
Perbedaan harga tersebut kemudian membuat saya ingin membawa kincung dari kampung halaman ke Depok. Ketika kembali dari kampung halaman, saya, istri, dan anak kebetulan mendapat jatah bagasi pesawat gratis hingga 60 kilogram. Kami kemudian memanfaatkannya untuk membawa hasil pertanian dari kampung. Sekitar 30 kilogram di antaranya adalah kincung.
Kincung tersebut kami jadikan oleh-oleh untuk teman-teman di Depok, terutama teman-teman komunitas. Ternyata, mereka cukup senang menerimanya.
Bagi masyarakat Batak, khususnya Simalungun, kincung bukan sekadar tanaman biasa. Kincung digunakan sebagai bumbu sekaligus bahan masakan. Aroma dan rasanya yang khas membuatnya kerap digunakan untuk berbagai masakan dan sambal.
Saya kemudian mencoba menjual sebagian kincung yang dibawa dari kampung. Saya menawarkannya kepada pedagang di pasar tradisional dan beberapa warung sayur. Harga yang saya tawarkan sekitar Rp2.000 per tangkai. Ternyata, para pedagang bersedia membeli.
Bagi mereka, harga tersebut masih cukup menguntungkan karena kincung dapat dijual kembali dengan harga minimal sekitar Rp4.000 per tangkai.
Pengalaman itu kemudian memunculkan keinginan dalam diri saya untuk menjadi pemasok kincung dari kampung halaman.
Saya membayangkan kincung dari kebun orang tua dan petani lain di kampung dapat dikirim ke Depok, Jakarta, atau daerah lain dengan harga yang lebih baik. Dengan begitu, petani bisa mendapatkan nilai tambah yang lebih besar.
Namun, keinginan tersebut belum dapat saya wujudkan. Salah satu pertimbangannya adalah saya sudah memiliki pekerjaan formal sehingga belum bisa sepenuhnya terjun ke usaha tersebut. Meski begitu, perkembangan kincung di kampung halaman terus saya ikuti.
Belakangan, saya mendengar kabar bahwa harga kincung di sana sudah semakin tinggi. Bahkan, pernah mencapai sekitar Rp10.000 per kilogram. Permintaannya juga semakin meningkat.
Kincung tidak hanya dikirim ke daerah sekitar, tetapi juga ke beberapa daerah lain seperti Batam, bahkan mulai menembus pasar internasional.
Sebagai anak dari petani kincung, tentu kabar tersebut membuat saya senang. Meningkatnya permintaan berarti ada harapan kehidupan petani menjadi lebih baik. Tanaman yang selama ini dianggap biasa ternyata memiliki nilai ekonomi yang cukup menjanjikan.
Kincung bahkan menjadi salah satu topik utama ketika saya berbicara dengan orang tua melalui telepon. Biasanya, saya selalu menanyakan satu hal, "Berapa harga kincung sekarang?"
Pertanyaan itu sering membuat orang tua saya bersemangat. Mereka kemudian bercerita panjang mengenai harga, hasil panen, pembeli, hingga kondisi tanaman di kebun. Saya pun ikut senang mendengarnya.
Bagi saya, kincung akhirnya bukan sekadar komoditas pertanian. Kincung menjadi jembatan komunikasi antara saya sebagai anak yang tinggal jauh dari kampung halaman dan orang tua yang masih bertani di sana.
Di rumah saya di Depok pun, kincung sudah seperti kebutuhan pokok. Di dalam kulkas hampir selalu tersedia kincung. Istri saya biasanya menggunakannya untuk memasak ikan arsik, ikan kuah, atau membuat sambal.