
Mengapa seorang anak autis bisa begitu nyaman mengikuti arahan satu guru, tetapi ketika berhadapan dengan guru lain justru menghindar, menolak, atau tidak merespons? Apakah ini sekadar soal kedekatan dengan guru, atau ada proses belajar dan adaptasi yang perlu dipahami lebih jauh?
Di sebuah kelas, seorang anak autis terlihat begitu dekat dengan gurunya. Ia mau mengikuti instruksi, menyelesaikan aktivitas, bahkan menunjukkan respons positif ketika diajak berinteraksi.
Namun, ketika guru lain mencoba mengambil alih, perilakunya berubah. Ia menghindar, menolak, atau seolah-olah tidak merespons instruksi. Situasi seperti ini kerap membuat orang dewasa bertanya-tanya. Mengapa dengan Bu A mau, tetapi dengan Bu B tidak? Anak bahkan bisa dianggap pilih-pilih guru atau sengaja tidak mau menurut.
Padahal, perilaku tersebut tidak selalu sesederhana itu. Bagi sebagian anak autis, kemampuan menggunakan keterampilan yang telah dipelajari dapat berbeda ketika orang, tempat, aktivitas, atau cara interaksinya berubah.
Dalam ilmu pendidikan dan intervensi autisme, kemampuan menerapkan keterampilan yang telah dipelajari ke situasi atau orang yang berbeda dikenal sebagai generalisasi. Penelitian menunjukkan bahwa generalisasi pada anak autis memang dapat terjadi, tetapi tidak selalu muncul secara otomatis pada semua keterampilan dan konteks.
Pertanyaan serupa muncul dalam sebuah diskusi bersama peserta magang Pendidikan Inklusif Tingkat Mahir. Dalam pembahasan tentang praktik pendampingan anak berkebutuhan khusus di sekolah, muncul pertanyaan yang sangat dekat dengan keseharian guru: mengapa seorang anak autis bisa begitu dekat dan patuh kepada satu guru, tetapi ketika berhadapan dengan guru lain justru menolak atau tidak merespons?
Pertanyaan sederhana tersebut ternyata membawa kita pada persoalan yang lebih luas dalam pendidikan anak autis: rasa aman, konsistensi, hubungan dengan pendidik, serta kemampuan anak untuk menggeneralisasi keterampilan dari satu situasi ke situasi lainnya.
Dari pertanyaan dalam ruang belajar tersebut, muncul satu hal yang penting untuk direnungkan: mungkin persoalannya bukan semata-mata tentang anak yang "tidak mau patuh", tetapi tentang bagaimana lingkungan pendidikan membantu anak memahami bahwa keterampilan yang sudah dikuasainya bersama satu guru juga dapat digunakan ketika berhadapan dengan orang lain.
Bukan Sekadar "Pilih-Pilih Guru"
Hal pertama yang perlu dipahami adalah jangan buru-buru memberi label bahwa anak "pilih-pilih guru". Ketika seorang anak mampu mengikuti instruksi dari guru tertentu, justru ada informasi penting yang bisa kita lihat: anak memiliki kemampuan untuk melakukan tuntutan tersebut dalam kondisi tertentu.
Pertanyaan berikutnya adalah, apakah keterampilan itu sudah dapat digunakan ketika orang yang memberikan instruksi berubah? Misalnya, seorang anak sudah terbiasa mengikuti instruksi, "Ambil buku," dari Guru A. Ketika Guru B memberikan instruksi serupa, anak tidak merespons.
Situasi tersebut tidak otomatis berarti anak sengaja membangkang. Bisa jadi, anak masih membutuhkan proses untuk memahami bahwa keterampilan yang sama dapat digunakan meskipun orang, cara penyampaian, atau situasinya berbeda.
Inilah yang disebut generalisasi. Sebuah systematic review terhadap intervensi komunikasi sosial pada anak autis menemukan bahwa sebagian besar studi yang ditinjau menunjukkan setidaknya ada generalisasi keterampilan ke orang, tempat, atau aktivitas yang berbeda.
Namun, generalisasi tidak konsisten untuk seluruh keterampilan dan konteks. Jadi, kurang tepat jika kita mengatakan bahwa anak autis "tidak bisa melakukan generalisasi". Yang lebih tepat adalah bahwa generalisasi perlu diperhatikan, dilatih, dan dipastikan dalam konteks kehidupan nyata.
Ketika Guru Menjadi Sosok yang Sangat Dikenal
Bayangkan seorang anak sudah lama belajar bersama Guru A. Ia sudah mengenali suara Guru A, memahami cara Guru A memberikan instruksi, mengetahui urutan kegiatan di kelas, mengenali gestur yang digunakan, dan mengetahui apa yang biasanya terjadi setelah ia menyelesaikan tugas.
