
Bagaimana sebuah sepiring makanan sederhana dapat membawa kita berjalan menyusuri ingatan, bertemu dengan wajah kota yang lama, sekaligus merasakan kembali jejak yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya?
Tidak ada kota yang terlalu besar bagi seseorang untuk ditinggalkan dengan berjalan kaki di pagi hari.— Cyril Connolly, penulis, editor, dan kritikus
Hari Minggu, apalagi pagi hari, selalu menjadi waktu yang menyenangkan untuk menyusuri sudut-sudut lama Kota Malang.
Ada suasana yang berbeda ketika sebuah kota dijelajahi dengan berjalan kaki. Kita punya kesempatan untuk memperhatikan hal-hal kecil yang mungkin terlewat ketika melintas dengan kendaraan.
Bangunan lama, aktivitas pasar, orang-orang yang mulai membuka lapak, hingga aroma makanan dari warung sederhana seolah menjadi bagian dari cerita yang hanya bisa ditemukan ketika kita berjalan lebih perlahan.
Pagi itu, saya menuju Pasar Comboran, pasar loak legendaris yang sudah puluhan tahun menjadi tempat bertemunya barang-barang lama dengan pemilik barunya.
Sengaja saya melangkah perlahan, menikmati tumpukan onderdil kendaraan, radio lawas, piring antik, mesin tik, hingga buku-buku yang mulai menguning dimakan usia.
Benda-benda yang dianggap usang ini ternyata masih belum kehilangan nilainya.
Bagi saya pribadi, Comboran semakin terasa seperti sebuah ruang yang menyimpan potongan-potongan sejarah Kota Malang. Barang-barang lama yang berpindah tangan seolah membawa cerita dari pemilik sebelumnya kepada orang yang menemukannya kembali.
Langkah saya kemudian terhenti. Mata dan perut saya seperti sudah bersekutu. Mata tertuju pada sebuah warung legendaris yang setia menjaga keberadaannya di kawasan Pasar Comboran dari masa ke masa. Seperti tersihir, perut saya pun mulai berdendang. Ternyata saya lapar.
Hampir Enam Dekade Menjaga Rasa
Warung orem-orem ini berdiri sejak 1967 dan menjadi salah satu kuliner legendaris yang ikut tumbuh bersama Kota Malang. Aroma santannya yang gurih bercampur rempah langsung menyambut begitu saya mendekati gerobaknya.
Meja-meja di dalam warung sudah dipenuhi pelanggan. Percakapan antara pemilik dan pelanggan mengalir dengan hangat, menghadirkan suasana yang akrab.
Jujur saja, sudah lama sekali saya tidak menikmati orem-orem Pak Tik.
Sejak pandemi, saya sudah sangat jarang datang. Pagi itu, mata, perut, dan perasaan saya seperti kembali bersekutu untuk menikmati hidangan khas yang rasanya mampu menghadirkan kembali rasa rindu.
Saya memilih duduk tepat di depan gerobak. Lontong kupat diiris-iris, kemudian diberi taoge segar dan bawang merah goreng. Setelah itu, semuanya disiram kuah tempe berwarna kuning kecokelatan. Asapnya mengepul perlahan, sementara aroma gurihnya segera memenuhi udara di sekitar warung.
Hidung saya kembang-kempis. Senang. Orem-orem memang merupakan hidangan sederhana. Namun, bagi masyarakat Malang, makanan ini telah menjadi bagian dari identitas kuliner kota.
Dalam sepiring orem-orem Pak Tik, tersimpan resep yang terus dijaga keluarganya selama hampir enam dekade.
Barangkali di situlah menariknya makanan tradisional. Ia tidak selalu membutuhkan tampilan yang rumit untuk menjadi istimewa. Kadang-kadang, yang membuat sebuah makanan terus dicari justru adalah rasa yang tidak banyak berubah dari waktu ke waktu.
Tradisi yang Tetap Terjaga
Warung ini dirintis oleh Pak Tikmanan pada 1967, kemudian diteruskan oleh putranya, Kusnan.
Keluarga ini memilih mempertahankan resep yang diwariskan secara turun-temurun di tengah derasnya perubahan dunia kuliner.
Mereka tidak menutup diri terhadap inovasi, tetapi pada saat yang sama memilih mempertahankan rasa dan kekhasan yang sudah menjadi bagian dari warung tersebut.
Sembari menunggu pesanan datang, perhatian saya tertuju pada potongan lontong.
Ukurannya cukup besar dengan tekstur yang padat, tetapi tetap lembut.
Saya mengamati dan kemudian mengetahui bahwa lontong tersebut dibuat menggunakan anyaman daun kelapa dan digantung seperti ketupat berukuran raksasa. Satu lontong bahkan dapat dipotong menjadi sekitar tiga puluh porsi.
