
Kira-kira begini singkatnya. Ketika menjadi maba, saya cenderung santai dan melihat sesuatu berdasarkan logika sederhana. Di pertengahan kuliah, saya mulai kritis dan memiliki kecenderungan lebih kritis terhadap pemerintah.
Saya mulai mempertanyakan kekuasaan, ketimpangan, dan kebijakan publik. Namun, menjelang lulus hingga menjadi sarjana, saya mulai lebih fokus pada realitas. Saya belajar bahwa dunia tidak sesederhana teori dan perdebatan.
Pendidikan tinggi seharusnya tidak hanya menghasilkan orang yang mampu menjawab soal ujian, tetapi juga manusia yang mampu memahami persoalan kehidupan.
Kita boleh memiliki idealisme, tetapi idealisme perlu berdialog dengan realitas. Kita boleh kritis terhadap pemerintah, tetapi kritik harus disertai pengetahuan dan tanggung jawab.
Kita boleh memiliki pandangan politik tertentu, tetapi jangan sampai pandangan tersebut membuat kita menutup diri terhadap kenyataan dan pendapat orang lain.
Pada akhirnya, menjadi mahasiswa mengajarkan saya untuk tidak mudah percaya dan tidak cepat menyimpulkan sesuatu.
Di tengah derasnya informasi, kita harus terus mencari tahu, memeriksa kebenaran, dan melihat persoalan dari berbagai sisi agar tidak mudah termakan hoaks.
Mungkin tulisan ini cukup menjadi pemanasan untuk kembali menulis. Masih banyak hal yang ingin saya pikirkan, pelajari, dan bagikan.
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Perubahan Pola Pikir Mahasiswa, Mulai dari Maba hingga Menjadi Sarjana"
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.