
Ketika Pertemanan Mulai Berubah
Sejak saat itu, kami mulai "pecah kongsi". Tidak ada percakapan khusus tentang perpisahan. Tidak ada pula kalimat "goodbye". Namun, kami sama-sama tahu bahwa hubungan yang dulu begitu dekat kini sudah berubah.
Nomor WhatsApp Mbak Dal Mi kemudian berganti. Saya tidak mendapatkan nomor barunya. Lagi-lagi, beberapa teman bertanya kepada saya.
"Wah, kalian kenapa?"
Saya hanya bisa menjawab, "Maaf, aku juga tidak tahu nomor barunya." Begitulah. Mungkin memang tidak ada yang benar-benar abadi di dunia ini.
Nyawa saja dapat pergi dalam sekejap mata. Apalagi sebuah pertemanan.
Ada hubungan yang bertahan puluhan tahun. Ada pula yang hanya menemani kita pada satu fase kehidupan. Ada yang berakhir karena pertengkaran, tetapi ada juga yang berakhir tanpa pernah benar-benar ada kata perpisahan.
Mungkin, ketika visi dan cara pandang sudah tidak lagi sejalan, sebuah pertemanan pun dapat sampai pada batasnya.
Seperti makanan, ada hubungan yang pada akhirnya mengenal masa kedaluwarsa.
Namun, bukan berarti apa yang pernah terjadi sebelumnya menjadi tidak berarti.
Pertemanan kami pernah memberi banyak hal. Ada pekerjaan, percakapan, bantuan, dukungan, juga kenangan yang tidak serta-merta hilang hanya karena hubungan itu kini tidak lagi sama.
Mungkin memang demikian cara hidup bekerja. Ada orang yang datang untuk tinggal lama. Ada yang hadir hanya untuk menemani perjalanan pada satu bagian tertentu. Ketika waktunya selesai, kita mungkin tidak harus memaksanya tetap berada di tempat yang sama.
Oleh karena itu, saya belajar untuk tidak menggantungkan kebahagiaan sepenuhnya kepada seorang teman.
Kita tetap membutuhkan orang lain. Kita tetap membutuhkan pertemanan, tempat berbagi cerita, dan orang-orang yang dapat menguatkan ketika hidup terasa berat.
Namun, pada akhirnya, kita juga perlu menjadi sosok yang cukup berdaya untuk menopang diri sendiri.
Sebab ketika sebuah pertemanan berakhir, hidup kita tidak seharusnya ikut berakhir bersamanya.
Mungkin yang perlu dilakukan bukan terus bertanya mengapa seseorang pergi, melainkan belajar menerima bahwa setiap hubungan memiliki perjalanan dan waktunya masing-masing.
Dan jika suatu hari sebuah pertemanan benar-benar sampai pada masa kedaluwarsanya, setidaknya kita pernah menikmati rasanya ketika hubungan itu masih baik-baik saja.
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Sama Seperti Makanan, Pertemanan Juga Mengenal Kedaluwarsa"
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.