Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Luna Septalisa
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Luna Septalisa adalah seorang yang berprofesi sebagai Administrasi. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Pertemanan yang Merenggang Tak Selalu Berarti Putus

Kompas.com, 31 Agustus 2026, 16:11 WIB

Ketika dua orang yang dulu begitu dekat mulai jarang berkomunikasi, apakah itu berarti pertemanan mereka telah berakhir? Atau, jangan-jangan, hubungan pertemanan memang bisa berubah bentuk tanpa harus benar-benar putus?

Saat ini, memberi label pada sebuah hubungan rasanya tidak sesederhana dulu. Untuk menyebut hubungan antara dua orang lawan jenis saja, misalnya, istilah yang digunakan semakin beragam. Tidak lagi sekadar teman, pacar, pasangan suami istri, atau mantan.

Patah hati yang selama ini lebih sering dikaitkan dengan hubungan romantis pun kini mulai digunakan untuk menggambarkan berakhirnya sebuah hubungan pertemanan. Istilahnya, friendship breakup atau putus pertemanan.

Baik putus dengan pacar maupun putus pertemanan, keduanya sama-sama bisa menyakitkan. Bedanya, dalam hubungan romantis, status biasanya lebih jelas. Ada kesepakatan untuk mengakhiri hubungan dan ada status "mantan", sehingga kita lebih tahu bagaimana harus menyikapinya.

Sementara itu, putus pertemanan berada di wilayah yang lebih abu-abu. Tidak selalu diawali masalah atau pertengkaran besar.

Terkadang, hubungan hanya perlahan berubah: komunikasi semakin jarang, interaksi terasa canggung dan berjarak, hingga akhirnya pertemanan tersebut terasa tidak lagi menjadi bagian dari keseharian.

Kondisi semacam ini bisa membuat kita bertanya-tanya, "Aku salah apa, ya?", "Kok kita jadi begini?", atau "Apakah kita sudah tidak berteman lagi?"

Ada ruang kosong yang muncul, tetapi tidak selalu ada jawaban yang bisa menjelaskannya.

Hal ini tentu berbeda dengan pertemanan yang berakhir karena perbedaan nilai dan prinsip yang semakin runcing. Begitu pula dengan hubungan yang sengaja dijaga jaraknya karena lingkaran pertemanan mulai terasa toksik.

Dalam kondisi seperti itu, menjauh dari lingkungan pertemanan yang tidak sehat justru dapat menjadi pilihan untuk menjaga ketenangan dan kesehatan diri.

Berpisah Jalan = Tidak Berteman Lagi?

Kehidupan sebagai orang dewasa perlahan membawa kita ke jalan yang berbeda. Tidak peduli sedekat apa pun saya dan sahabat-sahabat pada masa sekolah atau kuliah, komunikasi dan pertemuan tatap muka bisa menjadi semakin jarang.

Lalu, apakah itu berarti kami sudah tidak berteman lagi?

Saya memiliki seorang teman dekat semasa SMA yang setelah lulus tidak pernah lagi bertemu maupun berkomunikasi melalui media apa pun. Sampai suatu ketika, saat saya baru lulus S1 dan menjadi pekerja baru, kami tidak sengaja bertemu di sebuah supermarket.

Saya masih mengingat ekspresi wajahnya saat itu. Ia tiba-tiba begitu heboh—memang begitulah karakternya yang ceria—lalu memeluk saya tanpa peduli supermarket sedang ramai. Cara tersenyum, menyapa, dan berinteraksi dengan saya masih sama seperti ketika kami duduk bersama di bangku SMA.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Sepiring Gonggong dan Sensasi yang Tidak Biasa
Sepiring Gonggong dan Sensasi yang Tidak Biasa
Kata Netizen
MBG Hadir, Kantin Sekolah Tetap Punya Cerita
MBG Hadir, Kantin Sekolah Tetap Punya Cerita
Kata Netizen
Pertemanan yang Merenggang Tak Selalu Berarti Putus
Pertemanan yang Merenggang Tak Selalu Berarti Putus
Kata Netizen
Ada Perjuangan di Balik Mual dan Emosi Ibu Hamil
Ada Perjuangan di Balik Mual dan Emosi Ibu Hamil
Kata Netizen
Setelah Gempa Berlalu, Bagaimana Mengembalikan Rasa Aman?
Setelah Gempa Berlalu, Bagaimana Mengembalikan Rasa Aman?
Kata Netizen
Seharian di Cipete dan Sekitarnya
Seharian di Cipete dan Sekitarnya
Kata Netizen
Belajar Ketahanan Pangan dari Hutan Kota di Seniman Pangan
Belajar Ketahanan Pangan dari Hutan Kota di Seniman Pangan
Kata Netizen
Dulu Maba, Kini Sarjana: Apa yang Berubah dari Cara Berpikir?
Dulu Maba, Kini Sarjana: Apa yang Berubah dari Cara Berpikir?
Kata Netizen
El Nino Bukan Sekadar Musim Kemarau, Ini Dampaknya bagi Kita
El Nino Bukan Sekadar Musim Kemarau, Ini Dampaknya bagi Kita
Kata Netizen
Membawa Kincung, Sedikit Bagian dari Kampung Halaman
Membawa Kincung, Sedikit Bagian dari Kampung Halaman
Kata Netizen
(Tidak) Semua Pertemanan Mesti Bertahan Selamanya
(Tidak) Semua Pertemanan Mesti Bertahan Selamanya
Kata Netizen
Yang Tertinggal Setelah Seorang Dosen Pergi
Yang Tertinggal Setelah Seorang Dosen Pergi
Kata Netizen
Menanam Nangka di Pekarangan, Menikmati Buahnya, Merasakan Hematnya
Menanam Nangka di Pekarangan, Menikmati Buahnya, Merasakan Hematnya
Kata Netizen
Sejuknya Hutan, Hangatnya Cerita tentang Petani Kopi
Sejuknya Hutan, Hangatnya Cerita tentang Petani Kopi
Kata Netizen
Kemerdekaan yang Belum Selesai, Korupsi Menggerogoti Hak Rakyat
Kemerdekaan yang Belum Selesai, Korupsi Menggerogoti Hak Rakyat
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Terpopuler
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau