
Hal serupa juga terjadi dengan teman-teman kuliah saya.
Saat itu saya berteman dekat dengan tiga orang kawan satu jurusan. Kami pertama kali bertemu ketika mengikuti ospek fakultas dan kebetulan berada dalam kelompok yang sama.
Memasuki semester tujuh, kami mulai sibuk dengan urusan masing-masing. Pertemanan perlahan merenggang, meskipun sesekali masih bertemu dan berbincang ketika kebetulan berada di kampus yang sama. Hubungan itu semakin jarang terjalin ketika kami satu per satu lulus dan melanjutkan kehidupan masing-masing.
Setelah lama tidak berjumpa dan berkomunikasi, saya kembali bertemu dengan mereka. Masing-masing dalam tempat dan waktu yang berbeda.
Salah seorang dari mereka bahkan sudah menikah. Saya ikut bahagia ketika mengetahuinya, terlebih karena ternyata ia menikah dengan laki-laki yang sudah ditaksirnya sejak tahun pertama kuliah.
Seperti halnya teman SMA saya, bertemu kembali dengan mereka setelah sekian lama ternyata tidak terasa canggung, dingin, ataupun kaku. Saya masih menemukan keakraban, keramahan, ketulusan, dan kehangatan yang sama dalam pertemanan tersebut.
Friendship Breakup atau Friendship Dormant?
Alih-alih menyebutnya sebagai friendship breakup, saya lebih suka menyebut kondisi hubungan pertemanan seperti yang saya alami sebagai pertemanan yang tidak aktif atau friendship dormant.
Perlahan saya mulai memahami dan menerima bahwa dalam pertemanan orang dewasa, mungkin yang lebih penting bukan seberapa sering kami berkomunikasi atau bertemu, melainkan bagaimana interaksi kami ketika akhirnya berjumpa kembali.
Apakah semuanya terasa kaku dan canggung? Atau justru tegur sapa dan obrolan dapat kembali mengalir secara natural?
Hubungan pertemanan memang merenggang, tetapi bukan berarti berubah menjadi permusuhan. Ketika bertemu kembali, tidak ada yang sengaja menghindar atau berpura-pura tidak saling mengenal.
Kami bukan memutus pertemanan. Hidup hanya membawa kami ke arah yang berbeda sehingga kami tidak lagi menjadi bagian dari keseharian masing-masing.
Ekspektasi yang Beradaptasi
Ketika masih berada di sekolah atau kampus, kemungkinan untuk pergi bersama, berbincang setiap hari, atau saling bercerita ketika menghadapi masalah memang lebih besar. Tanpa disadari, kebiasaan tersebut kemudian membentuk ekspektasi terhadap sebuah pertemanan.
Ketika dewasa dan masing-masing memiliki kehidupan sendiri, persoalan bisa muncul jika salah satu pihak masih berharap hubungan tersebut berjalan seperti dulu.