
Pada awalnya, berbagai rasio tersebut memang terlihat memusingkan. Namun, angka-angka itu dapat menjadi salah satu patokan untuk melihat kesehatan finansial seseorang.
Mengesampingkan Faktor Psikologis
Setiap manusia memiliki suasana hati tertentu yang dapat memengaruhi pengeluaran.
Melansir ResearchGate, riset psikologi konsumen menunjukkan bahwa suasana hati (mood) yang buruk maupun sangat senang dapat memicu hingga 85 persen pengeluaran impulsif pada pembeli ritel modern.
Variabel emosi ini berkontribusi sekitar 5,2 persen hingga 32,5 persen secara langsung dalam model regresi psikologi belanja, sementara sisanya dipengaruhi faktor luar seperti Fear of Missing Out (FoMO) atau diskon.
Emosi gembira dapat menurunkan kontrol diri sehingga seseorang lebih bersemangat mencari reward. Sementara itu, stres atau rasa bosan dapat mendorong seseorang berbelanja sebagai pelarian emosional (retail therapy) untuk mendapatkan rasa senang secara instan.
Saya pun mengalaminya. Ketika stres melanda, saya justru lebih sering membeli kopi gula aren.
Terpaku pada Standar Orang Lain, Ujungnya Membandingkan
Terakhir, dan mungkin pernah dilakukan banyak orang, adalah terpaku pada standar orang lain hingga akhirnya membandingkan diri sendiri.
Sebagai seseorang yang suka bepergian, saya tentu bertemu dengan berbagai macam orang. Obrolan pun bergulir hingga akhirnya muncul semacam "kubu": mulai dari pejalan pemula, medium traveler, sampai The Expert—mereka yang secara finansial cukup mumpuni sehingga bisa bepergian ke berbagai tempat tanpa terlalu banyak berpikir panjang.
Awalnya saya merasa senang. Namun, saya sempat juga merasa minder.
"Asyik, ya, dia bisa jalan ke banyak tempat. Gue baru begini doang, kok uang masih segini?"
Sementara itu, orang lain justru melihat saya dan berkata, "Wih, Mba Erin hebat, lho, sudah sering ke luar kota."
Ajang membandingkan diri seolah tidak pernah selesai. Evaluasi keuangan adalah refleksi jujur tentang bagaimana seseorang memperlakukan uangnya.
Kalau kita terus comparing dengan teman yang penghasilannya sudah dua digit, memiliki side hustle yang lebih menjanjikan daripada pekerjaan kantoran, atau melihat teman yang sudah bertahun-tahun merintis bisnis, bisa ditebak: cermin akan terus terasa berjalan di tempat.
Kita terlalu sibuk berlari di trek orang lain. Benang merahnya, evaluasi keuangan bukan tentang "menilai masa lalu", tetapi tentang bagaimana "mendesain masa depan".
Kalau setelah evaluasi tidak ada perubahan aturan, sistem, dan batasan baru, bahkan kita justru sibuk melihat rumput tetangga, itu bukan lagi evaluasi. Itu hanya refleksi tanpa dampak berarti.
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Kesalahan Evaluasi Keuangan yang Bikin Finansial Justru Rapuh"
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.