
Sudah rutin mengecek keuangan dan merasa disiplin menabung, tetapi mengapa uang tetap terasa kurang? Apa yang perlu dievaluasi bukan hanya jumlah saldo, melainkan juga cara kita memperlakukan uang setiap bulan?
Review keuangan rasanya sudah benar, tabungan juga disiplin. Namun, mengapa uang masih terasa kurang terus? Adakah Kompasianer yang kerap merasa demikian?
Saya pernah mengalaminya. Sampai kemudian saya menemukan kutipan dari Budi Raharjo, perencana keuangan dan Direktur OneShildt Personal Financial Planning. Ia mengatakan, anak muda yang baru bekerja kerap terjebak dalam pemikiran jangka pendek.
"Umumnya, anak muda tidak punya perencanaan keuangan yang matang karena hanya berpikir jangka pendek. Padahal mereka akan memasuki fase kehidupan jangka panjang," ujarnya, mengutip laman Chubb.
Ini adalah kesalahan pertama yang pernah saya lakukan. Pikiran pendek yang muncul ketika saya baru merasakan kenaikan gaji.
Padahal, evaluasi keuangan bukan sekadar perkara mengecek saldo. Yang lebih penting adalah bagaimana kita menganalisis ke mana uang tersebut "bekerja" selama sebulan.
Evaluasi keuangan ibarat menelaah secara kritis seperti apa kebiasaan kita mengeluarkan uang, bukan hanya melihat angkanya.
Semua Pengeluaran Dianggap Sama
Padahal, ada dua jenis pengeluaran: habit expense dan one-time expense.
Habit expense merupakan spending habit, yakni perilaku berulang ketika seseorang membelanjakan uang, baik secara sadar maupun otomatis. Pengeluaran ini termasuk rutinitas kecil seperti membeli kopi, jajan secara daring, atau membayar biaya langganan streaming film.
Sebaliknya, one-time expense adalah pengeluaran yang terjadi satu kali dan tidak berulang secara rutin. Pengeluaran ini biasanya muncul karena kejadian khusus atau insidental di luar aktivitas operasional normal.
Contohnya, membayar pajak yang hanya dilakukan satu kali dalam setahun. Dampaknya, saya sempat merasa boros terus karena saat itu belum memiliki tabungan tahunan untuk mengantisipasi pengeluaran semacam ini.
Terlalu Terlena hingga Jarang Mengevaluasi
Saat siang itu saya mendapat surel tentang kenaikan gaji, euforia tentu sangat terasa. Dampaknya, saya tidak lagi disiplin mengevaluasi keuangan. Alasannya sederhana: sudah merasa aman karena saldo tampak semakin besar setiap bulan.
Evaluasi baru dilakukan ketika situasi sudah "mepet". Pengecekan keuangan setidaknya perlu dilakukan setiap akhir bulan atau setiap tiga bulan. Dengan begitu, kita bisa mengetahui apakah ada "kebocoran keuangan" yang perlu diperbaiki.
Abai terhadap Cash Leak yang Dianggap Remeh
Karena merasa aman, saya sempat selama setahun tidak terlalu memedulikan pengeluaran-pengeluaran kecil.
Contohnya biaya langganan aplikasi streaming yang terintegrasi dengan YouTube, biaya ongkos kirim saat belanja di toko oranye, atau top up untuk membeli makanan yang saya anggap, "segitu doang, kok."
Pada akhirnya, saya justru kaget sendiri karena jumlahnya ternyata cukup banyak.
Solusinya, saya mengunduh riwayat spending yang biasanya disediakan aplikasi hijau pada akhir tahun. Dari sana, saya mengakumulasi pengeluaran mana yang paling banyak menggerus keuangan, di luar transportasi karena itu merupakan kebutuhan vital.
Untuk belanja daring, saya juga melakukan capture dan membiasakan diri melakukan sekali checkout untuk dua atau tiga transaksi sekaligus guna menghemat biaya berulang dalam aplikasi.
Merasa Sudah Disiplin
Setiap manusia pasti memiliki rasa percaya diri yang berlebihan, dan saya tidak menampik hal itu. Ketika sering mengikuti berbagai seminar dan mendengarkan podcast tentang keuangan, muncul perasaan, "Aku selama ini sudah disiplin, lho."
Akibatnya, saya tidak lagi mencatat keuangan terlalu detail. Bahkan, selama beberapa bulan saya memilih mengandalkan feeling. "Bulan lalu rasanya tidak terlalu banyak, kok, jajannya."
Rasa overconfidence pun muncul. Sudah banyak perencana keuangan yang mengatakan bahwa semakin besar income, semakin besar pula potensi kebocoran yang sengaja maupun tidak sengaja tidak terlihat.
Melihat Nominal, Bukan Rasio
Metode pengelolaan gaji yang pertama saya kenal adalah metode 50:30:20 yang cukup populer. Sebanyak 50 persen digunakan untuk kebutuhan hidup, 30 persen untuk keinginan, dan sisanya 20 persen ditabung atau diinvestasikan.
Namun, ketika melakukan evaluasi, yang sering kali saya perhatikan hanya angka. Padahal, rasio juga penting.
Sudahkah saving rate mencapai 20 persen dari gaji? Apakah needs ratio, misalnya belanja pakaian dengan dalih self reward, sudah melebihi 30 persen yang disarankan?
Apakah cicilan KPR masih berada di bawah ambang maksimal 30–35 persen? Bagaimana dengan dana darurat?
Pada awalnya, berbagai rasio tersebut memang terlihat memusingkan. Namun, angka-angka itu dapat menjadi salah satu patokan untuk melihat kesehatan finansial seseorang.
Mengesampingkan Faktor Psikologis
Setiap manusia memiliki suasana hati tertentu yang dapat memengaruhi pengeluaran.
Melansir ResearchGate, riset psikologi konsumen menunjukkan bahwa suasana hati (mood) yang buruk maupun sangat senang dapat memicu hingga 85 persen pengeluaran impulsif pada pembeli ritel modern.
Variabel emosi ini berkontribusi sekitar 5,2 persen hingga 32,5 persen secara langsung dalam model regresi psikologi belanja, sementara sisanya dipengaruhi faktor luar seperti Fear of Missing Out (FoMO) atau diskon.
Emosi gembira dapat menurunkan kontrol diri sehingga seseorang lebih bersemangat mencari reward. Sementara itu, stres atau rasa bosan dapat mendorong seseorang berbelanja sebagai pelarian emosional (retail therapy) untuk mendapatkan rasa senang secara instan.
Saya pun mengalaminya. Ketika stres melanda, saya justru lebih sering membeli kopi gula aren.
Terpaku pada Standar Orang Lain, Ujungnya Membandingkan
Terakhir, dan mungkin pernah dilakukan banyak orang, adalah terpaku pada standar orang lain hingga akhirnya membandingkan diri sendiri.
Sebagai seseorang yang suka bepergian, saya tentu bertemu dengan berbagai macam orang. Obrolan pun bergulir hingga akhirnya muncul semacam "kubu": mulai dari pejalan pemula, medium traveler, sampai The Expert—mereka yang secara finansial cukup mumpuni sehingga bisa bepergian ke berbagai tempat tanpa terlalu banyak berpikir panjang.
Awalnya saya merasa senang. Namun, saya sempat juga merasa minder.
"Asyik, ya, dia bisa jalan ke banyak tempat. Gue baru begini doang, kok uang masih segini?"
Sementara itu, orang lain justru melihat saya dan berkata, "Wih, Mba Erin hebat, lho, sudah sering ke luar kota."
Ajang membandingkan diri seolah tidak pernah selesai. Evaluasi keuangan adalah refleksi jujur tentang bagaimana seseorang memperlakukan uangnya.
Kalau kita terus comparing dengan teman yang penghasilannya sudah dua digit, memiliki side hustle yang lebih menjanjikan daripada pekerjaan kantoran, atau melihat teman yang sudah bertahun-tahun merintis bisnis, bisa ditebak: cermin akan terus terasa berjalan di tempat.
Kita terlalu sibuk berlari di trek orang lain. Benang merahnya, evaluasi keuangan bukan tentang "menilai masa lalu", tetapi tentang bagaimana "mendesain masa depan".
Kalau setelah evaluasi tidak ada perubahan aturan, sistem, dan batasan baru, bahkan kita justru sibuk melihat rumput tetangga, itu bukan lagi evaluasi. Itu hanya refleksi tanpa dampak berarti.
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Kesalahan Evaluasi Keuangan yang Bikin Finansial Justru Rapuh"
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.