
Abai terhadap Cash Leak yang Dianggap Remeh
Karena merasa aman, saya sempat selama setahun tidak terlalu memedulikan pengeluaran-pengeluaran kecil.
Contohnya biaya langganan aplikasi streaming yang terintegrasi dengan YouTube, biaya ongkos kirim saat belanja di toko oranye, atau top up untuk membeli makanan yang saya anggap, "segitu doang, kok."
Pada akhirnya, saya justru kaget sendiri karena jumlahnya ternyata cukup banyak.
Solusinya, saya mengunduh riwayat spending yang biasanya disediakan aplikasi hijau pada akhir tahun. Dari sana, saya mengakumulasi pengeluaran mana yang paling banyak menggerus keuangan, di luar transportasi karena itu merupakan kebutuhan vital.
Untuk belanja daring, saya juga melakukan capture dan membiasakan diri melakukan sekali checkout untuk dua atau tiga transaksi sekaligus guna menghemat biaya berulang dalam aplikasi.
Merasa Sudah Disiplin
Setiap manusia pasti memiliki rasa percaya diri yang berlebihan, dan saya tidak menampik hal itu. Ketika sering mengikuti berbagai seminar dan mendengarkan podcast tentang keuangan, muncul perasaan, "Aku selama ini sudah disiplin, lho."
Akibatnya, saya tidak lagi mencatat keuangan terlalu detail. Bahkan, selama beberapa bulan saya memilih mengandalkan feeling. "Bulan lalu rasanya tidak terlalu banyak, kok, jajannya."
Rasa overconfidence pun muncul. Sudah banyak perencana keuangan yang mengatakan bahwa semakin besar income, semakin besar pula potensi kebocoran yang sengaja maupun tidak sengaja tidak terlihat.
Melihat Nominal, Bukan Rasio
Metode pengelolaan gaji yang pertama saya kenal adalah metode 50:30:20 yang cukup populer. Sebanyak 50 persen digunakan untuk kebutuhan hidup, 30 persen untuk keinginan, dan sisanya 20 persen ditabung atau diinvestasikan.
Namun, ketika melakukan evaluasi, yang sering kali saya perhatikan hanya angka. Padahal, rasio juga penting.
Sudahkah saving rate mencapai 20 persen dari gaji? Apakah needs ratio, misalnya belanja pakaian dengan dalih self reward, sudah melebihi 30 persen yang disarankan?
Apakah cicilan KPR masih berada di bawah ambang maksimal 30–35 persen? Bagaimana dengan dana darurat?