Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Akbar Pitopang
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Akbar Pitopang adalah seorang yang berprofesi sebagai Guru. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Kemerdekaan yang Belum Selesai, Korupsi Menggerogoti Hak Rakyat

Kompas.com, 20 Agustus 2026, 14:28 WIB

Di situlah korupsi menjadi persoalan serius. Dampaknya mungkin tidak selalu terlihat seperti bentuk penjajahan yang kita kenal dalam sejarah. Namun, akibatnya dapat dirasakan dalam kehidupan sehari-hari. 

Namun, ketika sebagian hak yang semestinya kembali kepada masyarakat justru bocor karena korupsi, yang berkurang bukan hanya anggaran negara. Yang ikut berkurang adalah kesempatan masyarakat untuk hidup lebih baik.

Data Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memberikan gambaran yang patut direnungkan. Survei Penilaian Integritas (SPI) 2025 menghasilkan Indeks Integritas Nasional sebesar 72,32. KPK masih menempatkan angka tersebut dalam kategori rentan korupsi.

Selama lima tahun terakhir, indeks integritas nasional juga belum benar-benar keluar dari zona rentan. Survei 2025 melibatkan sekitar 1,02 juta responden dari kementerian/lembaga, pemerintah daerah, BUMN, serta unsur masyarakat dan ahli.

Angka tersebut semestinya tidak berhenti sebagai statistik dalam laporan tahunan. Ia dapat dibaca sebagai pengingat bahwa pekerjaan rumah pemberantasan korupsi masih panjang.

Korupsi juga bukan semata-mata persoalan pejabat tinggi di pusat pemerintahan. Potensinya dapat muncul di berbagai tingkatan dan sektor, mulai dari pengadaan barang dan jasa, pengelolaan anggaran, pelayanan publik, hingga praktik-praktik kecil yang mungkin selama ini dianggap biasa.

SPI KPK sendiri mengukur berbagai aspek, termasuk pengelolaan anggaran, pengadaan barang dan jasa, sumber daya manusia, transparansi, perdagangan pengaruh, serta upaya pencegahan korupsi.

Artinya, korupsi bukan hanya persoalan penegakan hukum. Ia juga merupakan persoalan tata kelola sekaligus budaya. Pemberantasannya tidak cukup hanya mengandalkan lembaga penegak hukum.

81 Tahun Merdeka, Apa yang Bisa Kita Pelajari?

Belakangan, media sosial juga ramai dengan perbandingan usia kemerdekaan Indonesia dan Singapura. Perdebatan semacam itu sebenarnya tidak sepenuhnya relevan.

Indonesia dan Singapura memiliki luas wilayah, jumlah penduduk, sumber daya alam, sejarah, struktur ekonomi, serta tantangan geopolitik yang sangat berbeda.

Karena itu, membandingkan keduanya hanya berdasarkan usia kemerdekaan tentu tidak sepenuhnya adil.

Namun, perbandingan tersebut tetap dapat menjadi bahan refleksi.

Singapura merdeka pada 1965, dua dekade setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan. Hari ini, negara tersebut memiliki tingkat pendapatan per kapita yang jauh lebih tinggi.

Data World Bank menunjukkan GDP per kapita 2025 Indonesia sekitar US$5.059,6, sedangkan Singapura sekitar US$98.814. Angka tersebut tentu tidak dapat digunakan sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan sebuah negara, tetapi memberikan gambaran mengenai perbedaan tingkat kesejahteraan ekonomi kedua negara.

Lantas, apakah Indonesia tidak mungkin mengejar? Tentu saja mungkin. Indonesia memiliki modal yang sangat besar: jumlah penduduk yang besar, sumber daya alam melimpah, posisi geografis strategis, pasar domestik yang luas, serta generasi muda yang terus berkembang.

Persoalannya bukan semata-mata apakah Indonesia memiliki modal. Pertanyaannya adalah bagaimana modal tersebut dikelola.

Negara dapat memiliki sumber daya alam yang melimpah. Namun, jika pengelolaannya tidak baik, rakyat belum tentu menjadi lebih sejahtera.

Negara dapat memiliki anggaran pendidikan yang besar. Namun, jika tata kelolanya buruk, kualitas pendidikan tidak otomatis meningkat.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Danau Singkarak, Lebih dari Sekadar Pemandangan Indah
Danau Singkarak, Lebih dari Sekadar Pemandangan Indah
Kata Netizen
Perempuan dan Masa Depan Investasi di Pasar Modal
Perempuan dan Masa Depan Investasi di Pasar Modal
Kata Netizen
Anak Belajar Mengenal Tradisi Daerah lewat Karnaval Budaya
Anak Belajar Mengenal Tradisi Daerah lewat Karnaval Budaya
Kata Netizen
Sekolah dan Kuliah Gratis, Apakah Kesempatan Belajar Jadi Setara?
Sekolah dan Kuliah Gratis, Apakah Kesempatan Belajar Jadi Setara?
Kata Netizen
Cerita Musim Kemarau di NTT, dari Pohon Lontar ke Gula Lempeng
Cerita Musim Kemarau di NTT, dari Pohon Lontar ke Gula Lempeng
Kata Netizen
Mengenal TB Lebih Dekat, dari Penularan hingga Pencegahannya
Mengenal TB Lebih Dekat, dari Penularan hingga Pencegahannya
Kata Netizen
Ketemu Vitamin A-syik saat Jogging Malam di Manahan
Ketemu Vitamin A-syik saat Jogging Malam di Manahan
Kata Netizen
Menjadi Guru Tak Cukup Hanya dengan Keikhlasan
Menjadi Guru Tak Cukup Hanya dengan Keikhlasan
Kata Netizen
Anggrek Membawa Saya Kembali kepada Kuntowijoyo
Anggrek Membawa Saya Kembali kepada Kuntowijoyo
Kata Netizen
Mindfulness Bukan Sekadar Menjauh dari Kabar Buruk
Mindfulness Bukan Sekadar Menjauh dari Kabar Buruk
Kata Netizen
Menyusuri Jejak Sejarah Kali Pepe di Tengah Kota Solo
Menyusuri Jejak Sejarah Kali Pepe di Tengah Kota Solo
Kata Netizen
Karhutla Mapongka Mendekati Bandara dan Sekolah Rakyat
Karhutla Mapongka Mendekati Bandara dan Sekolah Rakyat
Kata Netizen
Kesendirian Tak Lagi Menjadi Sesuatu yang Menakutkan
Kesendirian Tak Lagi Menjadi Sesuatu yang Menakutkan
Kata Netizen
Brokoli Kuning dan Cara Sederhana Membuat Taman Lebih Hidup
Brokoli Kuning dan Cara Sederhana Membuat Taman Lebih Hidup
Kata Netizen
Keluarga Stucky, di Balik Awal Pendidikan Perempuan di Malang
Keluarga Stucky, di Balik Awal Pendidikan Perempuan di Malang
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Terpopuler
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau