Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Akbar Pitopang
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Akbar Pitopang adalah seorang yang berprofesi sebagai Guru. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Kemerdekaan yang Belum Selesai, Korupsi Menggerogoti Hak Rakyat

Kompas.com, 20 Agustus 2026, 14:28 WIB

Setelah 81 tahun merdeka, apakah kemerdekaan cukup dimaknai dengan berkibarnya Merah Putih dan perayaan setiap Agustus, atau kita juga perlu bertanya apakah rakyat sudah benar-benar terbebas dari kemiskinan, ketidakadilan, dan korupsi yang menggerogoti hak-hak mereka?

Setiap Agustus, Indonesia kembali larut dalam suasana perayaan kemerdekaan. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah. Jalan-jalan dihiasi umbul-umbul. Anak-anak mengikuti berbagai perlombaan. Upacara digelar. Lagu-lagu perjuangan kembali terdengar. Di media sosial, ucapan Dirgahayu Republik Indonesia berseliweran.

Semua itu tentu patut dirayakan. Kemerdekaan bukan sesuatu yang datang dengan cuma-cuma. Ada perjuangan, pengorbanan, darah, air mata, bahkan nyawa yang dipertaruhkan para pendahulu bangsa.

Tahun ini Indonesia memperingati 81 tahun kemerdekaannya. Bukan usia yang sebentar bagi sebuah negara.

Namun, setelah berbagai perayaan usai, mungkin ada satu pertanyaan yang layak kita ajukan kepada diri sendiri: apakah kita benar-benar sudah merdeka?

Bukan sekadar merdeka dari penjajahan bangsa asing. Bukan sekadar bebas mengibarkan bendera sendiri. Bukan sekadar memiliki pemerintahan sendiri. Melainkan merdeka dalam pengertian yang lebih mendasar.

Apakah rakyat sudah benar-benar terbebas dari kemiskinan, ketidakadilan, ketakutan, intimidasi, diskriminasi, intoleransi, dan berbagai persoalan yang membuat sebagian masyarakat belum mampu menikmati kehidupan yang layak?

Sebab, kemerdekaan yang sesungguhnya tidak berhenti pada pergantian penguasa. Kemerdekaan semestinya menghadirkan kehidupan yang lebih manusiawi bagi seluruh rakyat Indonesia.

Ketika Korupsi Mengurangi Arti Kemerdekaan

Indonesia memang telah mengalami banyak kemajuan. Pembangunan infrastruktur bergerak. Teknologi berkembang. Pendidikan semakin terbuka. Ekonomi tetap tumbuh. Masyarakat semakin terhubung dengan dunia.

Namun, kemajuan makro belum tentu membuat seluruh masyarakat merasakan kemerdekaan dalam kadar yang sama.

Masih ada keluarga yang kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Masih ada anak yang harus berjuang mendapatkan pendidikan yang layak. Masih ada masyarakat yang harus berhitung matang ketika membutuhkan layanan kesehatan. Masih ada pekerja yang bekerja keras, tetapi penghasilannya belum memberikan rasa aman.

Di sisi lain, kebebasan juga belum selalu berarti masyarakat terbebas dari tekanan. Perbedaan pilihan politik dapat berubah menjadi permusuhan. Perbedaan keyakinan atau identitas dapat memunculkan intoleransi.

Kritik terhadap kebijakan terkadang dianggap sebagai ancaman. Di media sosial, seseorang dapat dengan mudah dihujat hanya karena memiliki pandangan berbeda. Padahal, kemerdekaan semestinya memberikan ruang bagi manusia untuk hidup bermartabat.

Kita boleh berbeda. Kita boleh mengkritik. Kita boleh tidak setuju. Namun, semuanya perlu dilakukan dalam koridor hukum, etika, dan penghormatan terhadap sesama.

Karena itu, peringatan kemerdekaan seharusnya tidak hanya menjadi momentum untuk mengingat perjuangan para pahlawan. Ia juga dapat menjadi kesempatan untuk melihat kembali perjalanan bangsa.

Korupsi bukan sekadar persoalan mengambil uang negara. Dampaknya jauh lebih panjang karena pada akhirnya korupsi dapat merampas kesempatan masyarakat untuk mendapatkan hak yang semestinya.

Ketika anggaran pendidikan diselewengkan, yang hilang bukan hanya uang. Anak-anak dapat kehilangan fasilitas belajar yang seharusnya mereka terima. Anggaran kesehatan disalahgunakan, masyarakat dapat kehilangan kesempatan memperoleh pelayanan kesehatan yang layak.

Ketika proyek infrastruktur di-markup, masyarakat berpotensi mendapatkan bangunan atau fasilitas yang kualitasnya tidak sebanding dengan anggaran yang dikeluarkan. Pelayanan publik disertai praktik suap, masyarakat kehilangan kesempatan memperoleh pelayanan yang adil.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Sepiring Gonggong dan Sensasi yang Tidak Biasa
Sepiring Gonggong dan Sensasi yang Tidak Biasa
Kata Netizen
MBG Hadir, Kantin Sekolah Tetap Punya Cerita
MBG Hadir, Kantin Sekolah Tetap Punya Cerita
Kata Netizen
Pertemanan yang Merenggang Tak Selalu Berarti Putus
Pertemanan yang Merenggang Tak Selalu Berarti Putus
Kata Netizen
Ada Perjuangan di Balik Mual dan Emosi Ibu Hamil
Ada Perjuangan di Balik Mual dan Emosi Ibu Hamil
Kata Netizen
Setelah Gempa Berlalu, Bagaimana Mengembalikan Rasa Aman?
Setelah Gempa Berlalu, Bagaimana Mengembalikan Rasa Aman?
Kata Netizen
Seharian di Cipete dan Sekitarnya
Seharian di Cipete dan Sekitarnya
Kata Netizen
Belajar Ketahanan Pangan dari Hutan Kota di Seniman Pangan
Belajar Ketahanan Pangan dari Hutan Kota di Seniman Pangan
Kata Netizen
Dulu Maba, Kini Sarjana: Apa yang Berubah dari Cara Berpikir?
Dulu Maba, Kini Sarjana: Apa yang Berubah dari Cara Berpikir?
Kata Netizen
El Nino Bukan Sekadar Musim Kemarau, Ini Dampaknya bagi Kita
El Nino Bukan Sekadar Musim Kemarau, Ini Dampaknya bagi Kita
Kata Netizen
Membawa Kincung, Sedikit Bagian dari Kampung Halaman
Membawa Kincung, Sedikit Bagian dari Kampung Halaman
Kata Netizen
(Tidak) Semua Pertemanan Mesti Bertahan Selamanya
(Tidak) Semua Pertemanan Mesti Bertahan Selamanya
Kata Netizen
Yang Tertinggal Setelah Seorang Dosen Pergi
Yang Tertinggal Setelah Seorang Dosen Pergi
Kata Netizen
Menanam Nangka di Pekarangan, Menikmati Buahnya, Merasakan Hematnya
Menanam Nangka di Pekarangan, Menikmati Buahnya, Merasakan Hematnya
Kata Netizen
Sejuknya Hutan, Hangatnya Cerita tentang Petani Kopi
Sejuknya Hutan, Hangatnya Cerita tentang Petani Kopi
Kata Netizen
Kemerdekaan yang Belum Selesai, Korupsi Menggerogoti Hak Rakyat
Kemerdekaan yang Belum Selesai, Korupsi Menggerogoti Hak Rakyat
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Terpopuler
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau