
***
Ketika mulai sering mengalami mual dan muntah, salah satu hal yang bisa dilakukan adalah menghindari makan dalam porsi besar sekaligus. Makan sedikit demi sedikit tetapi lebih sering dapat membantu asupan makanan masuk secara bertahap.
Setelah muntah, kita juga dapat memberi jeda sebelum mencoba makan kembali. Makanan yang terlalu pedas, panas, atau banyak mengandung gula dapat dihindari apabila memang menjadi pemicu mual.
Ketika mulai merasa mual, sebagian orang mungkin merasa lebih nyaman dengan makanan sederhana seperti makanan asin, roti bakar, pisang, jagung, atau biskuit. Dalam pemeriksaan kehamilan, tenaga kesehatan juga dapat memberikan obat untuk membantu mengatasi mual sesuai dengan kondisi ibu.
Kabar baiknya, morning sickness umumnya mulai berkurang ketika kehamilan memasuki trimester kedua, sekitar usia kehamilan 13 minggu.
Namun, sebagian ibu hamil dengan kondisi tertentu dapat mengalami mual dan muntah lebih lama. Setiap kehamilan memiliki pengalaman yang berbeda, sehingga kondisi masing-masing ibu tetap perlu diperhatikan.
Bukan Merepotkan, Tubuh Sedang Beradaptasi
Huft, rasanya tentu tidak menyenangkan ketika ada yang mengatakan, "Masih hamil muda saja sudah merepotkan."
Mungkin orang yang mengatakannya tidak bermaksud menyakiti. Namun, bagi ibu hamil yang sedang menghadapi mual, muntah, tubuh lemas, dan perubahan emosi, kalimat seperti itu bisa terasa cukup berat.
Tidak semua orang mengetahui bagaimana rasanya mengalami mual dan muntah sampai tubuh terasa lemas. Ini bukan sekadar merasa tidak enak badan. Kondisi tersebut juga dapat membuat aktivitas sehari-hari terasa jauh lebih melelahkan.
Pekerjaan yang biasanya bisa saya selesaikan dengan cepat menjadi membutuhkan waktu lebih lama. Pekerjaan rumah pun terasa lebih berat. Seandainya tidak mendapatkan bantuan dari suami, mungkin saya akan lebih kewalahan menjalani hari-hari tersebut.
Belum lagi perubahan hormon yang dapat membuat emosi lebih mudah naik turun. Saya menjadi lebih mudah marah ketika anak melakukan kesalahan. Rasa marah itu pun terkadang berpengaruh pada kondisi tubuh, hingga membuat kepala terasa sakit dan jantung berdebar lebih cepat.
Dalam situasi tertentu, emosi saya dapat berubah cukup cepat. Dari tertawa kemudian menangis. Intinya, saya menjadi lebih sensitif secara emosional dan tidak selalu mudah mengatur suasana hati agar tetap stabil.
Saya memahami bahwa mendampingi ibu hamil, terutama pada masa awal kehamilan, tidak selalu mudah. Orang-orang di sekitarnya juga mungkin membutuhkan penyesuaian. Tidak semua orang langsung memahami perubahan yang sedang terjadi.
Namun, mungkin ada cara pandang yang perlu kita ubah. Ibu hamil bukan sedang sengaja merepotkan orang-orang di sekitarnya. Tubuhnya sedang mengalami perubahan besar untuk menyiapkan kehidupan baru.