Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Yayuk Sulistiyowati M.V.
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Yayuk Sulistiyowati M.V. adalah seorang yang berprofesi sebagai Guru. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Dari Pasar Comboran, Sepiring Orem-orem Menyimpan Cerita

Kompas.com, 19 Agustus 2026, 16:31 WIB

Bagaimana sebuah sepiring makanan sederhana dapat membawa kita berjalan menyusuri ingatan, bertemu dengan wajah kota yang lama, sekaligus merasakan kembali jejak yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya?

Tidak ada kota yang terlalu besar bagi seseorang untuk ditinggalkan dengan berjalan kaki di pagi hari.— Cyril Connolly, penulis, editor, dan kritikus

Hari Minggu, apalagi pagi hari, selalu menjadi waktu yang menyenangkan untuk menyusuri sudut-sudut lama Kota Malang.

Ada suasana yang berbeda ketika sebuah kota dijelajahi dengan berjalan kaki. Kita punya kesempatan untuk memperhatikan hal-hal kecil yang mungkin terlewat ketika melintas dengan kendaraan.

Bangunan lama, aktivitas pasar, orang-orang yang mulai membuka lapak, hingga aroma makanan dari warung sederhana seolah menjadi bagian dari cerita yang hanya bisa ditemukan ketika kita berjalan lebih perlahan.

Pagi itu, saya menuju Pasar Comboran, pasar loak legendaris yang sudah puluhan tahun menjadi tempat bertemunya barang-barang lama dengan pemilik barunya.

Sengaja saya melangkah perlahan, menikmati tumpukan onderdil kendaraan, radio lawas, piring antik, mesin tik, hingga buku-buku yang mulai menguning dimakan usia.

Benda-benda yang dianggap usang ini ternyata masih belum kehilangan nilainya.

Bagi saya pribadi, Comboran semakin terasa seperti sebuah ruang yang menyimpan potongan-potongan sejarah Kota Malang. Barang-barang lama yang berpindah tangan seolah membawa cerita dari pemilik sebelumnya kepada orang yang menemukannya kembali.

Langkah saya kemudian terhenti. Mata dan perut saya seperti sudah bersekutu. Mata tertuju pada sebuah warung legendaris yang setia menjaga keberadaannya di kawasan Pasar Comboran dari masa ke masa. Seperti tersihir, perut saya pun mulai berdendang. Ternyata saya lapar.

Hampir Enam Dekade Menjaga Rasa

Warung orem-orem ini berdiri sejak 1967 dan menjadi salah satu kuliner legendaris yang ikut tumbuh bersama Kota Malang. Aroma santannya yang gurih bercampur rempah langsung menyambut begitu saya mendekati gerobaknya.

Meja-meja di dalam warung sudah dipenuhi pelanggan. Percakapan antara pemilik dan pelanggan mengalir dengan hangat, menghadirkan suasana yang akrab.

Jujur saja, sudah lama sekali saya tidak menikmati orem-orem Pak Tik.

Sejak pandemi, saya sudah sangat jarang datang. Pagi itu, mata, perut, dan perasaan saya seperti kembali bersekutu untuk menikmati hidangan khas yang rasanya mampu menghadirkan kembali rasa rindu.

Saya memilih duduk tepat di depan gerobak. Lontong kupat diiris-iris, kemudian diberi taoge segar dan bawang merah goreng. Setelah itu, semuanya disiram kuah tempe berwarna kuning kecokelatan. Asapnya mengepul perlahan, sementara aroma gurihnya segera memenuhi udara di sekitar warung.

Hidung saya kembang-kempis. Senang. Orem-orem memang merupakan hidangan sederhana. Namun, bagi masyarakat Malang, makanan ini telah menjadi bagian dari identitas kuliner kota.

Dalam sepiring orem-orem Pak Tik, tersimpan resep yang terus dijaga keluarganya selama hampir enam dekade.

Barangkali di situlah menariknya makanan tradisional. Ia tidak selalu membutuhkan tampilan yang rumit untuk menjadi istimewa. Kadang-kadang, yang membuat sebuah makanan terus dicari justru adalah rasa yang tidak banyak berubah dari waktu ke waktu.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Sepiring Gonggong dan Sensasi yang Tidak Biasa
Sepiring Gonggong dan Sensasi yang Tidak Biasa
Kata Netizen
MBG Hadir, Kantin Sekolah Tetap Punya Cerita
MBG Hadir, Kantin Sekolah Tetap Punya Cerita
Kata Netizen
Pertemanan yang Merenggang Tak Selalu Berarti Putus
Pertemanan yang Merenggang Tak Selalu Berarti Putus
Kata Netizen
Ada Perjuangan di Balik Mual dan Emosi Ibu Hamil
Ada Perjuangan di Balik Mual dan Emosi Ibu Hamil
Kata Netizen
Setelah Gempa Berlalu, Bagaimana Mengembalikan Rasa Aman?
Setelah Gempa Berlalu, Bagaimana Mengembalikan Rasa Aman?
Kata Netizen
Seharian di Cipete dan Sekitarnya
Seharian di Cipete dan Sekitarnya
Kata Netizen
Belajar Ketahanan Pangan dari Hutan Kota di Seniman Pangan
Belajar Ketahanan Pangan dari Hutan Kota di Seniman Pangan
Kata Netizen
Dulu Maba, Kini Sarjana: Apa yang Berubah dari Cara Berpikir?
Dulu Maba, Kini Sarjana: Apa yang Berubah dari Cara Berpikir?
Kata Netizen
El Nino Bukan Sekadar Musim Kemarau, Ini Dampaknya bagi Kita
El Nino Bukan Sekadar Musim Kemarau, Ini Dampaknya bagi Kita
Kata Netizen
Membawa Kincung, Sedikit Bagian dari Kampung Halaman
Membawa Kincung, Sedikit Bagian dari Kampung Halaman
Kata Netizen
(Tidak) Semua Pertemanan Mesti Bertahan Selamanya
(Tidak) Semua Pertemanan Mesti Bertahan Selamanya
Kata Netizen
Yang Tertinggal Setelah Seorang Dosen Pergi
Yang Tertinggal Setelah Seorang Dosen Pergi
Kata Netizen
Menanam Nangka di Pekarangan, Menikmati Buahnya, Merasakan Hematnya
Menanam Nangka di Pekarangan, Menikmati Buahnya, Merasakan Hematnya
Kata Netizen
Sejuknya Hutan, Hangatnya Cerita tentang Petani Kopi
Sejuknya Hutan, Hangatnya Cerita tentang Petani Kopi
Kata Netizen
Kemerdekaan yang Belum Selesai, Korupsi Menggerogoti Hak Rakyat
Kemerdekaan yang Belum Selesai, Korupsi Menggerogoti Hak Rakyat
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Terpopuler
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau