
Ketika dua orang yang dulu begitu dekat mulai jarang berkomunikasi, apakah itu berarti pertemanan mereka telah berakhir? Atau, jangan-jangan, hubungan pertemanan memang bisa berubah bentuk tanpa harus benar-benar putus?
Saat ini, memberi label pada sebuah hubungan rasanya tidak sesederhana dulu. Untuk menyebut hubungan antara dua orang lawan jenis saja, misalnya, istilah yang digunakan semakin beragam. Tidak lagi sekadar teman, pacar, pasangan suami istri, atau mantan.
Patah hati yang selama ini lebih sering dikaitkan dengan hubungan romantis pun kini mulai digunakan untuk menggambarkan berakhirnya sebuah hubungan pertemanan. Istilahnya, friendship breakup atau putus pertemanan.
Baik putus dengan pacar maupun putus pertemanan, keduanya sama-sama bisa menyakitkan. Bedanya, dalam hubungan romantis, status biasanya lebih jelas. Ada kesepakatan untuk mengakhiri hubungan dan ada status "mantan", sehingga kita lebih tahu bagaimana harus menyikapinya.
Sementara itu, putus pertemanan berada di wilayah yang lebih abu-abu. Tidak selalu diawali masalah atau pertengkaran besar.
Terkadang, hubungan hanya perlahan berubah: komunikasi semakin jarang, interaksi terasa canggung dan berjarak, hingga akhirnya pertemanan tersebut terasa tidak lagi menjadi bagian dari keseharian.
Kondisi semacam ini bisa membuat kita bertanya-tanya, "Aku salah apa, ya?", "Kok kita jadi begini?", atau "Apakah kita sudah tidak berteman lagi?"
Ada ruang kosong yang muncul, tetapi tidak selalu ada jawaban yang bisa menjelaskannya.
Hal ini tentu berbeda dengan pertemanan yang berakhir karena perbedaan nilai dan prinsip yang semakin runcing. Begitu pula dengan hubungan yang sengaja dijaga jaraknya karena lingkaran pertemanan mulai terasa toksik.
Dalam kondisi seperti itu, menjauh dari lingkungan pertemanan yang tidak sehat justru dapat menjadi pilihan untuk menjaga ketenangan dan kesehatan diri.
Berpisah Jalan = Tidak Berteman Lagi?
Kehidupan sebagai orang dewasa perlahan membawa kita ke jalan yang berbeda. Tidak peduli sedekat apa pun saya dan sahabat-sahabat pada masa sekolah atau kuliah, komunikasi dan pertemuan tatap muka bisa menjadi semakin jarang.
Lalu, apakah itu berarti kami sudah tidak berteman lagi?
Saya memiliki seorang teman dekat semasa SMA yang setelah lulus tidak pernah lagi bertemu maupun berkomunikasi melalui media apa pun. Sampai suatu ketika, saat saya baru lulus S1 dan menjadi pekerja baru, kami tidak sengaja bertemu di sebuah supermarket.
Saya masih mengingat ekspresi wajahnya saat itu. Ia tiba-tiba begitu heboh—memang begitulah karakternya yang ceria—lalu memeluk saya tanpa peduli supermarket sedang ramai. Cara tersenyum, menyapa, dan berinteraksi dengan saya masih sama seperti ketika kami duduk bersama di bangku SMA.
Hal serupa juga terjadi dengan teman-teman kuliah saya.
Saat itu saya berteman dekat dengan tiga orang kawan satu jurusan. Kami pertama kali bertemu ketika mengikuti ospek fakultas dan kebetulan berada dalam kelompok yang sama.
Memasuki semester tujuh, kami mulai sibuk dengan urusan masing-masing. Pertemanan perlahan merenggang, meskipun sesekali masih bertemu dan berbincang ketika kebetulan berada di kampus yang sama. Hubungan itu semakin jarang terjalin ketika kami satu per satu lulus dan melanjutkan kehidupan masing-masing.
Setelah lama tidak berjumpa dan berkomunikasi, saya kembali bertemu dengan mereka. Masing-masing dalam tempat dan waktu yang berbeda.
Salah seorang dari mereka bahkan sudah menikah. Saya ikut bahagia ketika mengetahuinya, terlebih karena ternyata ia menikah dengan laki-laki yang sudah ditaksirnya sejak tahun pertama kuliah.
Seperti halnya teman SMA saya, bertemu kembali dengan mereka setelah sekian lama ternyata tidak terasa canggung, dingin, ataupun kaku. Saya masih menemukan keakraban, keramahan, ketulusan, dan kehangatan yang sama dalam pertemanan tersebut.
Friendship Breakup atau Friendship Dormant?
Alih-alih menyebutnya sebagai friendship breakup, saya lebih suka menyebut kondisi hubungan pertemanan seperti yang saya alami sebagai pertemanan yang tidak aktif atau friendship dormant.
Perlahan saya mulai memahami dan menerima bahwa dalam pertemanan orang dewasa, mungkin yang lebih penting bukan seberapa sering kami berkomunikasi atau bertemu, melainkan bagaimana interaksi kami ketika akhirnya berjumpa kembali.
Apakah semuanya terasa kaku dan canggung? Atau justru tegur sapa dan obrolan dapat kembali mengalir secara natural?
Hubungan pertemanan memang merenggang, tetapi bukan berarti berubah menjadi permusuhan. Ketika bertemu kembali, tidak ada yang sengaja menghindar atau berpura-pura tidak saling mengenal.
Kami bukan memutus pertemanan. Hidup hanya membawa kami ke arah yang berbeda sehingga kami tidak lagi menjadi bagian dari keseharian masing-masing.
Ekspektasi yang Beradaptasi
Ketika masih berada di sekolah atau kampus, kemungkinan untuk pergi bersama, berbincang setiap hari, atau saling bercerita ketika menghadapi masalah memang lebih besar. Tanpa disadari, kebiasaan tersebut kemudian membentuk ekspektasi terhadap sebuah pertemanan.
Ketika dewasa dan masing-masing memiliki kehidupan sendiri, persoalan bisa muncul jika salah satu pihak masih berharap hubungan tersebut berjalan seperti dulu.
Misalnya, kamu bersahabat dengan seseorang sejak kuliah. Ia merupakan teman yang selalu sabar mendengarkan keluh kesahmu. Kemudian kalian lulus. Tidak lama setelah itu, temanmu menikah dan memiliki anak. Kehidupan kalian pun mulai berubah.
Karena sudah menikah dan memiliki anak, wajar jika temanmu menjadi lebih sibuk mengurus keluarga. Ia mungkin tidak lagi memiliki waktu dan energi sebanyak ketika masih kuliah untuk mendengarkan semua ceritamu.
Jika kamu masih berharap ia akan bersikap seperti saat kuliah dulu, kekecewaan mungkin muncul. Di sisi lain, temanmu juga bisa merasa lelah jika melihat bahwa kamu tidak berusaha memahami perubahan kehidupannya.
Pertemanan adalah relasi yang fluid. Ia dapat berubah mengikuti perubahan orang-orang yang berada di dalamnya.
Jarak bukan berarti pertemanan rusak atau berakhir. Perubahan bentuk sebuah pertemanan juga tidak selalu harus diartikan sebagai friendship breakup.
Pada akhirnya, pertemanan yang sehat membutuhkan rasa hormat, empati, dan kelapangan hati untuk menerima bahwa pertemanan di usia dewasa tidak selalu dapat dipertahankan dalam bentuk yang sama seperti pada masa lalu.
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Ketika Pertemanan Merenggang, Bisakah Disebut Friendship Breakup?"
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.