
Apa oleh-oleh yang kita bawa pulang justru menjadi pengingat tentang keluarga, tanah kelahiran, sekaligus hasil kerja orang-orang yang kita cintai? Bagi saya, jawabannya ada pada kincung.
Setiap kali pulang dari kampung halaman, saya hampir selalu membawa oleh-oleh. Bukan hanya makanan khas atau buah tangan, melainkan hasil pertanian.
Bagi saya, hasil pertanian dari kampung halaman memiliki cerita yang lebih panjang. Di balik buah atau sayuran yang dibawa pulang, ada tanah, keringat, dan kehidupan orang tua serta keluarga saya yang sejak dulu menggantungkan hidup sebagai petani.
Belakangan ini, salah satu hasil pertanian yang paling sering saya bawa ke Depok adalah kincung atau kecombrang.
Tanaman dengan aroma khas ini sebenarnya sudah lama dibudidayakan masyarakat di kampung halaman saya. Namun, budi dayanya mulai berkembang lebih luas sejak tahun 2000-an.
Sebelum kincung berkembang, buah-buahan, terutama jeruk, merupakan salah satu komoditas unggulan di kampung halaman. Banyak masyarakat menggantungkan penghasilan dari tanaman tersebut.
Namun, dalam beberapa tahun terakhir, jeruk tidak lagi menjadi pilihan utama sebagian petani. Biaya produksi yang semakin tinggi tidak selalu sebanding dengan harga jual. Akibatnya, sebagian masyarakat mulai mengurangi pengembangan tanaman jeruk dan beralih ke komoditas lain.
Bagi orang tua saya yang kini sudah lanjut usia, kincung menjadi salah satu tanaman yang cukup membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari. Alasannya sederhana: tanaman ini relatif mudah dibudidayakan dan tidak membutuhkan perawatan yang rumit.
Di kebun orang tua saya, kincung juga tidak memerlukan pupuk kimia. Tanaman ini relatif tahan terhadap serangan hama. Dengan perawatan sederhana, tanaman dapat terus menghasilkan.
Hal lain yang menarik, kincung tidak mengenal musim panen tertentu seperti beberapa jenis tanaman lainnya.
Hampir setiap minggu, orang tua saya dapat memanen sekitar 100 hingga 200 kilogram kincung. Hasil panen tersebut kemudian dijual kepada pengepul atau pedagang. Dari sanalah sebagian kebutuhan hidup mereka dipenuhi.
Persoalannya kemudian adalah harga. Harga kincung di tingkat petani cukup fluktuatif. Ada kalanya harganya baik, tetapi ada pula masa ketika harga turun cukup rendah.
Saya masih ingat ketika pulang kampung pada 2022. Ibu mengeluhkan rendahnya harga kincung yang saat itu hanya sekitar Rp2.000 per kilogram.
Mendengar keluhan tersebut, saya merasa kasihan sekaligus sedikit geram. Sebab, saya tahu harga kincung di Depok dan Jakarta jauh lebih tinggi. Bahkan, selisihnya bisa beberapa kali lipat dibandingkan dengan harga yang diterima petani.
Dalam satu kilogram terdapat sekitar tujuh tangkai kincung, tergantung ukurannya. Di Jabodetabek saat itu, satu bunga kincung bisa dijual sekitar Rp4.000 hingga Rp6.000 per tangkai. Artinya, harga per kilogram bisa mencapai Rp28.000 hingga Rp42.000.
Perbedaan harga tersebut kemudian membuat saya ingin membawa kincung dari kampung halaman ke Depok. Ketika kembali dari kampung halaman, saya, istri, dan anak kebetulan mendapat jatah bagasi pesawat gratis hingga 60 kilogram. Kami kemudian memanfaatkannya untuk membawa hasil pertanian dari kampung. Sekitar 30 kilogram di antaranya adalah kincung.
Kincung tersebut kami jadikan oleh-oleh untuk teman-teman di Depok, terutama teman-teman komunitas. Ternyata, mereka cukup senang menerimanya.
Bagi masyarakat Batak, khususnya Simalungun, kincung bukan sekadar tanaman biasa. Kincung digunakan sebagai bumbu sekaligus bahan masakan. Aroma dan rasanya yang khas membuatnya kerap digunakan untuk berbagai masakan dan sambal.
Saya kemudian mencoba menjual sebagian kincung yang dibawa dari kampung. Saya menawarkannya kepada pedagang di pasar tradisional dan beberapa warung sayur. Harga yang saya tawarkan sekitar Rp2.000 per tangkai. Ternyata, para pedagang bersedia membeli.
Bagi mereka, harga tersebut masih cukup menguntungkan karena kincung dapat dijual kembali dengan harga minimal sekitar Rp4.000 per tangkai.
Pengalaman itu kemudian memunculkan keinginan dalam diri saya untuk menjadi pemasok kincung dari kampung halaman.
Saya membayangkan kincung dari kebun orang tua dan petani lain di kampung dapat dikirim ke Depok, Jakarta, atau daerah lain dengan harga yang lebih baik. Dengan begitu, petani bisa mendapatkan nilai tambah yang lebih besar.
Namun, keinginan tersebut belum dapat saya wujudkan. Salah satu pertimbangannya adalah saya sudah memiliki pekerjaan formal sehingga belum bisa sepenuhnya terjun ke usaha tersebut. Meski begitu, perkembangan kincung di kampung halaman terus saya ikuti.
Belakangan, saya mendengar kabar bahwa harga kincung di sana sudah semakin tinggi. Bahkan, pernah mencapai sekitar Rp10.000 per kilogram. Permintaannya juga semakin meningkat.
Kincung tidak hanya dikirim ke daerah sekitar, tetapi juga ke beberapa daerah lain seperti Batam, bahkan mulai menembus pasar internasional.
Sebagai anak dari petani kincung, tentu kabar tersebut membuat saya senang. Meningkatnya permintaan berarti ada harapan kehidupan petani menjadi lebih baik. Tanaman yang selama ini dianggap biasa ternyata memiliki nilai ekonomi yang cukup menjanjikan.
Kincung bahkan menjadi salah satu topik utama ketika saya berbicara dengan orang tua melalui telepon. Biasanya, saya selalu menanyakan satu hal, "Berapa harga kincung sekarang?"
Pertanyaan itu sering membuat orang tua saya bersemangat. Mereka kemudian bercerita panjang mengenai harga, hasil panen, pembeli, hingga kondisi tanaman di kebun. Saya pun ikut senang mendengarnya.
Bagi saya, kincung akhirnya bukan sekadar komoditas pertanian. Kincung menjadi jembatan komunikasi antara saya sebagai anak yang tinggal jauh dari kampung halaman dan orang tua yang masih bertani di sana.
Di rumah saya di Depok pun, kincung sudah seperti kebutuhan pokok. Di dalam kulkas hampir selalu tersedia kincung. Istri saya biasanya menggunakannya untuk memasak ikan arsik, ikan kuah, atau membuat sambal.
Setiap kali melihat kincung di pasar tradisional Depok, saya pun teringat kampung halaman. Hampir semua pasar tradisional di Depok menjual kincung yang didatangkan dari Sumatera Utara. Ketika melihat tumpukan kincung di lapak pedagang, pikiran saya sering kembali ke kebun orang tua.
Bagi saya, membeli dan mengonsumsi kincung bukan hanya soal memenuhi kebutuhan dapur. Ada perasaan bahwa saya ikut mendukung petani yang menanamnya.
Begitu pula ketika pulang kampung dan membawa kincung sebagai oleh-oleh. Ada kebahagiaan tersendiri ketika membawa hasil tanah kelahiran ke tempat saya tinggal sekarang.
Bagi petani, hasil pertanian yang diminati orang lain tentu menjadi bentuk penghargaan tersendiri. Mereka tentu senang ketika hasil kebunnya tidak hanya dihargai sebagai barang dagangan, tetapi juga menjadi sesuatu yang dicari dan dinikmati banyak orang.
Sebagai perantau, membawa kincung dari kampung halaman memiliki makna yang lebih dalam. Hal itu menjadi pengingat bahwa sejauh apa pun saya merantau, ada tanah kelahiran yang selalu memiliki tempat dalam kehidupan saya. Ada orang tua yang masih mengolah tanah. Ada kebun yang setiap minggu menghasilkan kincung. Ada aroma khas yang mengingatkan saya pada rumah.
Saya juga selalu merasa lebih tenang karena, setahu saya, petani di kampung halaman tidak menggunakan pestisida dalam budi daya kincung. Tanaman tersebut tumbuh dengan perawatan yang sederhana dan relatif alami.
Terlepas dari berbagai manfaat yang sering dikaitkan dengan kincung, bagi saya manfaat terbesarnya justru terasa dalam hubungan saya dengan keluarga. Kincung telah menjadi bagian dari cerita keluarga kami.
Kincung hadir di kebun orang tua, di dapur rumah kami di Depok, di meja makan, di pasar tradisional, hingga dalam percakapan melalui telepon. Karena itu, bila suatu saat nanti saya kembali pulang ke kampung halaman, kincung akan selalu menjadi oleh-oleh wajib.
Oleh-oleh lain mungkin saja terlupakan. Bisa saja saya tidak sempat membeli buah tangan atau makanan khas lainnya. Namun, rasanya tidak lengkap pulang ke Depok tanpa membawa kincung.
Sebab, membawa kincung berarti membawa sedikit bagian dari kampung halaman. Membawa hasil tanah tempat orang tua saya bekerja. Membawa hasil jerih payah para petani. Membawa aroma masakan masa kecil. Sekaligus membawa kenangan tentang rumah yang selalu saya rindukan.
Kincung akhirnya bukan sekadar oleh-oleh. Ia menjadi cara sederhana bagi saya untuk tetap terhubung dengan kampung halaman.
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Kincung, Oleh-oleh yang Mengikat Saya dengan Kampung Halaman"
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.