Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Mutia Ramadhani
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Mutia Ramadhani adalah seorang yang berprofesi sebagai Freelancer. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Belajar Ketahanan Pangan dari Hutan Kota di Seniman Pangan

Kompas.com, 31 Agustus 2026, 11:09 WIB

Hal-hal semacam ini sebenarnya penting untuk membangun kembali hubungan kita dengan makanan.

Sebab, semakin jauh makanan dari sumbernya, semakin mudah kita melupakan bahwa makanan tersebut berasal dari makhluk hidup yang membutuhkan tanah, air, cahaya, musim, serta orang-orang yang merawatnya.

Hutan Pangan Tidak Tumbuh Begitu Saja

Ada satu kesalahpahaman yang mungkin muncul ketika mendengar istilah hutan pangan: seolah-olah kita cukup menanam banyak tanaman, kemudian membiarkannya tumbuh sendiri secara alami.

Bukan begitu. Hutan pangan memang meniru struktur dan keragaman hutan, tetapi tetap merupakan lanskap yang dirancang manusia untuk menghasilkan pangan.

Artinya, kita perlu mengetahui tanaman apa yang cocok ditanam berdampingan. Kita perlu mengidentifikasi mana jenis tanaman yang membutuhkan cahaya penuh, mana yang tahan berada di bawah naungan, mana yang dapat menjadi tanaman penutup tanah, serta mana yang akarnya dapat membantu memperbaiki struktur tanah.

Kita juga perlu mengetahui jenis tanaman yang dapat menghasilkan pangan dalam waktu relatif cepat dan mana yang baru dapat dipanen beberapa tahun kemudian.

Jadi, di balik tampilan "liar" sebuah hutan pangan, sebenarnya ada pengetahuan dan perencanaan yang cukup serius.

Mungkin sekilas tampak seperti kebun yang tumbuh bebas. Padahal, ada banyak pertimbangan di balik susunan tanaman tersebut.

Menariknya, pengetahuan semacam ini tidak harus selalu datang dari laboratorium.

Masyarakat yang telah lama hidup dekat dengan hutan juga memiliki pengetahuan mengenai hal-hal tersebut. Mereka mengetahui musim buah, mengenali tanaman yang dapat dimakan, memahami bagian mana yang dapat dimanfaatkan, mengetahui kapan sesuatu sebaiknya dipanen, dan memahami bagaimana mengolahnya.

Pengetahuan tersebut diwariskan melalui praktik, dari orang tua kepada anak, dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Maka, ketika kita berbicara tentang hutan pangan, rasanya tidak cukup jika hanya membicarakan tanamannya. Kita juga perlu membicarakan manusia yang mengetahui tanaman tersebut.

Ketika Bahan Lokal Menjadi Produk Ikonik

Bagian yang paling menarik dari kunjungan saya ke Seniman Pangan adalah cerita tentang bahan pangan yang sebelumnya mungkin tidak pernah masuk dalam daftar makanan yang saya kenal.

Salah satunya adalah Nypa Salt dari Papua. Kak Cora bercerita bahwa ketika tim pertama kali masuk ke hutan di Papua, mereka melihat masyarakat setempat tidak membawa garam seperti yang biasanya kita lakukan.

Ketika ditanya, jawabannya sederhana: alam sudah menyediakan.

Garam tersebut berasal dari pelepah nipah tua yang diolah oleh masyarakat setempat.

Dalam tradisi mereka, hasilnya berwarna hitam. Kemudian pengetahuan tersebut dipelajari dan dikembangkan melalui riset dan teknologi pangan hingga menghasilkan produk dengan karakteristik yang berbeda.

Karena kandungan sodiumnya berbeda dengan garam dapur, produk tersebut tidak dipasarkan sebagai garam, melainkan sebagai bumbu asin.

Cara pandang di balik cerita tersebut menurut saya menarik.

Masyarakat setempat sudah mengetahui bahwa sesuatu yang tumbuh di lingkungan mereka dapat dimanfaatkan sebagai bagian dari pangan. Pengetahuan tersebut kemudian bertemu dengan teknologi, penelitian, pengembangan produk, dan pasar.

Dari hutan ke dapur, dari pengetahuan lokal menjadi produk, ternyata ada rantai yang cukup panjang.

Dalam pemetaan pangan di Sumatra Selatan, tim Seniman Pangan juga menemukan jambu hutan yang tumbuh melimpah.

Tidak banyak yang menganggapnya penting. Buahnya bahkan bisa terinjak begitu saja.

Setelah dicoba, ternyata rasanya menarik. Ada karakter yang oleh tim digambarkan seperti perpaduan apel dan pir dengan tekstur sedikit berpasir.

Kemudian muncul ide untuk mengolahnya menjadi selai. Sederhana. Namun, kalau kita bawa ke kehidupan sehari-hari, berapa banyak tanaman di sekitar kita yang sebenarnya tidak pernah masuk radar hanya karena sejak awal kita sudah menganggapnya sebagai "bukan makanan"?

Persoalannya ternyata juga menyentuh soal selera dan pengetahuan.

Kalau tidak ada yang mengenali, mencoba, mengolah, lalu memperkenalkannya kembali, tanaman tersebut mungkin akan terus tumbuh tanpa pernah dianggap memiliki nilai. Padahal, bisa jadi ia menyimpan potensi sebagai sumber pangan.

Cerita serupa muncul pada jamur gerigit dari Sumatra Selatan.

Jamur musiman yang banyak muncul ketika musim hujan ini dikumpulkan oleh perempuan penjaga hutan yang menjadi mitra Seniman Pangan.

Setelah dikembangkan, karakter umaminya yang kuat membuatnya menarik untuk digunakan sebagai bahan pangan.

Dari cerita-cerita tersebut, saya semakin memahami bahwa keanekaragaman pangan bukan hanya berbicara tentang berapa banyak tanaman yang tersedia. Ia juga berkaitan dengan seberapa jauh pengetahuan kita dalam mengenali, mengolah, dan memanfaatkannya.

Dari Hutan ke Ekonomi

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Danau Singkarak, Lebih dari Sekadar Pemandangan Indah
Danau Singkarak, Lebih dari Sekadar Pemandangan Indah
Kata Netizen
Perempuan dan Masa Depan Investasi di Pasar Modal
Perempuan dan Masa Depan Investasi di Pasar Modal
Kata Netizen
Anak Belajar Mengenal Tradisi Daerah lewat Karnaval Budaya
Anak Belajar Mengenal Tradisi Daerah lewat Karnaval Budaya
Kata Netizen
Sekolah dan Kuliah Gratis, Apakah Kesempatan Belajar Jadi Setara?
Sekolah dan Kuliah Gratis, Apakah Kesempatan Belajar Jadi Setara?
Kata Netizen
Cerita Musim Kemarau di NTT, dari Pohon Lontar ke Gula Lempeng
Cerita Musim Kemarau di NTT, dari Pohon Lontar ke Gula Lempeng
Kata Netizen
Mengenal TB Lebih Dekat, dari Penularan hingga Pencegahannya
Mengenal TB Lebih Dekat, dari Penularan hingga Pencegahannya
Kata Netizen
Ketemu Vitamin A-syik saat Jogging Malam di Manahan
Ketemu Vitamin A-syik saat Jogging Malam di Manahan
Kata Netizen
Menjadi Guru Tak Cukup Hanya dengan Keikhlasan
Menjadi Guru Tak Cukup Hanya dengan Keikhlasan
Kata Netizen
Anggrek Membawa Saya Kembali kepada Kuntowijoyo
Anggrek Membawa Saya Kembali kepada Kuntowijoyo
Kata Netizen
Mindfulness Bukan Sekadar Menjauh dari Kabar Buruk
Mindfulness Bukan Sekadar Menjauh dari Kabar Buruk
Kata Netizen
Menyusuri Jejak Sejarah Kali Pepe di Tengah Kota Solo
Menyusuri Jejak Sejarah Kali Pepe di Tengah Kota Solo
Kata Netizen
Karhutla Mapongka Mendekati Bandara dan Sekolah Rakyat
Karhutla Mapongka Mendekati Bandara dan Sekolah Rakyat
Kata Netizen
Kesendirian Tak Lagi Menjadi Sesuatu yang Menakutkan
Kesendirian Tak Lagi Menjadi Sesuatu yang Menakutkan
Kata Netizen
Brokoli Kuning dan Cara Sederhana Membuat Taman Lebih Hidup
Brokoli Kuning dan Cara Sederhana Membuat Taman Lebih Hidup
Kata Netizen
Keluarga Stucky, di Balik Awal Pendidikan Perempuan di Malang
Keluarga Stucky, di Balik Awal Pendidikan Perempuan di Malang
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Terpopuler
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau