
Bukan berarti kami memiliki harta yang melimpah ruah. Akan tetapi, alhamdulillah, sejauh ini kebutuhan masih bisa diusahakan. Dan setelah melakukan cek desil, rasa syukur itu justru bertambah.
Ternyata, rasa cukup bukan hanya tentang jumlah uang yang ada di rekening. Rasa cukup juga berkaitan dengan bagaimana kita memandang apa yang sudah dimiliki.
Ada kalanya kita merasa kekurangan bukan karena kebutuhan tidak terpenuhi, tetapi karena terlalu sering melihat apa yang dimiliki orang lain.
Setelah Cek Desil, Saatnya Belajar Mengelola Keuangan
Menurut saya, ketika seseorang mengetahui dirinya bukan sasaran bantuan pemerintah berdasarkan hasil cek desil, bukan berarti kemudian boleh merasa aman dan menghabiskan uang sesuka hati.
Justru sebaliknya. Mungkin ini saatnya belajar lebih bertanggung jawab terhadap kondisi keuangan sendiri. Perencanaan keuangan menjadi penting, baik bagi orang have maupun orang haven't.
Keuangan yang sehat bukan semata-mata tentang seberapa banyak uang yang kita miliki, melainkan bagaimana kita menggunakan dan mengelolanya dengan bijak.
Perencanaan bisa dimulai dari hal sederhana. Misalnya dengan menentukan tujuan keuangan jangka pendek, menengah, dan panjang. Setelah itu, pendapatan dapat dibagi ke dalam beberapa pos sesuai kebutuhan masing-masing.
Pembagiannya tentu tidak harus selalu sama untuk setiap keluarga. Ada yang menggunakan pola 50 persen untuk kebutuhan pokok, 20 persen untuk tabungan dan investasi, serta 30 persen untuk hiburan dan keinginan.
Ada pula yang memisahkan tabungan masa depan, dana darurat, investasi, kebutuhan rutin, dan dana untuk bersenang-senang.
Tidak ada satu pola yang mutlak cocok untuk semua orang. Yang penting adalah memiliki rencana dan berusaha menjalankannya secara konsisten.
Jangan Menyimpan Sisa, tetapi Sisihkan Terlebih Dahulu
Ada satu kebiasaan yang menurut saya juga penting dalam mengatur keuangan, yaitu menyisihkan uang terlebih dahulu, bukan menyimpan sisa uang.
Sebab, kalau menunggu sisa, sering kali tidak ada yang tersisa. Kita juga perlu belajar menentukan prioritas. Mana kebutuhan dan mana keinginan?
Kalau ingin membeli sesuatu tetapi uangnya belum tersedia, tidak harus buru-buru berutang. Menabung dan membuat target bisa menjadi pilihan.
Begitu juga ketika ingin jalan-jalan, nongkrong di kafe, atau membeli barang tertentu. Kalau memang belum ada dananya, kita bisa menabung terlebih dahulu sampai uangnya cukup.
Menunda keinginan bukan berarti kita tidak mampu. Justru, kemampuan untuk menunda bisa menjadi bagian dari cara kita mengelola keuangan.
Jangan sampai hanya karena ingin terlihat sebagai orang have, kita malah memaksakan diri dengan meminjam uang ke sana kemari. Apalagi menggunakan pinjaman ilegal yang justru bisa menimbulkan persoalan baru.