
Akan ada pada satu masa kita berada dalam sebuah pertemanan yang begitu dekat, lalu tanpa pernah benar-benar mengucapkan selamat tinggal, hubungan itu perlahan menjauh.
Namun, apakah setiap pertemanan memang harus bertahan selamanya atau ada kalanya dua orang perlu menerima bahwa hubungan yang pernah begitu berarti akhirnya sampai pada batasnya?
"Loh, Mbak Dal Mi ke mana? Biasanya kan di mana ada Nurul, di situ ada Mbak Dal Mi? Apa kalian lagi berantem?"
"Hahahaha, ngapain berantem? Sudah sama-sama emak-emak begini, malu sama umur. Lebih tepatnya, kami berdua sudah pecah kongsi. Sudah jalan sendiri-sendiri."
Saya tertawa, berusaha menutupi nyeri yang tiba-tiba terasa di ulu hati. Rupanya, bukan hanya satu-dua orang yang menyadari perubahan itu. Beberapa rekan dan kolega kami juga sempat bertanya.
"Nurul sama Dal Mi ada masalah apa, ya? Biasanya seperti Dwitunggal Soekarno-Hatta. Kalau ada project, selalu handling berdua. Kenapa sekarang berubah?"
Baiklah, saya coba ceritakan pelan-pelan.
***
Awal Pertemanan Bermula dari Kompasiana
Kami berdua sama-sama blogger dan Kompasianer. Pertemuan pertama terjadi di sebuah acara di salah satu mal besar di Surabaya, belasan tahun silam.
Seingat saya, waktu itu ada Mas Isjet, Mas Arif Khunaifi, Mas Nuzul (almarhum), dan sejumlah Kompasianer lainnya.
Saat itu saya masih clueless, bingung hendak berbicara tentang apa dan dengan siapa. Tiba-tiba, ada seorang perempuan yang begitu ramah dan talkative menghampiri saya. Tidak butuh waktu lama, kami sudah berbincang tentang banyak hal.
Ada banyak irisan dalam pergaulan kami. Pada masa lalu, kami sama-sama pernah bekerja sebagai anak buah Dahlan Iskan. Dia mengenal teman saya, begitu pula sebaliknya. Tidak heran, dua emak yang baru pertama kali bertemu bisa langsung mengobrol panjang.
Kebetulan lainnya, tempat tinggal kami hanya berjarak sekitar dua kilometer. Banyak sekali hal yang membuat pertemuan itu terasa menyenangkan.
"Save nomor WA-ku ya, Mba."
"Okay."
Sejak saat itu, kami mulai sering bertemu di berbagai acara dan campaign blogger.
Mbak Dal Mi—ini nama samaran—adalah tipe orang yang telaten me-lobby calon klien. Kami bahkan pernah menjulukinya sebagai "emaknya blogger Surabaya".
Berkali-kali Mbak Dal Mi menjadi "fasilitator rezeki" bagi kami. Uniknya, menurut pengakuannya, saya selalu menjadi orang pertama yang ia hubungi.
"Enaknya blogger si D diajak atau enggak ya?"
"Mba, kira-kira konsep acara gathering blogger minggu depan seperti apa?"
"Ini tim brand menghubungi aku, tanya kira-kira goodie bag untuk peserta umum dan pemenang isinya apa saja."
Karena cukup sering dijadikan "konsultan dadakan", hubungan kami pun semakin dekat. Bukan lagi sekadar hubungan profesional sesama blogger.
Sesekali, ia menitipkan barang untuk dikirim kepada saudaranya di Madiun melalui suami saya. Ketika Ibu saya menjalani hari-hari terakhirnya, Mbak Dal Mi juga hadir memberikan semangat.
"Yang sabar ya, Mba. Insyaallah sakitnya Ibu bisa menjadi penggugur dosa. Kalau kamu butuh tempat curhat, cerita ke aku saja."
Beberapa kali kami juga memenuhi undangan klien untuk melakukan liputan ke luar kota. Ketika berada di kamar hotel yang sama, obrolan panjang menjadi bagian yang tidak pernah ketinggalan.
Di lain kesempatan, saya juga mengajak Mbak Dal Mi ketika ada klien yang membutuhkan kreator konten.
Intinya, kami berdua berusaha saling mengisi. Kadang dia yang memberikan informasi pekerjaan, kadang saya. Ketika saya memiliki persoalan, saya bercerita kepadanya. Begitu pula ketika Mbak Dal Mi memiliki masalah, rumah dan telinga saya terbuka untuknya.
Hingga suatu ketika muncul persoalan terkait kelanjutan campaign para kreator konten. Mbak Dal Mi berperan sebagai koordinator dalam pekerjaan tersebut, sementara saya tidak ikut sebagai peserta. Ada kesepakatan yang belum kunjung menemukan titik terang.
Terus terang, saya tidak mengetahui persoalannya secara utuh. Apakah masih berada di pihak klien, agensi, atau justru masih tertahan di Mbak Dal Mi?
Karena persoalannya cukup sensitif, saya memilih tidak banyak bertanya. Apalagi ini memang bukan urusan saya. Namun, beberapa teman kemudian menghubungi saya secara pribadi.
"Mbak Nurul kan bestie-nya Mbak Dal Mi. Tolong bantu tanyakan, ya, kelanjutannya bagaimana?"
Awalnya saya merasa itu bukan urusan saya. Tetapi kemudian saya mencoba melihatnya dari sudut pandang berbeda.
Campaign tersebut sudah berjalan hampir setahun. Saya memahami jika teman-teman yang terlibat merasa ada sesuatu yang belum selesai. Setiap orang tentu memiliki kondisi dan kebutuhan masing-masing. Rasanya, persoalan semacam ini memang sebaiknya bisa dibicarakan dengan baik.
Suatu sore, saya akhirnya bertemu dengan Mbak Dal Mi.
Saya berusaha memilih kata, gestur, dan nada bicara agar pertanyaan saya tidak terdengar seperti menghakimi atau menyelidiki.
"Mba, kemarin si A sama si B kirim chat. Mereka minta tolong supaya aku tanyakan ke sampeyan bagaimana kelanjutan campaign brand itu. Aku cuma dimintai tolong seperti ini, bukan bermaksud untuk..."
Belum selesai saya berbicara, responsnya cukup tegas.
"Aduh, anak-anak itu. Sudah aku bilang, kalau ada hal terkait campaign, seharusnya langsung menghubungi aku. Kenapa harus melibatkan Mbak Nurul? Mbak Nurul juga tidak bisa berbuat apa-apa. Sudah, Mba, tidak perlu ikut campur. Nanti biar aku telepon satu per satu."
Saat itu saya menyadari, persoalan yang saya kira bisa disampaikan dengan baik ternyata tetap terasa sensitif baginya.
Saya pun memilih untuk menjaga jarak.
Pelan-pelan, hubungan kami berubah. Tidak ada pertengkaran besar. Tidak ada kata "selamat tinggal". Hanya ada jarak yang perlahan terbentuk.
Dalam istilah anak sekarang, mungkin bisa disebut ghosting.
Yang penting, saya sudah menuntaskan peran sebagai "penyambung lidah". Setelah itu, saya kembali pada posisi semula: persoalan tersebut bukan lagi urusan saya.
Ketika Pertemanan Mulai Berubah
Sejak saat itu, kami mulai "pecah kongsi". Tidak ada percakapan khusus tentang perpisahan. Tidak ada pula kalimat "goodbye". Namun, kami sama-sama tahu bahwa hubungan yang dulu begitu dekat kini sudah berubah.
Nomor WhatsApp Mbak Dal Mi kemudian berganti. Saya tidak mendapatkan nomor barunya. Lagi-lagi, beberapa teman bertanya kepada saya.
"Wah, kalian kenapa?"
Saya hanya bisa menjawab, "Maaf, aku juga tidak tahu nomor barunya." Begitulah. Mungkin memang tidak ada yang benar-benar abadi di dunia ini.
Nyawa saja dapat pergi dalam sekejap mata. Apalagi sebuah pertemanan.
Ada hubungan yang bertahan puluhan tahun. Ada pula yang hanya menemani kita pada satu fase kehidupan. Ada yang berakhir karena pertengkaran, tetapi ada juga yang berakhir tanpa pernah benar-benar ada kata perpisahan.
Mungkin, ketika visi dan cara pandang sudah tidak lagi sejalan, sebuah pertemanan pun dapat sampai pada batasnya.
Seperti makanan, ada hubungan yang pada akhirnya mengenal masa kedaluwarsa.
Namun, bukan berarti apa yang pernah terjadi sebelumnya menjadi tidak berarti.
Pertemanan kami pernah memberi banyak hal. Ada pekerjaan, percakapan, bantuan, dukungan, juga kenangan yang tidak serta-merta hilang hanya karena hubungan itu kini tidak lagi sama.
Mungkin memang demikian cara hidup bekerja. Ada orang yang datang untuk tinggal lama. Ada yang hadir hanya untuk menemani perjalanan pada satu bagian tertentu. Ketika waktunya selesai, kita mungkin tidak harus memaksanya tetap berada di tempat yang sama.
Oleh karena itu, saya belajar untuk tidak menggantungkan kebahagiaan sepenuhnya kepada seorang teman.
Kita tetap membutuhkan orang lain. Kita tetap membutuhkan pertemanan, tempat berbagi cerita, dan orang-orang yang dapat menguatkan ketika hidup terasa berat.
Namun, pada akhirnya, kita juga perlu menjadi sosok yang cukup berdaya untuk menopang diri sendiri.
Sebab ketika sebuah pertemanan berakhir, hidup kita tidak seharusnya ikut berakhir bersamanya.
Mungkin yang perlu dilakukan bukan terus bertanya mengapa seseorang pergi, melainkan belajar menerima bahwa setiap hubungan memiliki perjalanan dan waktunya masing-masing.
Dan jika suatu hari sebuah pertemanan benar-benar sampai pada masa kedaluwarsanya, setidaknya kita pernah menikmati rasanya ketika hubungan itu masih baik-baik saja.
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Sama Seperti Makanan, Pertemanan Juga Mengenal Kedaluwarsa"
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.