
Misalnya, kamu bersahabat dengan seseorang sejak kuliah. Ia merupakan teman yang selalu sabar mendengarkan keluh kesahmu. Kemudian kalian lulus. Tidak lama setelah itu, temanmu menikah dan memiliki anak. Kehidupan kalian pun mulai berubah.
Karena sudah menikah dan memiliki anak, wajar jika temanmu menjadi lebih sibuk mengurus keluarga. Ia mungkin tidak lagi memiliki waktu dan energi sebanyak ketika masih kuliah untuk mendengarkan semua ceritamu.
Jika kamu masih berharap ia akan bersikap seperti saat kuliah dulu, kekecewaan mungkin muncul. Di sisi lain, temanmu juga bisa merasa lelah jika melihat bahwa kamu tidak berusaha memahami perubahan kehidupannya.
Pertemanan adalah relasi yang fluid. Ia dapat berubah mengikuti perubahan orang-orang yang berada di dalamnya.
Jarak bukan berarti pertemanan rusak atau berakhir. Perubahan bentuk sebuah pertemanan juga tidak selalu harus diartikan sebagai friendship breakup.
Pada akhirnya, pertemanan yang sehat membutuhkan rasa hormat, empati, dan kelapangan hati untuk menerima bahwa pertemanan di usia dewasa tidak selalu dapat dipertahankan dalam bentuk yang sama seperti pada masa lalu.
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Ketika Pertemanan Merenggang, Bisakah Disebut Friendship Breakup?"
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.