Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Jujun Junaedi
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Jujun Junaedi adalah seorang yang berprofesi sebagai Penulis. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Menanam Nangka di Pekarangan, Menikmati Buahnya, Merasakan Hematnya

Kompas.com, 21 Agustus 2026, 13:48 WIB

Membayangkan bahwa satu biji buah yang biasanya langsung dibuang justru bisa tumbuh menjadi sumber pangan keluarga, membantu menghemat pengeluaran, sekaligus membuat pekarangan terasa lebih sejuk.

Bagi saya, pengalaman itu datang dari sebuah biji nangka yang sederhana. Sepuluh tahun lalu, saya sengaja melempar biji nangka bekas makan ke area tanah kosong di pinggir benteng halaman rumah.

Saya tidak menyangka biji tersebut akan tumbuh. Namun, sekitar tiga pekan kemudian, terlihat tunas kecil yang mulai menghijau. Melihat tunas kongkoak itu tumbuh cukup kuat, saya kemudian memindahkannya ke tempat yang lebih aman dan mendapat cukup sinar matahari.

Perawatan awal saya lakukan dengan cukup teliti agar batang, akar, dan daun mudanya dapat berkembang dengan baik. Waktu berjalan. Pohon tunggal itu tumbuh subur hingga kini berusia sekitar sepuluh tahun dan mulai menghasilkan buah dalam jumlah cukup banyak.

Ukurannya memang tidak terlalu tinggi, sekitar tiga meter. Namun, cabangnya cukup rimbun dan dipenuhi buah. Karena beberapa buah tumbuh di bagian batang yang rendah, kami pun relatif mudah memetiknya tanpa harus menggunakan alat bantu.

Memasuki tahun kedua masa berbuah, pohon ini sudah memberikan hasil panen sebanyak tiga kali sepanjang tahun ini. Buah nangka muda kami manfaatkan sebagai bahan masakan, seperti gudeg dan lalaban tongtolang.

Sementara itu, daging buah nangka yang sudah matang dapat langsung dinikmati. Rasanya manis dan menjadi camilan sederhana yang bisa dinikmati bersama seluruh anggota keluarga.

Dari sini saya mulai merasakan manfaat lain dari memiliki tanaman buah sendiri di halaman rumah. Kebutuhan pangan keluarga sedikit banyak terbantu, sementara pengeluaran untuk membeli bahan makanan tertentu juga dapat ditekan.

Hasil tanaman sendiri juga memberikan kepuasan tersendiri. Kami tahu dari mana bahan pangan tersebut berasal dan dapat memetiknya langsung ketika membutuhkan.

Ketersediaan bahan pangan dari halaman rumah membuat pengaturan pengeluaran sehari-hari terasa lebih ringan. Anggaran yang biasanya digunakan untuk membeli bahan makanan tertentu dapat dialihkan untuk kebutuhan keluarga lainnya.

Kehadiran tanaman produktif di pekarangan juga menjadi salah satu cara sederhana untuk menghadapi berbagai pengeluaran yang kadang muncul tanpa diduga. Kemampuan memenuhi sebagian kebutuhan pangan sendiri tentu bisa menjadi langkah kecil dalam menjaga kondisi keuangan keluarga.

Sebuah biji nangka yang dahulu hampir tidak bernilai ternyata memberikan manfaat setelah dirawat selama bertahun-tahun. Kesabaran itu akhirnya berbuah, bukan hanya dalam bentuk hasil panen, tetapi juga rasa tenang dan bahagia ketika melihat keluarga bisa menikmatinya.

Anak-anak dan istri pun senang. Mereka bisa menikmati buah segar dari halaman rumah tanpa perlu mengeluarkan uang tambahan. Kegiatan merawat dan memanen pohon tersebut juga menjadi aktivitas sederhana yang dapat dilakukan bersama keluarga.

Manfaat Keuangan dan Lingkungan Sekitar Rumah

Pohon nangka yang tumbuh rimbun di pekarangan ternyata tidak hanya memberikan manfaat dari sisi pangan dan ekonomi. Kehadirannya juga membuat lingkungan sekitar rumah terasa lebih hijau.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Sepiring Gonggong dan Sensasi yang Tidak Biasa
Sepiring Gonggong dan Sensasi yang Tidak Biasa
Kata Netizen
MBG Hadir, Kantin Sekolah Tetap Punya Cerita
MBG Hadir, Kantin Sekolah Tetap Punya Cerita
Kata Netizen
Pertemanan yang Merenggang Tak Selalu Berarti Putus
Pertemanan yang Merenggang Tak Selalu Berarti Putus
Kata Netizen
Ada Perjuangan di Balik Mual dan Emosi Ibu Hamil
Ada Perjuangan di Balik Mual dan Emosi Ibu Hamil
Kata Netizen
Setelah Gempa Berlalu, Bagaimana Mengembalikan Rasa Aman?
Setelah Gempa Berlalu, Bagaimana Mengembalikan Rasa Aman?
Kata Netizen
Seharian di Cipete dan Sekitarnya
Seharian di Cipete dan Sekitarnya
Kata Netizen
Belajar Ketahanan Pangan dari Hutan Kota di Seniman Pangan
Belajar Ketahanan Pangan dari Hutan Kota di Seniman Pangan
Kata Netizen
Dulu Maba, Kini Sarjana: Apa yang Berubah dari Cara Berpikir?
Dulu Maba, Kini Sarjana: Apa yang Berubah dari Cara Berpikir?
Kata Netizen
El Nino Bukan Sekadar Musim Kemarau, Ini Dampaknya bagi Kita
El Nino Bukan Sekadar Musim Kemarau, Ini Dampaknya bagi Kita
Kata Netizen
Membawa Kincung, Sedikit Bagian dari Kampung Halaman
Membawa Kincung, Sedikit Bagian dari Kampung Halaman
Kata Netizen
(Tidak) Semua Pertemanan Mesti Bertahan Selamanya
(Tidak) Semua Pertemanan Mesti Bertahan Selamanya
Kata Netizen
Yang Tertinggal Setelah Seorang Dosen Pergi
Yang Tertinggal Setelah Seorang Dosen Pergi
Kata Netizen
Menanam Nangka di Pekarangan, Menikmati Buahnya, Merasakan Hematnya
Menanam Nangka di Pekarangan, Menikmati Buahnya, Merasakan Hematnya
Kata Netizen
Sejuknya Hutan, Hangatnya Cerita tentang Petani Kopi
Sejuknya Hutan, Hangatnya Cerita tentang Petani Kopi
Kata Netizen
Kemerdekaan yang Belum Selesai, Korupsi Menggerogoti Hak Rakyat
Kemerdekaan yang Belum Selesai, Korupsi Menggerogoti Hak Rakyat
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Terpopuler
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau