Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Gobin Dd
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Gobin Dd adalah seorang yang berprofesi sebagai Buruh. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Setelah Gempa Berlalu, Bagaimana Mengembalikan Rasa Aman?

Kompas.com, 31 Agustus 2026, 12:08 WIB

Bagaimana rasanya ketika gempa bumi tidak hanya mengguncang rumah dan lingkungan sekitar, tetapi juga meninggalkan rasa takut yang terus terbawa bahkan setelah getaran berhenti?

Selain itu, bagaimana keluarga yang berada jauh dari kita memulihkan rasa aman, menghadapi gempa susulan, dan perlahan kembali menjalani kehidupan seperti sebelumnya?

Situasi pascagempa bumi yang terjadi di Pulau Flores menghadirkan rasa penasaran sekaligus kekhawatiran bagi saya yang sedang merantau jauh dari kampung halaman. Bagaimana keadaan keluarga di rumah menjadi pertanyaan yang muncul hampir setiap saat setelah peristiwa tersebut terjadi.

Saya terus menanyakan kabar dan situasi keluarga di rumah. Rasanya sedih ketika mendengar cerita tentang keluarga yang mengalami kesusahan, rumah yang ambruk, hingga tempat ibadah yang dibangun melalui gotong royong masyarakat mengalami kerusakan cukup berat. Di tengah kondisi tersebut, bantuan juga belum sepenuhnya dapat dirasakan secara merata.

Dari cerita teman-teman dan anggota keluarga, gempa bumi susulan masih terjadi di kota kami. Tidak sedikit keluarga yang memilih tidur di luar rumah dengan mendirikan tenda darurat, meskipun rumah mereka sebenarnya masih dalam kondisi utuh.

Keluarga saya sendiri memilih untuk berkumpul di salah satu ruangan besar di rumah. Pintu rumah tidak dikunci. Tujuannya sederhana, agar apabila gempa bumi kembali terjadi, setiap anggota keluarga dapat lebih mudah keluar dan mencari tempat yang dianggap aman.

Di balik berbagai pilihan tersebut, ada rasa takut yang masih tertinggal. Bagi sebagian orang, gempa bumi yang terjadi kali ini disebut sebagai salah satu yang terkuat yang pernah mereka rasakan sepanjang hidup. Ketika pengalaman tersebut juga disertai korban jiwa dan kerugian material yang tidak sedikit, wajar apabila rasa aman ikut terguncang.

Rasa takut dan cemas tersebut kemudian dapat muncul dalam berbagai bentuk. Getaran akibat gempa bumi susulan, misalnya, membuat sebagian masyarakat spontan panik, berlari mencari tempat aman, berteriak memanggil nama Tuhan, atau memilih tetap berada di luar rumah karena belum merasa cukup tenang untuk kembali masuk.

Untuk kembali menjalani kehidupan seperti sebelumnya tentu bukan perkara mudah. Setelah sebuah bencana terjadi, pemulihan tidak hanya menyangkut rumah, bangunan, dan fasilitas yang rusak. Rasa aman dan ketenangan orang-orang yang mengalaminya juga membutuhkan waktu untuk pulih.

Karena itu, menurut saya, pendampingan bagi masyarakat setelah bencana perlu mendapat perhatian. Bukan hanya bantuan berupa kebutuhan pokok dan layanan medis, tetapi juga dukungan psikologis yang dapat membantu masyarakat menghadapi rasa takut dan kecemasan yang muncul setelah bencana.

Apalagi, dalam kondisi tertentu, rangsangan yang sebenarnya tidak berbahaya pun dapat mengingatkan seseorang pada pengalaman gempa.

Saya membaca unggahan seorang teman yang mengeluhkan suara musik dari mobil yang cukup keras. Getaran dari suara tersebut ternyata sempat membuatnya panik karena mengira sedang terjadi gempa bumi susulan.

Pengalaman semacam itu menunjukkan bahwa pemulihan dari bencana bukan sesuatu yang bisa dipaksakan berlangsung cepat. Karena itu, pendampingan psikologis yang sistematis dan profesional dapat menjadi bagian penting dalam membantu masyarakat melewati masa setelah bencana.

Harapannya, selain tenaga medis, pemerintah juga dapat menyediakan atau memfasilitasi tim yang memiliki kompetensi untuk mendampingi masyarakat dalam menghadapi dampak psikologis pascabencana.

Pendampingan semacam ini tentu perlu dilakukan dengan memperhatikan kondisi dan kebutuhan masing-masing orang.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Danau Singkarak, Lebih dari Sekadar Pemandangan Indah
Danau Singkarak, Lebih dari Sekadar Pemandangan Indah
Kata Netizen
Perempuan dan Masa Depan Investasi di Pasar Modal
Perempuan dan Masa Depan Investasi di Pasar Modal
Kata Netizen
Anak Belajar Mengenal Tradisi Daerah lewat Karnaval Budaya
Anak Belajar Mengenal Tradisi Daerah lewat Karnaval Budaya
Kata Netizen
Sekolah dan Kuliah Gratis, Apakah Kesempatan Belajar Jadi Setara?
Sekolah dan Kuliah Gratis, Apakah Kesempatan Belajar Jadi Setara?
Kata Netizen
Cerita Musim Kemarau di NTT, dari Pohon Lontar ke Gula Lempeng
Cerita Musim Kemarau di NTT, dari Pohon Lontar ke Gula Lempeng
Kata Netizen
Mengenal TB Lebih Dekat, dari Penularan hingga Pencegahannya
Mengenal TB Lebih Dekat, dari Penularan hingga Pencegahannya
Kata Netizen
Ketemu Vitamin A-syik saat Jogging Malam di Manahan
Ketemu Vitamin A-syik saat Jogging Malam di Manahan
Kata Netizen
Menjadi Guru Tak Cukup Hanya dengan Keikhlasan
Menjadi Guru Tak Cukup Hanya dengan Keikhlasan
Kata Netizen
Anggrek Membawa Saya Kembali kepada Kuntowijoyo
Anggrek Membawa Saya Kembali kepada Kuntowijoyo
Kata Netizen
Mindfulness Bukan Sekadar Menjauh dari Kabar Buruk
Mindfulness Bukan Sekadar Menjauh dari Kabar Buruk
Kata Netizen
Menyusuri Jejak Sejarah Kali Pepe di Tengah Kota Solo
Menyusuri Jejak Sejarah Kali Pepe di Tengah Kota Solo
Kata Netizen
Karhutla Mapongka Mendekati Bandara dan Sekolah Rakyat
Karhutla Mapongka Mendekati Bandara dan Sekolah Rakyat
Kata Netizen
Kesendirian Tak Lagi Menjadi Sesuatu yang Menakutkan
Kesendirian Tak Lagi Menjadi Sesuatu yang Menakutkan
Kata Netizen
Brokoli Kuning dan Cara Sederhana Membuat Taman Lebih Hidup
Brokoli Kuning dan Cara Sederhana Membuat Taman Lebih Hidup
Kata Netizen
Keluarga Stucky, di Balik Awal Pendidikan Perempuan di Malang
Keluarga Stucky, di Balik Awal Pendidikan Perempuan di Malang
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Terpopuler
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau