun, harapan untuk segera mendapatkan pekerjaan yang layak tidak selalu mudah diwujudkan.
Ada yang harus melewati fase bekerja dengan penghasilan terbatas demi memperoleh pengalaman. Tanggung jawabnya besar, tetapi imbalannya belum tentu sebanding.
Pada titik tertentu, mengambil keputusan untuk mencari tempat kerja baru juga menjadi bagian dari upaya memperjuangkan kehidupan yang lebih baik.
Jika setelah beberapa bulan atau satu tahun seseorang merasa pekerjaan dan penghasilannya tidak lagi seimbang, mencari pilihan lain bukan berarti tidak menghargai pekerjaan. Bisa jadi itu adalah bentuk penghargaan terhadap diri sendiri.
Karena itu, jangan mudah tergoda oleh janji seperti, "Kamu sabar dulu di sini, nanti bisa diangkat menjadi PNS."
Untuk menjadi PNS, ada mekanisme dan proses seleksi yang harus ditempuh. Jika memang ingin menjadi aparatur sipil negara, seseorang dapat mengikuti proses sesuai ketentuan dan memilih instansi yang sesuai dengan tujuan kariernya.
Kemerdekaan yang Sederhana