
Ketika kebutuhan makan anak-anak di sekolah mulai dipenuhi melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG), apakah kantin otomatis kehilangan tempatnya? Atau jangan-jangan, kantin memang sejak awal bukan sekadar tempat membeli makanan, melainkan bagian dari pengalaman dan kenangan anak-anak selama bersekolah?
Sejak program Makan Bergizi Gratis (MBG) hadir di sekolah, saya sempat membayangkan kantin akan menjadi lebih sepi. Bukankah anak-anak sudah mendapatkan makanan?
Kalau kebutuhan makan mereka sudah dipenuhi, mungkin uang jajan tidak lagi banyak mengalir ke pedagang kantin.
Ternyata, dugaan itu tidak sepenuhnya benar. Karena di sela-sela kegiatan sekolah, anak-anak masih datang ke kantin. Mereka membeli camilan, minuman, atau sekadar mencari makanan tambahan.
Rupanya, menerima makanan dari program MBG tidak serta-merta membuat hubungan anak-anak dengan kantin berakhir.
Mungkin ada saat ketika makanan yang diterima belum cukup mengenyangkan. Mungkin mereka hanya ingin membeli sesuatu yang lain.
Namun, setelah memperhatikan lebih lama, saya menemukan hal yang jauh lebih menarik daripada sekadar anak-anak yang masih membeli jajanan.
Di salah satu kantin sekolah, saya melihat sebuah dinding yang hampir dipenuhi foto.
Ada foto siswa bersama teman-temannya. Ada pula foto bersama pemilik kantin. Bahkan, ada yang tampak seperti banner kecil yang sengaja dibuat sendiri oleh anak-anak. Foto-foto itu berasal dari berbagai angkatan.
Kantin itu milik Bang Bob. Awalnya saya mengira foto-foto tersebut hanya pajangan biasa. Namun, semakin diperhatikan, dinding itu seperti menyimpan perjalanan panjang hubungan Bang Bob dengan anak-anak yang pernah bersekolah di sana.
Mereka datang sebagai siswa,jajan di kantin, dan akrab dengan pedagang kantin. Lalu, sebelum meninggalkan masa sekolahnya, sebagian dari mereka meninggalkan foto.
Seolah-olah ada pesan sederhana yang ingin ditinggalkan: kami pernah ada di sini.
Di sekolah, tentu anak-anak memiliki guru yang akan mereka kenang. Mereka juga memiliki teman sekelas, wali kelas, organisasi, kegiatan, dan berbagai peristiwa yang membentuk pengalaman selama belajar.
Namun, ternyata ada pula tokoh lain yang diam-diam menjadi bagian dari kehidupan sekolah mereka.
Bang Bob mungkin tidak pernah berdiri di depan kelas untuk mengajar. Ia tidak membagikan rapor. Namanya mungkin tidak tercantum dalam struktur organisasi sekolah.
Namun, setiap hari anak-anak mengenalnya. Mereka bertemu saat jam istirahat. Mereka bercanda ketika membeli jajanan.
Ada yang mungkin berutang sebentar. Ada pula yang sekadar mampir tanpa membeli apa pun. Hubungan sederhana itu berlangsung berulang kali, selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun.
Tanpa disadari, kedekatan tersebut menjadi bagian dari memori masa sekolah.
Di era MBG, pengamatan kecil di Kantin Bang Bob membuat saya memahami bahwa fungsi kantin ternyata tidak sesederhana tempat menjual makanan. Anak-anak memang datang untuk membeli sesuatu, tetapi tidak semuanya dapat dijelaskan melalui transaksi.
Kantin juga menjadi tempat pertemuan, tempat berbincang, atau tempat menghabiskan waktu istirahat. Dan bagi sebagian anak, tampaknya menjadi bagian dari kenangan yang ingin mereka simpan.
Tidak heran jika dinding Kantin Bang Bob akhirnya berubah menjadi semacam album kenangan.
Anak-anak dari angkatan yang berbeda meninggalkan wajah mereka di sana. Ada yang mungkin sudah lama lulus. Ada yang kini sedang melanjutkan kuliah, bekerja, atau menjalani kehidupan yang sama sekali berbeda.
Namun, foto mereka masih ada. Tetap menempel di dinding kantin.
MBG boleh hadir dengan tujuan penting, yaitu membantu pemenuhan kebutuhan gizi peserta didik. Akan tetapi, kehadiran makanan bergizi tidak serta-merta menggantikan seluruh makna kantin dalam kehidupan anak-anak. Kantin masih memiliki ruangnya sendiri.
Sebab, bagi anak-anak, kantin bukan hanya tempat mengisi perut.
Kadang, di sebuah dinding sederhana yang dipenuhi foto, kita justru menemukan sesuatu yang lebih besar.
Bahwa masa sekolah ternyata juga dapat dikenang melalui orang-orang yang tidak pernah mengajar kita. Termasuk seorang pedagang kantin bernama Bang Bob.
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Di Era MBG, Kantin Tetap Tempat Anak-anak Meninggalkan Jejak"
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.