
Setiap kali panen, kami juga berusaha mencatat jumlah buah yang berhasil dipetik. Catatan sederhana tersebut menjadi semacam dokumentasi bahwa pekarangan kecil di rumah ternyata dapat memberikan hasil yang cukup berarti.
Memanen buah di halaman juga menjadi rekreasi sederhana bagi keluarga. Tidak perlu pergi jauh untuk menikmati suasana hijau dan segarnya udara karena sebagian kecilnya sudah tersedia di rumah sendiri.
Pohon nangka yang sudah tumbuh selama bertahun-tahun juga terus memberikan hasil. Hal ini membuat kami semakin menghargai keputusan sederhana yang pernah dibuat sepuluh tahun lalu.
Menariknya, pengalaman tersebut juga mulai membuat beberapa tetangga tertarik menanam tanaman buah di pekarangan mereka.
Barangkali, dari satu pohon kecil, muncul kebiasaan baru untuk memanfaatkan lahan yang sebelumnya tidak banyak digunakan.
Pada akhirnya, menikmati hasil panen sendiri memberikan rasa bangga yang tidak selalu bisa dinilai dengan uang. Apa yang ditanam dan dirawat dengan sabar ternyata dapat memberikan manfaat dalam waktu yang panjang.
Pohon nangka di pekarangan rumah bagi saya bukan sekadar tanaman. Ia menjadi bagian dari keseharian keluarga, sumber pangan, peneduh, sekaligus pengingat bahwa halaman rumah pun bisa dimanfaatkan untuk sesuatu yang produktif.
Pengalaman menanam biji nangka hingga akhirnya tumbuh dan menghasilkan buah membuat saya semakin percaya bahwa pekarangan kecil pun memiliki potensi. Tidak hanya untuk membuat rumah lebih hijau, tetapi juga membantu memenuhi sebagian kebutuhan pangan dan mengurangi pengeluaran.
Mungkin kita tidak perlu menunggu memiliki lahan luas untuk mulai berkebun. Kadang, cukup dengan satu biji yang selama ini kita anggap tidak berguna, sebuah cerita panjang tentang pangan, keluarga, lingkungan, dan penghematan bisa dimulai.
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Punya Pohon Nangka Sendiri, Kunci Dompet Tenang Pekarangan Senang"
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.