
Setiap kali melihat kincung di pasar tradisional Depok, saya pun teringat kampung halaman. Hampir semua pasar tradisional di Depok menjual kincung yang didatangkan dari Sumatera Utara. Ketika melihat tumpukan kincung di lapak pedagang, pikiran saya sering kembali ke kebun orang tua.
Bagi saya, membeli dan mengonsumsi kincung bukan hanya soal memenuhi kebutuhan dapur. Ada perasaan bahwa saya ikut mendukung petani yang menanamnya.
Begitu pula ketika pulang kampung dan membawa kincung sebagai oleh-oleh. Ada kebahagiaan tersendiri ketika membawa hasil tanah kelahiran ke tempat saya tinggal sekarang.
Bagi petani, hasil pertanian yang diminati orang lain tentu menjadi bentuk penghargaan tersendiri. Mereka tentu senang ketika hasil kebunnya tidak hanya dihargai sebagai barang dagangan, tetapi juga menjadi sesuatu yang dicari dan dinikmati banyak orang.
Sebagai perantau, membawa kincung dari kampung halaman memiliki makna yang lebih dalam. Hal itu menjadi pengingat bahwa sejauh apa pun saya merantau, ada tanah kelahiran yang selalu memiliki tempat dalam kehidupan saya. Ada orang tua yang masih mengolah tanah. Ada kebun yang setiap minggu menghasilkan kincung. Ada aroma khas yang mengingatkan saya pada rumah.
Saya juga selalu merasa lebih tenang karena, setahu saya, petani di kampung halaman tidak menggunakan pestisida dalam budi daya kincung. Tanaman tersebut tumbuh dengan perawatan yang sederhana dan relatif alami.
Terlepas dari berbagai manfaat yang sering dikaitkan dengan kincung, bagi saya manfaat terbesarnya justru terasa dalam hubungan saya dengan keluarga. Kincung telah menjadi bagian dari cerita keluarga kami.
Kincung hadir di kebun orang tua, di dapur rumah kami di Depok, di meja makan, di pasar tradisional, hingga dalam percakapan melalui telepon. Karena itu, bila suatu saat nanti saya kembali pulang ke kampung halaman, kincung akan selalu menjadi oleh-oleh wajib.
Oleh-oleh lain mungkin saja terlupakan. Bisa saja saya tidak sempat membeli buah tangan atau makanan khas lainnya. Namun, rasanya tidak lengkap pulang ke Depok tanpa membawa kincung.
Sebab, membawa kincung berarti membawa sedikit bagian dari kampung halaman. Membawa hasil tanah tempat orang tua saya bekerja. Membawa hasil jerih payah para petani. Membawa aroma masakan masa kecil. Sekaligus membawa kenangan tentang rumah yang selalu saya rindukan.
Kincung akhirnya bukan sekadar oleh-oleh. Ia menjadi cara sederhana bagi saya untuk tetap terhubung dengan kampung halaman.
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Kincung, Oleh-oleh yang Mengikat Saya dengan Kampung Halaman"
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.