
Beberapa produk yang dijual cukup menarik perhatian. Salah satunya hand sanitizer dengan aroma kopi. Ada pula Kantung Krimer Daur Ulang yang diproduksi oleh UMKM di Gunung Sindur.
Kami memang tidak membeli merchandise apa pun karena tujuan utama saat itu hanya ingin mengetahui seperti apa gerai pertama Kopi Tuku.
Hari sudah semakin sore. Kami akhirnya memutuskan untuk berpisah di Kopi Tuku. Kawan saya pulang menggunakan ojek, sementara saya melanjutkan perjalanan menuju sebuah toko buku independen di kawasan Fatmawati.
Berbelok ke Toko Buku Kios Ojo Keos
Memang, Kios Ojo Keos tidak berada di Cipete. Namun, karena lokasinya tidak terlalu jauh, saya memutuskan untuk sekalian mengunjunginya.
Sepertinya hampir seluruh toko buku independen yang cukup dikenal di Jakarta sudah pernah saya datangi, kecuali satu: Kios Ojo Keos.
Salah satu alasan saya belum pernah datang adalah lokasinya yang terasa cukup jauh.
Mungkin pembaca masih ingat bahwa bagi pengguna transportasi umum seperti saya, ukuran jauh dan dekat tidak selalu ditentukan oleh jarak. Yang lebih penting adalah seberapa mudah sebuah tempat dijangkau menggunakan transportasi umum.
Beruntung hari itu saya membawa motor. Persoalan jarak pun menjadi sedikit lebih sederhana.
Sebelumnya saya membayangkan Kios Ojo Keos berada di antara deretan kios kecil, seperti Kobam Menteng, atau berada di dalam pasar maupun gedung lama seperti Post Santa.
Ternyata dugaan saya keliru. Toko buku ini berada di deretan ruko yang cukup besar. Saya bahkan sempat terkecoh ketika mencarinya.
Saya juga membayangkan tempatnya kecil dan sempit. Kenyataannya, Kios Ojo Keos cukup luas.
Seperti toko buku pada umumnya, tersedia rak-rak buku yang bisa dijelajahi pengunjung. Ada pula area yang memungkinkan orang membaca buku dengan lebih nyaman.
Selain itu, tersedia cukup banyak meja dan kursi bagi mereka yang ingin membaca, mengerjakan tugas, atau sekadar menghabiskan waktu.
Salah satu hal yang saya sukai dari toko buku independen adalah karakter masing-masing tempat yang tidak selalu seragam.
Setiap toko seperti memiliki identitasnya sendiri. Penataannya terasa lebih natural dan tidak terlalu terikat pada pola yang sama.
Di Kios Ojo Keos, pengunjung tidak hanya bisa mencari dan membaca buku. Tempat ini juga dapat menjadi ruang untuk mengerjakan tugas, menikmati kopi, atau sesekali mengikuti berbagai kegiatan dan diskusi literasi.
Hari itu pun akhirnya menjadi perjalanan yang cukup panjang.
Dimulai dari sebuah perpustakaan dan workspace kecil, dilanjutkan dengan makan siang di restoran bernuansa tempo dulu, menikmati kopi dan cokelat di kafe mungil yang dipenuhi tanaman, mampir ke gerai pertama Kopi Tuku, kemudian ditutup dengan mengunjungi toko buku independen di kawasan Fatmawati.
Semua tempat tersebut tidak membutuhkan perjalanan ke luar kota. Tidak pula harus dimulai dari destinasi wisata yang sudah sangat dikenal.
Cukup memilih satu kawasan, berjalan perlahan, lalu melihat apa saja yang ada di sekitarnya. Begitulah satu hari saya berlalu di Cipete dan sekitarnya.
Jakarta ternyata menyimpan banyak cerita di sudut-sudut yang selama ini mungkin luput dari perhatian. Lalu, kawasan mana lagi yang sebaiknya saya jelajahi berikutnya?
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Cara Menghabiskan Hari di Cipete dan Sekitarnya"
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.