Bagi anak, pola tersebut sudah familiar. Kemudian datang Guru B dengan suara, ekspresi, gaya komunikasi, maupun pola interaksi yang berbeda.
Bagi kita, perbedaannya mungkin terlihat kecil. Namun bagi anak, perubahan tersebut dapat berarti banyak informasi baru yang harus diproses sekaligus.
Oleh karena itu, rutinitas dan prediktabilitas dapat menjadi bagian penting dalam membantu sebagian anak autis menghadapi perubahan.
Yang perlu diingat, tentu saja, tidak semua anak autis memiliki respons yang sama. Setiap anak mempunyai kebutuhan, kemampuan komunikasi, pengalaman, dan karakteristik yang berbeda.
"Bisa dengan Bu A" Belum Tentu Otomatis "Bisa dengan Bu B"
Inilah bagian yang sering disalahpahami. Seorang anak dapat menunjukkan kemampuan yang baik dalam satu konteks, tetapi belum tentu langsung menunjukkan kemampuan yang sama dalam konteks lain.
Padahal, bisa jadi anak membutuhkan waktu dan pengalaman untuk menghubungkan bahwa instruksi, tujuan, dan keterampilan yang sama tetap berlaku meskipun orang yang berinteraksi dengannya berbeda.
Penelitian tentang generalisasi mendukung pentingnya menguji dan membangun keterampilan dalam berbagai konteks, termasuk dengan orang yang berbeda. Dalam systematic review, intervensi yang memberikan variasi orang, aktivitas, tempat, dan situasi menjadi bagian dari upaya mendukung generalisasi.
Dengan demikian, kemampuan seorang anak untuk melakukan sesuatu bersama satu guru tidak selalu berarti keterampilan tersebut sudah dapat berpindah secara otomatis kepada guru lainnya.
Jangan Tunggu Sampai Tahun Ajaran Baru untuk Memperkenalkan Guru Pengganti
Pada momen ini sekolah memiliki peran penting. Jika sejak awal sudah diketahui bahwa seorang anak akan mendapatkan guru kelas baru pada tahun ajaran berikutnya, proses transisi sebaiknya tidak dimulai pada hari pertama masuk sekolah.
Untuk anak yang sangat bergantung pada hubungan dengan guru tertentu, sekolah dapat mempertimbangkan memperkenalkan calon guru barunya sekitar dua sampai tiga bulan sebelum kenaikan kelas, dengan menyesuaikan kebutuhan dan respons masing-masing anak.
Tujuannya bukan membuat anak langsung belajar penuh dengan guru baru, melainkan memberikan kesempatan untuk mengenal wajah, suara, gaya komunikasi, rutinitas, dan keberadaan guru tersebut secara bertahap.
Guru baru secara bertahap mengambil beberapa bagian kegiatan yang sebelumnya dilakukan guru lama. Misalnya membuka kegiatan, memberikan instruksi, membantu tugas, atau memberikan pujian setelah anak berhasil menyelesaikan aktivitas.
Dengan demikian, ketika tahun ajaran baru dimulai, guru baru bukan lagi sosok yang sepenuhnya asing.
Mengapa Perlu Bertahap?
Karena tujuan transisi bukan sekadar "mengganti guru", tetapi membantu anak memahami bahwa perubahan tersebut dapat berlangsung dengan aman dan dapat diprediksi.
Dalam penelitian mengenai generalisasi keterampilan pada anak autis, penggunaan variasi orang, setting, aktivitas, dan mediator dalam proses pembelajaran menjadi salah satu cara yang digunakan untuk mendukung transfer keterampilan ke konteks baru.
Dengan kata lain, transisi sebaiknya dirancang, bukan sekadar diumumkan.
Guru Lama Bukan Digantikan Seketika, tetapi Menjadi Jembatan
Ketika guru baru mulai diperkenalkan, guru lama tidak perlu langsung menghilang. Justru, hubungan yang sudah terbentuk dapat dimanfaatkan sebagai jembatan menuju hubungan baru.
Proses tersebut dapat disesuaikan dengan respons anak. Tidak harus selalu mengikuti batas waktu yang sama untuk setiap anak.
Jika anak menggunakan komunikasi visual atau bentuk komunikasi alternatif tertentu, guru baru juga perlu memahami dan menggunakan sistem komunikasi tersebut secara konsisten.
Dengan begitu, anak tidak harus mempelajari dua hal sekaligus: keterampilan yang diminta dan cara baru berkomunikasi dengan guru.
Bangun Hubungan Positif Sebelum Menambah Tuntutan
Guru baru jangan hanya hadir ketika anak harus mengerjakan tugas. Kenali terlebih dahulu apa yang menarik bagi anak. Apakah anak menyukai menggambar, musik, puzzle, kendaraan, buku, atau aktivitas tertentu?
