
Namun, setiap hari anak-anak mengenalnya. Mereka bertemu saat jam istirahat. Mereka bercanda ketika membeli jajanan.
Ada yang mungkin berutang sebentar. Ada pula yang sekadar mampir tanpa membeli apa pun. Hubungan sederhana itu berlangsung berulang kali, selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun.
Tanpa disadari, kedekatan tersebut menjadi bagian dari memori masa sekolah.
Di era MBG, pengamatan kecil di Kantin Bang Bob membuat saya memahami bahwa fungsi kantin ternyata tidak sesederhana tempat menjual makanan. Anak-anak memang datang untuk membeli sesuatu, tetapi tidak semuanya dapat dijelaskan melalui transaksi.
Kantin juga menjadi tempat pertemuan, tempat berbincang, atau tempat menghabiskan waktu istirahat. Dan bagi sebagian anak, tampaknya menjadi bagian dari kenangan yang ingin mereka simpan.
Tidak heran jika dinding Kantin Bang Bob akhirnya berubah menjadi semacam album kenangan.
Anak-anak dari angkatan yang berbeda meninggalkan wajah mereka di sana. Ada yang mungkin sudah lama lulus. Ada yang kini sedang melanjutkan kuliah, bekerja, atau menjalani kehidupan yang sama sekali berbeda.
Namun, foto mereka masih ada. Tetap menempel di dinding kantin.
MBG boleh hadir dengan tujuan penting, yaitu membantu pemenuhan kebutuhan gizi peserta didik. Akan tetapi, kehadiran makanan bergizi tidak serta-merta menggantikan seluruh makna kantin dalam kehidupan anak-anak. Kantin masih memiliki ruangnya sendiri.
Sebab, bagi anak-anak, kantin bukan hanya tempat mengisi perut.
Kadang, di sebuah dinding sederhana yang dipenuhi foto, kita justru menemukan sesuatu yang lebih besar.
Bahwa masa sekolah ternyata juga dapat dikenang melalui orang-orang yang tidak pernah mengajar kita. Termasuk seorang pedagang kantin bernama Bang Bob.
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Di Era MBG, Kantin Tetap Tempat Anak-anak Meninggalkan Jejak"
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.