
Anak kemudian dapat melihat bahwa perubahan tersebut merupakan bagian dari urutan kegiatan, bukan sesuatu yang muncul tiba-tiba.
Beri Waktu untuk Memproses
Ketika anak tidak langsung merespons instruksi Guru B, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa ia menolak.
Guru dapat memberikan instruksi, kemudian memberikan waktu untuk memproses dan merespons.
Hindari mengulang instruksi berkali-kali dengan kalimat yang semakin panjang. Jika diperlukan, gunakan bantuan visual, gestur, atau prompt sesuai strategi yang telah direncanakan.
Hal ini penting karena komunikasi yang efektif perlu disesuaikan dengan kebutuhan komunikasi masing-masing anak.
Jika Anak Tetap Menolak, Cari Tahu Apa yang Sebenarnya Terjadi
Tidak semua penolakan terhadap guru baru disebabkan oleh generalisasi. Guru perlu melihat konteksnya. Observasi menjadi penting agar intervensi tidak didasarkan pada asumsi.
Perilaku adalah informasi. Ketika anak menolak, tugas pendidik bukan hanya membuat anak berhenti menolak, tetapi mencari tahu apa yang sedang dikomunikasikan melalui perilaku tersebut.
Tujuannya Bukan Sekadar "Patuh pada Semua Guru"
Pada akhirnya, keberhasilan bukan hanya ketika anak mau mengikuti instruksi semua guru. Tujuan yang lebih besar adalah agar anak secara bertahap.
Itulah mengapa generalisasi menjadi penting dalam pendidikan anak autis.
Penelitian menunjukkan bahwa anak autis dapat menggeneralisasi keterampilan ke orang dan konteks yang berbeda, tetapi proses tersebut tidak selalu muncul secara otomatis atau konsisten.
Lingkungan pembelajaran perlu memberikan kesempatan yang cukup untuk menggunakan keterampilan dalam variasi situasi.
Guru Favorit Bukan Masalah, tetapi Bisa Menjadi Jembatan
Kedekatan anak dengan satu guru tidak selalu sesuatu yang harus dihilangkan. Justru, hubungan positif tersebut dapat menjadi modal penting untuk memperluas pengalaman belajar anak.
Guru yang sudah dipercaya anak dapat membantu mengenalkan guru baru, aktivitas baru, cara komunikasi baru, dan situasi baru secara bertahap.
Bagi sekolah, ini juga menjadi pengingat bahwa transisi guru kelas bukan hanya persoalan administrasi pergantian wali kelas.
Bagi sebagian anak, pergantian guru berarti perubahan terhadap sosok yang selama ini menjadi bagian penting dari rutinitas dan rasa aman mereka.
Jika pergantian guru memang akan terjadi, mengapa harus menunggu sampai hari pertama tahun ajaran baru?
Kenalkan calon guru sejak beberapa bulan sebelumnya. Bangun hubungan secara perlahan. Libatkan guru lama sebagai jembatan. Berikan visual dan rutinitas yang dapat diprediksi. Sebab, ketika seorang anak autis hanya mau dengan satu guru, mungkin yang sedang ia tunjukkan bukan sekadar penolakan terhadap guru lain.
Bisa jadi, ia sedang mengatakan dengan caranya sendiri: "Aku sudah tahu bagaimana harus bersikap bersama guru ini. Tolong bantu aku mengenal bahwa bersama guru yang baru pun aku akan tetap aman."
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Kenapa Anak Autis Bisa Patuh pada Satu Guru, tapi Menolak Guru Lain?"
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.