
Tradisi yang Tetap Terjaga
Warung ini dirintis oleh Pak Tikmanan pada 1967, kemudian diteruskan oleh putranya, Kusnan.
Keluarga ini memilih mempertahankan resep yang diwariskan secara turun-temurun di tengah derasnya perubahan dunia kuliner.
Mereka tidak menutup diri terhadap inovasi, tetapi pada saat yang sama memilih mempertahankan rasa dan kekhasan yang sudah menjadi bagian dari warung tersebut.
Sembari menunggu pesanan datang, perhatian saya tertuju pada potongan lontong.
Ukurannya cukup besar dengan tekstur yang padat, tetapi tetap lembut.
Saya mengamati dan kemudian mengetahui bahwa lontong tersebut dibuat menggunakan anyaman daun kelapa dan digantung seperti ketupat berukuran raksasa. Satu lontong bahkan dapat dipotong menjadi sekitar tiga puluh porsi.
Tradisi itu masih dipertahankan hingga sekarang. Di tengah zaman ketika banyak proses memasak dibuat semakin praktis dan serba instan, melihat cara lama yang masih dijalankan menghadirkan ketenangan tersendiri.
Ada sesuatu yang terasa akrab ketika sebuah proses yang sudah dilakukan selama bertahun-tahun tetap dipertahankan. Saya kemudian menambahkan satu potong mendol goreng dan dua kerupuk rakyat ke atas piring.
Mendol menjadi pasangan yang tidak terpisahkan dari orem-orem. Bagian luarnya renyah, sementara bagian dalamnya tetap lembut dengan aroma kencur yang khas.
Ketika dicelupkan ke dalam kuah santan yang hangat, gurihnya terasa semakin utuh. Di warung ini, rasanya hampir tidak ada kuah yang dibiarkan tersisa.
Jejak Kota Lama yang Tetap Hidup
Sambil menikmati sarapan, sesekali tatapan saya mengarah ke luar warung. Orang-orang masih lalu-lalang membawa barang hasil berburu dari Pasar Comboran.
Saya melihat seorang bapak setengah baya memanggul kipas angin tua. Ada anak muda yang menggenggam kamera analog. Ada pula orang-orang yang bercakap akrab dengan penjual onderdil kendaraan.
Saya termenung sejenak, kemudian tersenyum sendiri. Pemandangan itu membuat saya berpikir bahwa Pasar Comboran dan Orem-orem Pak Tik ternyata memiliki kesamaan.
Pasar ini menjaga benda-benda lama agar tetap menemukan pemiliknya, sementara Orem-orem Pak Tik menjaga rasa lama agar tetap menemukan penikmatnya.
Keduanya sama-sama merawat jejak Kota Malang. Warung orem-orem ini masih terus menjaga keberadaannya dengan cara yang sederhana, di tengah kafe-kafe modern dan makanan baru yang silih berganti menjadi tren.
Jika diperhatikan, warung orem-orem memang banyak bermunculan dan tersebar di berbagai sudut Kota Malang. Namun, masing-masing tentu memiliki cerita dan pelanggan yang membuatnya tetap bertahan.
Warung ini tidak menawarkan beragam menu. Tidak pula mengejar tampilan yang ramai di media sosial.