
Karena cukup sering dijadikan "konsultan dadakan", hubungan kami pun semakin dekat. Bukan lagi sekadar hubungan profesional sesama blogger.
Sesekali, ia menitipkan barang untuk dikirim kepada saudaranya di Madiun melalui suami saya. Ketika Ibu saya menjalani hari-hari terakhirnya, Mbak Dal Mi juga hadir memberikan semangat.
"Yang sabar ya, Mba. Insyaallah sakitnya Ibu bisa menjadi penggugur dosa. Kalau kamu butuh tempat curhat, cerita ke aku saja."
Beberapa kali kami juga memenuhi undangan klien untuk melakukan liputan ke luar kota. Ketika berada di kamar hotel yang sama, obrolan panjang menjadi bagian yang tidak pernah ketinggalan.
Di lain kesempatan, saya juga mengajak Mbak Dal Mi ketika ada klien yang membutuhkan kreator konten.
Intinya, kami berdua berusaha saling mengisi. Kadang dia yang memberikan informasi pekerjaan, kadang saya. Ketika saya memiliki persoalan, saya bercerita kepadanya. Begitu pula ketika Mbak Dal Mi memiliki masalah, rumah dan telinga saya terbuka untuknya.
Hingga suatu ketika muncul persoalan terkait kelanjutan campaign para kreator konten. Mbak Dal Mi berperan sebagai koordinator dalam pekerjaan tersebut, sementara saya tidak ikut sebagai peserta. Ada kesepakatan yang belum kunjung menemukan titik terang.
Terus terang, saya tidak mengetahui persoalannya secara utuh. Apakah masih berada di pihak klien, agensi, atau justru masih tertahan di Mbak Dal Mi?
Karena persoalannya cukup sensitif, saya memilih tidak banyak bertanya. Apalagi ini memang bukan urusan saya. Namun, beberapa teman kemudian menghubungi saya secara pribadi.
"Mbak Nurul kan bestie-nya Mbak Dal Mi. Tolong bantu tanyakan, ya, kelanjutannya bagaimana?"
Awalnya saya merasa itu bukan urusan saya. Tetapi kemudian saya mencoba melihatnya dari sudut pandang berbeda.
Campaign tersebut sudah berjalan hampir setahun. Saya memahami jika teman-teman yang terlibat merasa ada sesuatu yang belum selesai. Setiap orang tentu memiliki kondisi dan kebutuhan masing-masing. Rasanya, persoalan semacam ini memang sebaiknya bisa dibicarakan dengan baik.
Suatu sore, saya akhirnya bertemu dengan Mbak Dal Mi.
Saya berusaha memilih kata, gestur, dan nada bicara agar pertanyaan saya tidak terdengar seperti menghakimi atau menyelidiki.
"Mba, kemarin si A sama si B kirim chat. Mereka minta tolong supaya aku tanyakan ke sampeyan bagaimana kelanjutan campaign brand itu. Aku cuma dimintai tolong seperti ini, bukan bermaksud untuk..."
Belum selesai saya berbicara, responsnya cukup tegas.
"Aduh, anak-anak itu. Sudah aku bilang, kalau ada hal terkait campaign, seharusnya langsung menghubungi aku. Kenapa harus melibatkan Mbak Nurul? Mbak Nurul juga tidak bisa berbuat apa-apa. Sudah, Mba, tidak perlu ikut campur. Nanti biar aku telepon satu per satu."
Saat itu saya menyadari, persoalan yang saya kira bisa disampaikan dengan baik ternyata tetap terasa sensitif baginya.
Saya pun memilih untuk menjaga jarak.
Pelan-pelan, hubungan kami berubah. Tidak ada pertengkaran besar. Tidak ada kata "selamat tinggal". Hanya ada jarak yang perlahan terbentuk.
Dalam istilah anak sekarang, mungkin bisa disebut ghosting.
Yang penting, saya sudah menuntaskan peran sebagai "penyambung lidah". Setelah itu, saya kembali pada posisi semula: persoalan tersebut bukan lagi urusan saya.