Guru dapat masuk melalui aktivitas yang sudah familiar dan menyenangkan. Setelah hubungan mulai terbentuk, tuntutan akademik maupun rutinitas lainnya dapat ditingkatkan secara bertahap.
Tujuannya bukan sekadar membuat anak "suka" kepada guru baru, tetapi membantu anak membangun pengalaman bahwa berinteraksi dengan guru tersebut juga aman, dapat diprediksi, dan menghasilkan pengalaman positif.
Pindahkan Reinforcement Secara Bertahap
Jika selama ini Guru A yang selalu memberikan pujian ketika anak berhasil, Guru B secara bertahap dapat mengambil peran tersebut. Dengan cara tersebut, anak memperoleh pengalaman bahwa keberhasilan bersama Guru B juga mendapatkan respons positif.
Penguatan dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan preferensi anak, baik berupa pujian, aktivitas yang disukai, kesempatan memilih, maupun bentuk penguatan lain yang efektif bagi anak.
Yang penting, penguatan tidak digunakan sebagai "suap", melainkan sebagai bagian dari strategi pembelajaran yang terencana.
Gunakan Visual agar Anak Tidak Hanya Bergantung pada Guru
Jika semua informasi tentang kegiatan hanya berasal dari Guru A, ketergantungan terhadap guru tersebut bisa semakin kuat. Oleh karena itu, dukungan visual dapat membantu.
Anak kemudian dapat melihat bahwa perubahan tersebut merupakan bagian dari urutan kegiatan, bukan sesuatu yang muncul tiba-tiba.
Beri Waktu untuk Memproses
Ketika anak tidak langsung merespons instruksi Guru B, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa ia menolak.
Guru dapat memberikan instruksi, kemudian memberikan waktu untuk memproses dan merespons.
Hindari mengulang instruksi berkali-kali dengan kalimat yang semakin panjang. Jika diperlukan, gunakan bantuan visual, gestur, atau prompt sesuai strategi yang telah direncanakan.
Hal ini penting karena komunikasi yang efektif perlu disesuaikan dengan kebutuhan komunikasi masing-masing anak.
Jika Anak Tetap Menolak, Cari Tahu Apa yang Sebenarnya Terjadi
Tidak semua penolakan terhadap guru baru disebabkan oleh generalisasi. Guru perlu melihat konteksnya. Observasi menjadi penting agar intervensi tidak didasarkan pada asumsi.
Perilaku adalah informasi. Ketika anak menolak, tugas pendidik bukan hanya membuat anak berhenti menolak, tetapi mencari tahu apa yang sedang dikomunikasikan melalui perilaku tersebut.
Tujuannya Bukan Sekadar "Patuh pada Semua Guru"
Pada akhirnya, keberhasilan bukan hanya ketika anak mau mengikuti instruksi semua guru. Tujuan yang lebih besar adalah agar anak secara bertahap.
Itulah mengapa generalisasi menjadi penting dalam pendidikan anak autis.
Penelitian menunjukkan bahwa anak autis dapat menggeneralisasi keterampilan ke orang dan konteks yang berbeda, tetapi proses tersebut tidak selalu muncul secara otomatis atau konsisten.
Lingkungan pembelajaran perlu memberikan kesempatan yang cukup untuk menggunakan keterampilan dalam variasi situasi.
Guru Favorit Bukan Masalah, tetapi Bisa Menjadi Jembatan
Kedekatan anak dengan satu guru tidak selalu sesuatu yang harus dihilangkan. Justru, hubungan positif tersebut dapat menjadi modal penting untuk memperluas pengalaman belajar anak.
Guru yang sudah dipercaya anak dapat membantu mengenalkan guru baru, aktivitas baru, cara komunikasi baru, dan situasi baru secara bertahap.
Bagi sekolah, ini juga menjadi pengingat bahwa transisi guru kelas bukan hanya persoalan administrasi pergantian wali kelas.
Bagi sebagian anak, pergantian guru berarti perubahan terhadap sosok yang selama ini menjadi bagian penting dari rutinitas dan rasa aman mereka.
Jika pergantian guru memang akan terjadi, mengapa harus menunggu sampai hari pertama tahun ajaran baru?
Kenalkan calon guru sejak beberapa bulan sebelumnya. Bangun hubungan secara perlahan. Libatkan guru lama sebagai jembatan. Berikan visual dan rutinitas yang dapat diprediksi. Sebab, ketika seorang anak autis hanya mau dengan satu guru, mungkin yang sedang ia tunjukkan bukan sekadar penolakan terhadap guru lain.
Bisa jadi, ia sedang mengatakan dengan caranya sendiri: "Aku sudah tahu bagaimana harus bersikap bersama guru ini. Tolong bantu aku mengenal bahwa bersama guru yang baru pun aku akan tetap aman."
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Kenapa Anak Autis Bisa Patuh pada Satu Guru, tapi Menolak Guru Lain?"
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.