Tradisi itu masih dipertahankan hingga sekarang. Di tengah zaman ketika banyak proses memasak dibuat semakin praktis dan serba instan, melihat cara lama yang masih dijalankan menghadirkan ketenangan tersendiri.
Ada sesuatu yang terasa akrab ketika sebuah proses yang sudah dilakukan selama bertahun-tahun tetap dipertahankan. Saya kemudian menambahkan satu potong mendol goreng dan dua kerupuk rakyat ke atas piring.
Mendol menjadi pasangan yang tidak terpisahkan dari orem-orem. Bagian luarnya renyah, sementara bagian dalamnya tetap lembut dengan aroma kencur yang khas.
Ketika dicelupkan ke dalam kuah santan yang hangat, gurihnya terasa semakin utuh. Di warung ini, rasanya hampir tidak ada kuah yang dibiarkan tersisa.
Jejak Kota Lama yang Tetap Hidup
Sambil menikmati sarapan, sesekali tatapan saya mengarah ke luar warung. Orang-orang masih lalu-lalang membawa barang hasil berburu dari Pasar Comboran.
Saya melihat seorang bapak setengah baya memanggul kipas angin tua. Ada anak muda yang menggenggam kamera analog. Ada pula orang-orang yang bercakap akrab dengan penjual onderdil kendaraan.
Saya termenung sejenak, kemudian tersenyum sendiri. Pemandangan itu membuat saya berpikir bahwa Pasar Comboran dan Orem-orem Pak Tik ternyata memiliki kesamaan.
Pasar ini menjaga benda-benda lama agar tetap menemukan pemiliknya, sementara Orem-orem Pak Tik menjaga rasa lama agar tetap menemukan penikmatnya.
Keduanya sama-sama merawat jejak Kota Malang. Warung orem-orem ini masih terus menjaga keberadaannya dengan cara yang sederhana, di tengah kafe-kafe modern dan makanan baru yang silih berganti menjadi tren.
Jika diperhatikan, warung orem-orem memang banyak bermunculan dan tersebar di berbagai sudut Kota Malang. Namun, masing-masing tentu memiliki cerita dan pelanggan yang membuatnya tetap bertahan.
Warung ini tidak menawarkan beragam menu. Tidak pula mengejar tampilan yang ramai di media sosial.
Cukup satu hidangan yang dimasak dengan sepenuh hati setiap pagi. Dan mungkin, justru kesederhanaan itulah yang membuat orang terus kembali.
Tidak sedikit pelanggan yang datang sejak puluhan tahun lalu ketika masih bekerja di sekitar Comboran, kemudian kembali lagi setelah bertahun-tahun berlalu. Sebagian bahkan mengajak anak dan cucunya menikmati rasa yang sama.
Dari sana kita dapat melihat bagaimana kuliner legendaris bekerja.
Ia bukan sekadar makanan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya, tetapi juga kenangan yang ikut berpindah bersama orang-orang yang menikmatinya.
Warisan yang Perlu Dirawat
Usai memanjakan mata, perut, dan kenangan, saya kembali menyusuri lorong-lorong Pasar Comboran.
Ada perasaan ringan ketika melangkah keluar dari kawasan pasar. Namun, kali ini saya membawa sesuatu yang lebih dari sekadar pengalaman menikmati sepiring orem-orem.
Saya membawa kembali kenangan bersama bapak yang dahulu sering mengajak saya ke pasar loak besar ini.
Di perjalanan, saya kembali memikirkan apa yang baru saja saya alami. Saya semakin memahami bahwa sebuah kota tidak hanya dibangun oleh gedung-gedung besar, jalan raya, pusat perbelanjaan, atau tempat-tempat yang menjadi tujuan wisata.
Sebuah kota juga dibangun oleh warung-warung kecil yang setia membuka pintunya setiap pagi, oleh resep yang diwariskan dengan penuh kesabaran, dan oleh orang-orang yang memilih mempertahankan rasa di tengah perubahan zaman.
Selama hampir enam puluh tahun, warung sederhana ini ikut menjaga jejak Kota Lama Malang tetap hidup. Bukan melalui sesuatu yang megah, melainkan melalui aroma, rasa, dan kenangan yang terus menemukan penikmatnya.
Mungkin itulah alasan makanan tradisional selalu memiliki tempat khusus dalam ingatan.
Kita tidak hanya mengingat rasanya. Kita mengingat siapa yang pernah mengajak kita menikmatinya, di mana kita pernah menyantapnya, dan bagaimana suasana sebuah kota ketika makanan itu pertama kali kita kenal.
Selama masih ada orang yang bersedia duduk di warung sederhana itu sambil menikmati kuah santan yang gurih, jejak-jejak kota ini akan terus dikenang.
Melalui sepiring orem-orem yang tak pernah kehilangan rasanya.
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Sepiring Orem-orem yang Menjaga Jejak Kota Lama Sejak 1967"
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.