
Bagaimana rasanya ketika gempa bumi tidak hanya mengguncang rumah dan lingkungan sekitar, tetapi juga meninggalkan rasa takut yang terus terbawa bahkan setelah getaran berhenti?
Selain itu, bagaimana keluarga yang berada jauh dari kita memulihkan rasa aman, menghadapi gempa susulan, dan perlahan kembali menjalani kehidupan seperti sebelumnya?
Situasi pascagempa bumi yang terjadi di Pulau Flores menghadirkan rasa penasaran sekaligus kekhawatiran bagi saya yang sedang merantau jauh dari kampung halaman. Bagaimana keadaan keluarga di rumah menjadi pertanyaan yang muncul hampir setiap saat setelah peristiwa tersebut terjadi.
Saya terus menanyakan kabar dan situasi keluarga di rumah. Rasanya sedih ketika mendengar cerita tentang keluarga yang mengalami kesusahan, rumah yang ambruk, hingga tempat ibadah yang dibangun melalui gotong royong masyarakat mengalami kerusakan cukup berat. Di tengah kondisi tersebut, bantuan juga belum sepenuhnya dapat dirasakan secara merata.
Dari cerita teman-teman dan anggota keluarga, gempa bumi susulan masih terjadi di kota kami. Tidak sedikit keluarga yang memilih tidur di luar rumah dengan mendirikan tenda darurat, meskipun rumah mereka sebenarnya masih dalam kondisi utuh.
Keluarga saya sendiri memilih untuk berkumpul di salah satu ruangan besar di rumah. Pintu rumah tidak dikunci. Tujuannya sederhana, agar apabila gempa bumi kembali terjadi, setiap anggota keluarga dapat lebih mudah keluar dan mencari tempat yang dianggap aman.
Di balik berbagai pilihan tersebut, ada rasa takut yang masih tertinggal. Bagi sebagian orang, gempa bumi yang terjadi kali ini disebut sebagai salah satu yang terkuat yang pernah mereka rasakan sepanjang hidup. Ketika pengalaman tersebut juga disertai korban jiwa dan kerugian material yang tidak sedikit, wajar apabila rasa aman ikut terguncang.
Rasa takut dan cemas tersebut kemudian dapat muncul dalam berbagai bentuk. Getaran akibat gempa bumi susulan, misalnya, membuat sebagian masyarakat spontan panik, berlari mencari tempat aman, berteriak memanggil nama Tuhan, atau memilih tetap berada di luar rumah karena belum merasa cukup tenang untuk kembali masuk.
Untuk kembali menjalani kehidupan seperti sebelumnya tentu bukan perkara mudah. Setelah sebuah bencana terjadi, pemulihan tidak hanya menyangkut rumah, bangunan, dan fasilitas yang rusak. Rasa aman dan ketenangan orang-orang yang mengalaminya juga membutuhkan waktu untuk pulih.
Karena itu, menurut saya, pendampingan bagi masyarakat setelah bencana perlu mendapat perhatian. Bukan hanya bantuan berupa kebutuhan pokok dan layanan medis, tetapi juga dukungan psikologis yang dapat membantu masyarakat menghadapi rasa takut dan kecemasan yang muncul setelah bencana.
Apalagi, dalam kondisi tertentu, rangsangan yang sebenarnya tidak berbahaya pun dapat mengingatkan seseorang pada pengalaman gempa.
Saya membaca unggahan seorang teman yang mengeluhkan suara musik dari mobil yang cukup keras. Getaran dari suara tersebut ternyata sempat membuatnya panik karena mengira sedang terjadi gempa bumi susulan.
Pengalaman semacam itu menunjukkan bahwa pemulihan dari bencana bukan sesuatu yang bisa dipaksakan berlangsung cepat. Karena itu, pendampingan psikologis yang sistematis dan profesional dapat menjadi bagian penting dalam membantu masyarakat melewati masa setelah bencana.
Harapannya, selain tenaga medis, pemerintah juga dapat menyediakan atau memfasilitasi tim yang memiliki kompetensi untuk mendampingi masyarakat dalam menghadapi dampak psikologis pascabencana.
Pendampingan semacam ini tentu perlu dilakukan dengan memperhatikan kondisi dan kebutuhan masing-masing orang.
Di sisi lain, ada beberapa hal sederhana yang menurut saya juga dapat dilakukan untuk membantu menjaga ketenangan selama masa pemulihan.
Lebih Selektif Mengonsumsi Informasi
Hal pertama adalah lebih selektif dalam mengonsumsi berita dan informasi mengenai gempa bumi. Di tengah derasnya informasi di media sosial, kita tidak harus membaca atau mengikuti setiap kabar yang beredar.
Informasi mengenai gempa sebaiknya berasal dari sumber yang dapat dipercaya, terutama lembaga resmi yang memang memiliki kewenangan dan kompetensi dalam menangani informasi kebencanaan.
Kita juga perlu berhati-hati terhadap berbagai prediksi atau informasi yang tidak memiliki sumber jelas. Dalam situasi bencana, informasi yang belum terverifikasi dapat dengan mudah menambah kecemasan, terlebih bagi mereka yang memang sedang berada dalam kondisi takut.
Berbagai berita mengenai bencana alam memang sulit dihindari. Media sosial membuat informasi dapat menyebar dalam hitungan detik. Namun, justru karena itulah kemampuan untuk memilih informasi menjadi semakin penting.
Informasi yang keliru bukan hanya berpotensi menyesatkan. Dalam situasi tertentu, informasi tersebut juga dapat memperkuat rasa takut dan membuat seseorang semakin sulit merasa aman.
Karena itu, selama berada dalam situasi bencana atau masa pemulihan, tidak ada salahnya memberikan jeda kepada diri sendiri dari arus informasi yang terlalu deras. Kita tetap perlu mengetahui informasi penting mengenai kondisi terkini, tetapi tidak berarti harus terus-menerus mengikuti setiap kabar yang beredar.
Sesekali, memberikan ruang bagi pikiran untuk beristirahat juga penting. Mencari aktivitas yang membuat hati lebih tenang dapat menjadi salah satu cara sederhana untuk menjaga diri di tengah situasi yang belum sepenuhnya pulih.
Saling Memberikan Dukungan
Hal kedua adalah saling memberikan dukungan. Dukungan ini dapat datang dari orang-orang yang berada jauh dari lokasi bencana maupun dari mereka yang mengalaminya secara langsung.
Sebagai seseorang yang sedang berada jauh dari keluarga, saya mungkin tidak bisa banyak membantu secara langsung. Yang bisa saya lakukan adalah terus menghubungi mereka dan memberikan dukungan moral.
Salah satunya dengan berbagi pengalaman pribadi ketika pernah berada di episentrum gempa bumi pada 2024 di Filipina bagian utara, yang saat itu berkekuatan 7,0. Dari pengalaman tersebut, saya mencoba menyampaikan kepada keluarga bahwa gempa bumi susulan memang dapat terjadi setelah gempa utama.
Bukan untuk membuat mereka semakin takut, melainkan agar mereka memiliki sedikit gambaran mengenai apa yang mungkin terjadi setelah gempa utama. Dengan mengetahui hal tersebut, saya berharap mereka dapat menghadapi situasi dengan lebih tenang dan tetap memperhatikan keselamatan.
Perlahan, kita memang perlu berdamai dengan kenyataan bahwa gempa susulan merupakan salah satu kemungkinan setelah gempa utama. Namun, menerima kenyataan tersebut tentu bukan berarti mengabaikan kewaspadaan.
Justru sebaliknya, kesadaran tersebut dapat menjadi pengingat untuk tetap berhati-hati, waspada, dan tidak gegabah setiap kali merasakan getaran.
Di antara para penyintas atau masyarakat yang berada di lokasi terdampak, dukungan juga dapat hadir dalam berbagai bentuk. Bisa berupa bantuan praktis, menemani satu sama lain, saling berbagi kebutuhan, atau sekadar memberikan kata-kata yang menenangkan.
Saya percaya tidak semua orang akan merespons bencana dengan cara yang sama. Ada yang mungkin dapat tetap tenang, sementara yang lain membutuhkan waktu lebih panjang untuk kembali merasa aman.
Mereka yang lebih tenang dapat membantu memberikan rasa aman kepada orang-orang di sekitarnya. Bukan dengan mengatakan bahwa rasa takut itu berlebihan, melainkan dengan hadir, mendengarkan, dan membantu ketika diperlukan.
Dalam situasi seperti ini, solidaritas menjadi sangat penting. Masyarakat yang saling menguatkan dapat membantu satu sama lain melewati masa sulit dengan lebih baik.
Pada akhirnya, proses pemulihan setelah bencana memang tidak sederhana. Ada rumah yang harus dibangun kembali, fasilitas yang perlu diperbaiki, aktivitas ekonomi yang harus dipulihkan, dan tentu saja rasa aman yang perlahan perlu tumbuh kembali.
Karena itu, penanganan pascabencana semestinya tidak berhenti ketika gempa utama telah berlalu. Masyarakat juga membutuhkan ruang untuk memulihkan diri dari pengalaman yang mereka alami.
Pendampingan profesional tetap penting bagi mereka yang membutuhkan. Di saat yang sama, dukungan keluarga, teman, tetangga, dan komunitas juga memiliki arti yang tidak kecil.
Bagi saya yang berada jauh dari keluarga, pengalaman ini kembali mengingatkan bahwa ketika bencana datang, yang paling kita butuhkan bukan hanya informasi tentang kapan gempa berikutnya akan terjadi atau bantuan berupa kebutuhan sehari-hari.
Kita juga membutuhkan rasa aman. Dan rasa aman itu kadang tumbuh dari hal-hal sederhana: keluarga yang saling mengabari, tetangga yang saling membantu, informasi yang disampaikan dengan benar, serta seseorang yang bersedia berkata, "Kita hadapi ini bersama-sama."
Mungkin gempa bumi tidak dapat kita cegah. Namun, kita dapat belajar untuk lebih siap menghadapinya dan membantu mereka yang masih berusaha memulihkan diri setelah mengalaminya.
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Keluarga Saya Trauma Gegara Gempa Bumi, Apa yang Perlu Dilakukan?"
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.