Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Diantika IE
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Diantika IE adalah seorang yang berprofesi sebagai Penulis. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Beluntas, Tanaman Pagar yang Memiliki Banyak Khasiat

Kompas.com, 19 Agustus 2026, 16:50 WIB

Kalau melihat tanaman beluntas, ingatan saya selalu kembali ke masa SMA. Dulu, sepulang sekolah di Ciamis, saya sering naik bus jurusan Tasikmalaya–Cirebon. Ada satu pengalaman sederhana yang sampai sekarang masih saya ingat.

“Mah, tahu nggak, tadi pas Teteh naik bus, keneknya bau badan. Berdiri dekat waktu nagih ongkos. Rasanya sampai enek.” Mamah hanya tertawa mendengar cerita saya.

“Suruh makan daun beluntas.”

Saya yang masih remaja tentu saja heran. “Memangnya bisa?”

“Bisa, buat bau badan, bau mulut, juga bagus untuk kesehatan kewanitaan,” jawab Mamah.

Jawaban sederhana itu justru membuat saya penasaran. Setelah percakapan tersebut, saya mulai mencoba daun beluntas sebagai lalapan. Sesekali, saya juga merebusnya untuk diminum, seperti yang diajarkan Mamah.

Kini, setiap melihat tanaman beluntas, ingatan saya selalu kembali kepada Mamah yang telah berpulang. Beliau bersama Ayah adalah dua orang yang mengenalkan saya pada banyak hal tentang tanaman dan pengobatan alami.

Ayah senang membaca buku tentang tanaman obat dan sering kali tahu kegunaan berbagai tumbuhan yang ada di sekitar rumah. Sementara Mamah memiliki prinsip hidup sehat dengan memanfaatkan apa yang tersedia di alam.

Bagi beliau, halaman rumah bukan sekadar tempat untuk menanam bunga, tetapi juga dapat menjadi sumber makanan dan bahan yang dimanfaatkan untuk menjaga kesehatan keluarga. Mungkin karena itulah saya tumbuh menjadi orang yang senang mengeksplorasi berbagai tanaman dan mencoba mengenali manfaatnya.

Beluntas, Tanaman Pagar Favorit Orang Zaman Dulu

Kalau sekarang banyak orang menggunakan pagar besi atau tembok sebagai pembatas rumah, dahulu cukup banyak rumah di kampung yang memanfaatkan tanaman sebagai pagar hidup. Salah satunya adalah beluntas.

Tanaman ini relatif mudah tumbuh dan tidak memerlukan perawatan yang rumit. Selain dapat berfungsi sebagai pembatas pekarangan, daunnya juga biasa dimanfaatkan sebagai lalapan maupun bahan ramuan tradisional.

Cara menanamnya pun cukup sederhana. Batang yang sudah cukup kuat dapat ditancapkan ke tanah dan kemudian dibiarkan tumbuh.

Menurut saya, orang-orang dahulu memiliki cara yang menarik dalam memanfaatkan apa yang tersedia di alam. Tanaman yang ditanam di sekitar rumah tidak hanya berfungsi untuk memperindah halaman, tetapi juga memiliki kegunaan lain bagi kehidupan sehari-hari.

Mengenali Tanaman Beluntas

Beluntas atau Pluchea indica, yang dalam bahasan Sunda dikenal sebagai waluntas, termasuk tanaman perdu yang cukup mudah dikenali.

Tingginya dapat mencapai sekitar 1–2 meter. Batangnya berkayu dan memiliki banyak cabang. Daunnya berbentuk menyerupai telur terbalik dengan ujung meruncing dan tepi bergerigi. Permukaan batang maupun daun memiliki bulu-bulu halus.

Salah satu ciri yang cukup mudah dikenali adalah aromanya. Ketika daun beluntas diremas, akan muncul aroma khas yang cukup kuat.

Tanaman ini juga memiliki bunga berukuran kecil dengan warna ungu muda hingga merah muda. Bunga biasanya muncul di ujung ranting atau ketiak daun.

Dengan pertumbuhannya yang cukup rapat, tidak mengherankan jika beluntas sejak dahulu kerap dimanfaatkan sebagai tanaman pagar hidup.

Manfaat Daun Beluntas

Apa yang dulu disampaikan Mamah kepada saya ternyata sejalan dengan pemanfaatan beluntas sebagai tanaman yang telah lama dikenal dalam pengobatan tradisional.

Daun beluntas diketahui mengandung sejumlah senyawa, antara lain minyak atsiri, flavonoid, tanin, dan senyawa antioksidan. Kandungan tersebut membuat beluntas banyak diteliti dan dikaitkan dengan berbagai manfaat bagi kesehatan.

Namun, penting pula untuk menempatkan manfaat tanaman herbal secara proporsional. Pengalaman penggunaan secara tradisional maupun hasil penelitian awal tidak serta-merta menjadikan beluntas sebagai pengganti pengobatan medis.

Beberapa manfaat yang sering dikaitkan dengan daun beluntas antara lain:

1. Membantu Mengurangi Bau Badan

Beluntas dikenal sebagai salah satu tanaman yang secara tradisional dimanfaatkan untuk membantu mengurangi bau badan dan bau mulut.

Kandungan minyak atsirinya diduga memiliki kemampuan menghambat pertumbuhan bakteri tertentu yang dapat berkontribusi terhadap munculnya aroma tidak sedap.

Pengalaman inilah yang pertama kali saya dengar dari Mamah ketika masih duduk di bangku SMA.

2. Berkaitan dengan Kesehatan Kewanitaan

Sejak dahulu, daun beluntas juga dimanfaatkan sebagai bagian dari ramuan tradisional untuk membantu menjaga kebersihan dan kesehatan kewanitaan.

Sifat antiseptiknya dipercaya dapat membantu menghambat pertumbuhan mikroorganisme tertentu. Meski demikian, jika terdapat keluhan pada organ kewanitaan yang berlangsung terus-menerus atau menimbulkan gejala tertentu, pemeriksaan kepada tenaga kesehatan tetap menjadi pilihan yang lebih tepat.

3. Membantu Menjaga Kesehatan Pencernaan

Daun beluntas juga kerap digunakan secara tradisional untuk membantu mengatasi perut kembung, melancarkan buang air besar, serta meredakan gangguan pencernaan ringan.

Pemanfaatan seperti ini menunjukkan bagaimana masyarakat dahulu mengenali kegunaan tanaman yang tumbuh di sekitar rumah dan menjadikannya bagian dari kehidupan sehari-hari.

4. Berpotensi Membantu Menjaga Kadar Gula dan Kolesterol

Sejumlah penelitian awal menunjukkan bahwa kandungan antioksidan dalam daun beluntas memiliki potensi dalam membantu menjaga kadar gula darah dan kolesterol.

Namun, manfaat tersebut masih memerlukan penelitian lebih lanjut. Karena itu, beluntas tidak sebaiknya diposisikan sebagai pengganti obat atau terapi yang telah diberikan dokter, terutama bagi orang yang memiliki kondisi kesehatan tertentu.

5. Membantu Meredakan Peradangan

Beluntas juga dikenal memiliki sifat antiinflamasi. Dalam pemanfaatan tradisional, tanaman ini antara lain dikaitkan dengan upaya membantu meredakan pegal, nyeri sendi, maupun keluhan rematik ringan.

Sekali lagi, pengalaman setiap orang dapat berbeda. Pemanfaatan tanaman herbal sebaiknya dilakukan secara bijak dan tetap mempertimbangkan kondisi kesehatan masing-masing.

Mencoba Rebusan Daun Beluntas

Saya sendiri beberapa kali mencoba meminum rebusan daun beluntas. Rasanya memang memiliki aroma khas yang cukup kuat sehingga mungkin tidak semua orang langsung menyukainya.

Namun, bagi saya, rebusan daun beluntas cukup nyaman diminum. Dari pengalaman pribadi, saya merasa minuman tersebut membantu menjaga kesehatan tubuh, terutama berkaitan dengan kesehatan kewanitaan.

Tentu saja, pengalaman tersebut merupakan pengalaman pribadi dan belum tentu memberikan hasil yang sama bagi setiap orang.

Karena itu, saya melihat tanaman herbal seperti beluntas lebih tepat ditempatkan sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan dan melengkapi pola hidup sehat, bukan sebagai pengganti pemeriksaan maupun pengobatan medis.

Beluntas yang Menyimpan Banyak Kenangan

Beluntas mungkin hanya terlihat sebagai tanaman pagar biasa. Banyak orang bahkan bisa saja melewatinya setiap hari tanpa pernah menyadari keberadaannya.

Namun, bagi saya, beluntas menyimpan cerita yang jauh lebih panjang.

Ada kebiasaan hidup sehat yang diwariskan orang tua. Ada pengetahuan tentang tanaman yang dahulu begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ada pula kenangan tentang Mamah yang mengenalkan saya pada berbagai cara sederhana untuk memanfaatkan apa yang tumbuh di sekitar rumah.

Dari beluntas, saya kembali diingatkan bahwa pengetahuan tentang alam sering kali tidak datang dalam bentuk yang rumit. Kadang ia hadir lewat percakapan sederhana antara seorang ibu dan anaknya.

“Suruh makan daun beluntas.” Kalimat yang dahulu terdengar seperti nasihat biasa itu, bertahun-tahun kemudian, justru menjadi salah satu kenangan yang saya simpan.

Menurut saya, hal paling berharga dari beluntas bukan semata-mata soal khasiatnya. Lebih dari itu, tanaman ini mengajarkan kita untuk kembali memperhatikan apa yang tumbuh di sekitar rumah.

Di tengah kehidupan yang semakin modern, kita mungkin sudah terbiasa membeli berbagai kebutuhan kesehatan dalam kemasan. Tidak ada yang salah dengan hal tersebut. Namun, sesekali menarik juga untuk menengok kembali tanaman yang dahulu tumbuh di pekarangan dan menjadi bagian dari kehidupan keluarga.

Mungkin sudah waktunya kita kembali menanam tanaman-tanaman yang dulu akrab dengan kehidupan orang tua dan kakek-nenek kita.

Bukan hanya agar tanaman tersebut tetap lestari, tetapi juga supaya pengetahuan dan cerita yang menyertainya tidak ikut hilang.

Sebab, di balik sebatang beluntas yang tumbuh sederhana di pagar rumah, bisa saja tersimpan sebuah warisan: tentang alam, kesehatan, keluarga, dan kenangan yang terus hidup dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Beluntas, Tanaman Pagar yang Memiliki Banyak Khasiat"

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.


Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Danau Singkarak, Lebih dari Sekadar Pemandangan Indah
Danau Singkarak, Lebih dari Sekadar Pemandangan Indah
Kata Netizen
Perempuan dan Masa Depan Investasi di Pasar Modal
Perempuan dan Masa Depan Investasi di Pasar Modal
Kata Netizen
Anak Belajar Mengenal Tradisi Daerah lewat Karnaval Budaya
Anak Belajar Mengenal Tradisi Daerah lewat Karnaval Budaya
Kata Netizen
Sekolah dan Kuliah Gratis, Apakah Kesempatan Belajar Jadi Setara?
Sekolah dan Kuliah Gratis, Apakah Kesempatan Belajar Jadi Setara?
Kata Netizen
Cerita Musim Kemarau di NTT, dari Pohon Lontar ke Gula Lempeng
Cerita Musim Kemarau di NTT, dari Pohon Lontar ke Gula Lempeng
Kata Netizen
Mengenal TB Lebih Dekat, dari Penularan hingga Pencegahannya
Mengenal TB Lebih Dekat, dari Penularan hingga Pencegahannya
Kata Netizen
Ketemu Vitamin A-syik saat Jogging Malam di Manahan
Ketemu Vitamin A-syik saat Jogging Malam di Manahan
Kata Netizen
Menjadi Guru Tak Cukup Hanya dengan Keikhlasan
Menjadi Guru Tak Cukup Hanya dengan Keikhlasan
Kata Netizen
Anggrek Membawa Saya Kembali kepada Kuntowijoyo
Anggrek Membawa Saya Kembali kepada Kuntowijoyo
Kata Netizen
Mindfulness Bukan Sekadar Menjauh dari Kabar Buruk
Mindfulness Bukan Sekadar Menjauh dari Kabar Buruk
Kata Netizen
Menyusuri Jejak Sejarah Kali Pepe di Tengah Kota Solo
Menyusuri Jejak Sejarah Kali Pepe di Tengah Kota Solo
Kata Netizen
Karhutla Mapongka Mendekati Bandara dan Sekolah Rakyat
Karhutla Mapongka Mendekati Bandara dan Sekolah Rakyat
Kata Netizen
Kesendirian Tak Lagi Menjadi Sesuatu yang Menakutkan
Kesendirian Tak Lagi Menjadi Sesuatu yang Menakutkan
Kata Netizen
Brokoli Kuning dan Cara Sederhana Membuat Taman Lebih Hidup
Brokoli Kuning dan Cara Sederhana Membuat Taman Lebih Hidup
Kata Netizen
Keluarga Stucky, di Balik Awal Pendidikan Perempuan di Malang
Keluarga Stucky, di Balik Awal Pendidikan Perempuan di Malang
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Terpopuler
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau