
Belakangan saya mengetahui bahwa Hayao Miyazaki memang kerap menekankan hubungan antara manusia dan alam dalam karya-karyanya.
Mungkin itu pula yang membuat saya merasa seperti sedang memasuki dunia Ghibli ketika pertama kali menginjakkan kaki di Membumi Kopi.
Kami datang pada waktu yang cukup tanggung. Siang sudah lewat, tetapi sore belum benar-benar tiba. Perut pun sudah kenyang sehingga kami tidak mencari makanan lagi.
Kami hanya memesan segelas kopi panas dan es cokelat, kemudian memilih duduk di salah satu sudut yang menurut kami cukup menarik.
Sejujurnya, tempat ini tidak terlalu besar. Lokasinya berada di dalam gang, sementara area duduk tersedia di sisi kanan dan kiri jalan.
Bisa dibilang, tempat ini menyerupai teras rumah dengan lebar sekitar 1,5 meter yang ditata sedemikian rupa. Sebagian meja dan kursi lainnya berada di seberang jalan yang masih aktif dilalui kendaraan.
Meski kecil dan sederhana, penataan dengan unsur alami membuat tempat ini terasa menarik dan cukup instagrammable. Sulit rasanya untuk tidak mengeluarkan ponsel ketika berada di sana.
Ketika kami datang, hampir tidak ada pengunjung lain. Hanya ada seorang perempuan dengan rambut yang hampir plontos. Belakangan saya baru mengetahui bahwa ia juga merupakan seorang kawan dari dunia blogger.
Meski saat itu suasananya cukup sepi, kabarnya Membumi Kopi ramai dikunjungi ketika akhir pekan.
Kawan saya yang memilih tempat ini. Ia memang senang mendatangi kafe-kafe unik dan memiliki karakter berbeda.
Kami kemudian berbincang tentang kafe-kafe unik di berbagai negara, termasuk Vietnam, sekaligus membicarakan kemungkinan untuk mengunjunginya suatu hari nanti.
Dari situ saya baru menyadari bahwa sebuah tempat yang unik ternyata bisa menjadi pintu masuk menuju pembicaraan tentang tempat-tempat unik lainnya. Bahkan, sebuah kunjungan sederhana ke sebuah kafe bisa menumbuhkan keinginan untuk melakukan perjalanan yang lebih jauh.
Apa Jadinya Cipete Tanpa Kopi Tuku?
Bisa dibilang saya cukup terlambat mengetahui bahwa gerai pertama Kopi Tuku berada di Cipete.
Maklum, saya bukan penikmat kopi dan bisa dibilang cukup awam soal minuman yang satu ini. Saya justru baru mengetahui keberadaan gerai tersebut setelah nama Kopi Tuku digunakan sebagai bagian dari nama Stasiun MRT Cipete Raya Tuku.
Saat itu, banyak orang membicarakannya. Salah satu pertanyaan yang muncul adalah berapa besar nilai yang dikeluarkan Kopi Tuku untuk menggunakan nama tersebut.
Karena sebelumnya kami sudah mendatangi dua tempat makan, saya sendiri sudah cukup kenyang dan memilih tidak memesan kopi. Kawan saya akhirnya membeli kopi, sementara saya hanya membeli sepotong bolu wortel.
Sebenarnya, mengunjungi gerai pertama Kopi Tuku memang sudah masuk dalam wishlist saya.
Kapan lagi bisa mampir ke gerai pertama sebuah merek kopi yang namanya cukup dikenal luas?
Sekali lagi, saya perlu mengakui bahwa saya tidak terlalu memahami kopi. Bahkan, mencoba Kopi Tuku baru saya lakukan sekali seumur hidup.
Namun, nama Kopi Tuku cukup sering sampai ke telinga saya.
Pernah ada saudara yang datang dari Pontianak dan salah satu tujuannya ketika berada di Jakarta adalah mengunjungi Kopi Tuku. Ia bahkan membeli kopi dalam jumlah cukup banyak untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh.
Ada pula kawan dari Semarang yang setiap beberapa bulan sekali meluangkan waktu datang ke Jakarta untuk ngopi dan selalu menyempatkan diri mampir ke Kopi Tuku.
Saya sendiri tidak sepenuhnya memahami apa yang membuat kopi tersebut begitu populer. Namun, cerita-cerita semacam itu justru membuat saya semakin penasaran.
Gerai Kopi Tuku di Cipete terbagi menjadi dua bagian. Ada Toko Kopi Tuku yang menjual minuman dan makanan, serta Toko Serba Tuku yang menyediakan berbagai merchandise.