
Bagi saya, kemerdekaan dalam bekerja tidak selalu harus dimaknai dengan sesuatu yang besar.
Kadang, kemerdekaan justru terasa dalam hal-hal sederhana. Hari berjalan tanpa kendala. Tidak ada komplain pasien. Semua pekerjaan selesai. Laporan terselesaikan. Datang tepat waktu dan pulang sesuai jadwal.
Sederhana, tetapi terasa berharga. Kemerdekaan juga berarti dapat berdiri di atas kaki sendiri, bekerja dengan tenang, dan menatap masa depan dengan keyakinan bahwa pekerjaan yang dilakukan memiliki nilai.
Bagi nakes secara keseluruhan, kemerdekaan mungkin tidak jauh dari rasa nyaman dalam bekerja.
Bekerja dengan tenang dan fokus tanpa intimidasi. Tidak harus berusaha memberikan perlakuan berbeda hanya karena ada titipan pejabat, atau karena pasien maupun keluarganya memiliki jabatan tertentu.
Tidak harus berhadapan dengan pasien atau keluarga pasien yang berkata, "Kamu tidak tahu saya siapa?"
Dalam situasi seperti itu, pekerjaan yang seharusnya berfokus pada pelayanan kesehatan justru dapat berubah menjadi tekanan tersendiri.
Bahkan, terkadang saya merasa lebih nyaman merawat sepuluh pasien kelas tiga daripada melayani satu pasien yang merasa memiliki kedudukan lebih tinggi dan menuntut perlakuan khusus. Bukan karena jumlah pasien menjadi persoalan, melainkan karena suasana kerja yang penuh tekanan dapat menguras energi dan membuat pelayanan menjadi tidak nyaman.
Pada akhirnya, kemerdekaan dalam bekerja juga berarti kesempatan untuk memberikan pelayanan secara profesional kepada siapa pun tanpa melihat latar belakangnya.
Kemerdekaan yang Lebih Luas
Ketika harinya, 17 Agustus 2026, Indonesia memperingati 81 tahun kemerdekaannya. Sudah semestinya kemerdekaan diisi dengan berbagai hal yang membawa kehidupan masyarakat ke arah yang lebih baik.
Namun, dalam perjalanan itu, pilihan kebijakan tentu perlu terus dievaluasi agar manfaatnya benar-benar dirasakan secara luas.
Pendidikan, misalnya, semestinya menjadi salah satu prioritas. Hasil investasi pendidikan memang tidak selalu terlihat dalam waktu singkat. Dampaknya mungkin baru terasa lima atau sepuluh tahun kemudian.
Namun, pendidikan yang baik dapat menjadi fondasi bagi lahirnya sumber daya manusia yang lebih berkualitas. Dukungan melalui beasiswa dan akses pendidikan yang lebih luas juga dapat membuka kesempatan bagi mereka yang sebelumnya memiliki keterbatasan.
Kemerdekaan juga seharusnya terasa ketika masyarakat memperoleh jaminan kesehatan yang adil dan merata.
Kita mengenal Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) sebagai salah satu upaya gotong royong dalam pembiayaan kesehatan. Melalui sistem tersebut, masyarakat diharapkan dapat memperoleh akses pelayanan kesehatan tanpa harus menghadapi beban biaya yang tidak terjangkau.
Berbagai persoalan yang mungkin muncul dalam pelaksanaannya tentu perlu terus diperbaiki. Harapannya, tidak ada pihak yang dirugikan dan setiap hak dapat dipenuhi secara adil.
Sebab, kemerdekaan dalam bidang kesehatan bukan hanya tentang tersedianya layanan ketika seseorang sakit. Ia juga tentang kesempatan bagi setiap warga untuk menjaga kesehatan, mencegah penyakit, dan memperoleh pengobatan ketika membutuhkannya.
Pada akhirnya, mungkin itulah makna kemerdekaan yang saya bayangkan.
Merdeka adalah ketika kita dapat menjalani kehidupan di Indonesia dengan lebih nyaman, tanpa tekanan yang tidak semestinya; dapat bekerja dengan maksimal, memperoleh penghasilan yang layak untuk memenuhi kebutuhan hidup, serta tetap memiliki kesempatan untuk berkontribusi dan memberikan manfaat di mana pun kita ditempatkan.
Dan bagi seorang nakes, kemerdekaan mungkin sesederhana bisa bekerja dengan tenang, dihargai sebagai manusia, mendapatkan hak yang layak, dan pulang ke rumah setelah menyelesaikan tugas dengan perasaan bahwa hari itu ia telah memberikan yang terbaik bagi pasiennya.
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Nakes dan Hak Kemerdekaannya"
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.