
Cukup satu hidangan yang dimasak dengan sepenuh hati setiap pagi. Dan mungkin, justru kesederhanaan itulah yang membuat orang terus kembali.
Tidak sedikit pelanggan yang datang sejak puluhan tahun lalu ketika masih bekerja di sekitar Comboran, kemudian kembali lagi setelah bertahun-tahun berlalu. Sebagian bahkan mengajak anak dan cucunya menikmati rasa yang sama.
Dari sana kita dapat melihat bagaimana kuliner legendaris bekerja.
Ia bukan sekadar makanan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya, tetapi juga kenangan yang ikut berpindah bersama orang-orang yang menikmatinya.
Warisan yang Perlu Dirawat
Usai memanjakan mata, perut, dan kenangan, saya kembali menyusuri lorong-lorong Pasar Comboran.
Ada perasaan ringan ketika melangkah keluar dari kawasan pasar. Namun, kali ini saya membawa sesuatu yang lebih dari sekadar pengalaman menikmati sepiring orem-orem.
Saya membawa kembali kenangan bersama bapak yang dahulu sering mengajak saya ke pasar loak besar ini.
Di perjalanan, saya kembali memikirkan apa yang baru saja saya alami. Saya semakin memahami bahwa sebuah kota tidak hanya dibangun oleh gedung-gedung besar, jalan raya, pusat perbelanjaan, atau tempat-tempat yang menjadi tujuan wisata.
Sebuah kota juga dibangun oleh warung-warung kecil yang setia membuka pintunya setiap pagi, oleh resep yang diwariskan dengan penuh kesabaran, dan oleh orang-orang yang memilih mempertahankan rasa di tengah perubahan zaman.
Selama hampir enam puluh tahun, warung sederhana ini ikut menjaga jejak Kota Lama Malang tetap hidup. Bukan melalui sesuatu yang megah, melainkan melalui aroma, rasa, dan kenangan yang terus menemukan penikmatnya.
Mungkin itulah alasan makanan tradisional selalu memiliki tempat khusus dalam ingatan.
Kita tidak hanya mengingat rasanya. Kita mengingat siapa yang pernah mengajak kita menikmatinya, di mana kita pernah menyantapnya, dan bagaimana suasana sebuah kota ketika makanan itu pertama kali kita kenal.
Selama masih ada orang yang bersedia duduk di warung sederhana itu sambil menikmati kuah santan yang gurih, jejak-jejak kota ini akan terus dikenang.
Melalui sepiring orem-orem yang tak pernah kehilangan rasanya.
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Sepiring Orem-orem yang Menjaga Jejak Kota Lama Sejak 1967"
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.