Hal-hal semacam ini sebenarnya penting untuk membangun kembali hubungan kita dengan makanan.
Sebab, semakin jauh makanan dari sumbernya, semakin mudah kita melupakan bahwa makanan tersebut berasal dari makhluk hidup yang membutuhkan tanah, air, cahaya, musim, serta orang-orang yang merawatnya.
Hutan Pangan Tidak Tumbuh Begitu Saja
Ada satu kesalahpahaman yang mungkin muncul ketika mendengar istilah hutan pangan: seolah-olah kita cukup menanam banyak tanaman, kemudian membiarkannya tumbuh sendiri secara alami.
Bukan begitu. Hutan pangan memang meniru struktur dan keragaman hutan, tetapi tetap merupakan lanskap yang dirancang manusia untuk menghasilkan pangan.
Artinya, kita perlu mengetahui tanaman apa yang cocok ditanam berdampingan. Kita perlu mengidentifikasi mana jenis tanaman yang membutuhkan cahaya penuh, mana yang tahan berada di bawah naungan, mana yang dapat menjadi tanaman penutup tanah, serta mana yang akarnya dapat membantu memperbaiki struktur tanah.
Kita juga perlu mengetahui jenis tanaman yang dapat menghasilkan pangan dalam waktu relatif cepat dan mana yang baru dapat dipanen beberapa tahun kemudian.
Jadi, di balik tampilan "liar" sebuah hutan pangan, sebenarnya ada pengetahuan dan perencanaan yang cukup serius.
Mungkin sekilas tampak seperti kebun yang tumbuh bebas. Padahal, ada banyak pertimbangan di balik susunan tanaman tersebut.
Menariknya, pengetahuan semacam ini tidak harus selalu datang dari laboratorium.
Masyarakat yang telah lama hidup dekat dengan hutan juga memiliki pengetahuan mengenai hal-hal tersebut. Mereka mengetahui musim buah, mengenali tanaman yang dapat dimakan, memahami bagian mana yang dapat dimanfaatkan, mengetahui kapan sesuatu sebaiknya dipanen, dan memahami bagaimana mengolahnya.
Pengetahuan tersebut diwariskan melalui praktik, dari orang tua kepada anak, dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
Maka, ketika kita berbicara tentang hutan pangan, rasanya tidak cukup jika hanya membicarakan tanamannya. Kita juga perlu membicarakan manusia yang mengetahui tanaman tersebut.
Ketika Bahan Lokal Menjadi Produk Ikonik
Bagian yang paling menarik dari kunjungan saya ke Seniman Pangan adalah cerita tentang bahan pangan yang sebelumnya mungkin tidak pernah masuk dalam daftar makanan yang saya kenal.
Salah satunya adalah Nypa Salt dari Papua. Kak Cora bercerita bahwa ketika tim pertama kali masuk ke hutan di Papua, mereka melihat masyarakat setempat tidak membawa garam seperti yang biasanya kita lakukan.
Ketika ditanya, jawabannya sederhana: alam sudah menyediakan.
Garam tersebut berasal dari pelepah nipah tua yang diolah oleh masyarakat setempat.
Dalam tradisi mereka, hasilnya berwarna hitam. Kemudian pengetahuan tersebut dipelajari dan dikembangkan melalui riset dan teknologi pangan hingga menghasilkan produk dengan karakteristik yang berbeda.
Karena kandungan sodiumnya berbeda dengan garam dapur, produk tersebut tidak dipasarkan sebagai garam, melainkan sebagai bumbu asin.
Cara pandang di balik cerita tersebut menurut saya menarik.
Masyarakat setempat sudah mengetahui bahwa sesuatu yang tumbuh di lingkungan mereka dapat dimanfaatkan sebagai bagian dari pangan. Pengetahuan tersebut kemudian bertemu dengan teknologi, penelitian, pengembangan produk, dan pasar.
Dari hutan ke dapur, dari pengetahuan lokal menjadi produk, ternyata ada rantai yang cukup panjang.
Dalam pemetaan pangan di Sumatra Selatan, tim Seniman Pangan juga menemukan jambu hutan yang tumbuh melimpah.
Tidak banyak yang menganggapnya penting. Buahnya bahkan bisa terinjak begitu saja.
Setelah dicoba, ternyata rasanya menarik. Ada karakter yang oleh tim digambarkan seperti perpaduan apel dan pir dengan tekstur sedikit berpasir.
Kemudian muncul ide untuk mengolahnya menjadi selai. Sederhana. Namun, kalau kita bawa ke kehidupan sehari-hari, berapa banyak tanaman di sekitar kita yang sebenarnya tidak pernah masuk radar hanya karena sejak awal kita sudah menganggapnya sebagai "bukan makanan"?
Persoalannya ternyata juga menyentuh soal selera dan pengetahuan.
Kalau tidak ada yang mengenali, mencoba, mengolah, lalu memperkenalkannya kembali, tanaman tersebut mungkin akan terus tumbuh tanpa pernah dianggap memiliki nilai. Padahal, bisa jadi ia menyimpan potensi sebagai sumber pangan.
Cerita serupa muncul pada jamur gerigit dari Sumatra Selatan.
Jamur musiman yang banyak muncul ketika musim hujan ini dikumpulkan oleh perempuan penjaga hutan yang menjadi mitra Seniman Pangan.
Setelah dikembangkan, karakter umaminya yang kuat membuatnya menarik untuk digunakan sebagai bahan pangan.
Dari cerita-cerita tersebut, saya semakin memahami bahwa keanekaragaman pangan bukan hanya berbicara tentang berapa banyak tanaman yang tersedia. Ia juga berkaitan dengan seberapa jauh pengetahuan kita dalam mengenali, mengolah, dan memanfaatkannya.
Dari Hutan ke Ekonomi
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya