Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Diantika IE
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Diantika IE adalah seorang yang berprofesi sebagai Penulis. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Bisakah Lelaki dan Perempuan Benar-benar Hanya Bersahabat?

Kompas.com, 16 September 2026, 11:25 WIB

Apakah kedekatan antara lelaki dan perempuan benar-benar dapat sepenuhnya terbebas dari perasaan, terutama ketika hubungan itu sudah berubah dari sekadar teman menjadi tempat berbagi cerita, mencari dukungan, dan saling membutuhkan?

Saya percaya, tidak ada persahabatan yang benar-benar murni antara lelaki dan perempuan.

Berteman? Bisa. Menjadi rekan kerja? Tentu saja. Saling mengenal, membantu, berdiskusi, bekerja sama, bahkan sesekali bercanda? Tidak ada masalah.

Tetapi ketika hubungan itu mulai disebut sebagai persahabatan, bagi saya, di situlah persoalannya menjadi lebih kompleks.

Ketika seorang lelaki dan perempuan sudah menyebut hubungan mereka sebagai sahabat, biasanya terdapat kedekatan yang lebih dalam daripada sekadar teman.

Ada komunikasi yang lebih intens, perhatian yang lebih khusus, tempat untuk berbagi cerita, saling mengetahui persoalan pribadi, hingga menjadi orang pertama yang dicari ketika sedang membutuhkan seseorang.

Ketika dua orang berbeda jenis kelamin berada dalam kedekatan seperti itu, saya sulit meyakini bahwa hubungan tersebut akan selalu terbebas dari kemungkinan munculnya perasaan.

Perasaan itu pun tidak selalu harus berupa cinta. Bisa saja berupa rasa nyaman, kekaguman, atau sekadar rasa kehilangan ketika perhatian yang selama ini diterima tiba-tiba berkurang.

Tetapi tetap saja, ada sesuatu yang tumbuh.

Berteman Boleh, Bersahabat Jangan

Bagi saya, persoalannya bukan apakah lelaki dan perempuan boleh berinteraksi. Tentu saja boleh.

Kita hidup di tengah masyarakat. Di sekolah, kampus, tempat kerja, organisasi, komunitas, maupun lingkungan sosial, lelaki dan perempuan pasti bertemu dan berinteraksi.

Karena itu, saya tidak sedang mengatakan bahwa lelaki dan perempuan harus saling menjauh. Yang menjadi perhatian saya adalah kedekatan yang kemudian diberi label persahabatan.

Jika memang ingin menjaga batas, mengapa harus bersahabat terlalu dekat?

Cukup berteman. Menjadi rekan kerja, kenalan yang dapat saling menyapa dan membantu seperlunya, atau menjadi bagian dari lingkungan pertemanan yang sehat.

Tidak perlu menjadikan seseorang sebagai tempat pertama untuk menceritakan semua persoalan. Tidak harus membangun komunikasi tanpa batas setiap hari atau selalu hadir dalam kehidupan masing-masing.

Sebab, menurut saya, kedekatan emosional yang terlalu intens dapat membuat keberadaan satu sama lain perlahan menjadi begitu penting.

Semakin intens hubungan dibangun, semakin besar pula kemungkinan batas persahabatan menjadi sulit dijaga. Dan jika pada akhirnya batas tersebut harus dijaga dengan susah payah, saya kembali bertanya: mengapa harus membangun kedekatan sampai sejauh itu?

"Kami Tidak Punya Perasaan Apa-Apa"

Kalimat seperti ini mungkin akan muncul dari mereka yang merasa persahabatannya baik-baik saja.

Namun, manusia tidak selalu dapat memastikan bagaimana perasaannya pada hari esok. Hari ini mungkin hanya ada rasa nyaman. Besok, rasa itu bisa saja berkembang menjadi kekaguman. Kekaguman yang semakin besar dapat berubah menjadi kerinduan.

Jika dibiarkan tumbuh, kerinduan mungkin berkembang menjadi keinginan untuk memiliki. Semua itu dapat berlangsung perlahan, bahkan tanpa disadari, karena merasa cocok, merasa diperhatikan, dan terlalu sering berbagi waktu.

Lama-kelamaan, dua orang bisa saling membutuhkan dan merasa ada sesuatu yang hilang ketika salah satunya tidak hadir.

Sampai akhirnya, seseorang menjadi terlalu penting.

Pada titik itulah, hubungan yang sejak awal disebut "hanya persahabatan" mungkin tidak lagi sesederhana namanya.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Danau Singkarak, Lebih dari Sekadar Pemandangan Indah
Danau Singkarak, Lebih dari Sekadar Pemandangan Indah
Kata Netizen
Perempuan dan Masa Depan Investasi di Pasar Modal
Perempuan dan Masa Depan Investasi di Pasar Modal
Kata Netizen
Anak Belajar Mengenal Tradisi Daerah lewat Karnaval Budaya
Anak Belajar Mengenal Tradisi Daerah lewat Karnaval Budaya
Kata Netizen
Sekolah dan Kuliah Gratis, Apakah Kesempatan Belajar Jadi Setara?
Sekolah dan Kuliah Gratis, Apakah Kesempatan Belajar Jadi Setara?
Kata Netizen
Cerita Musim Kemarau di NTT, dari Pohon Lontar ke Gula Lempeng
Cerita Musim Kemarau di NTT, dari Pohon Lontar ke Gula Lempeng
Kata Netizen
Mengenal TB Lebih Dekat, dari Penularan hingga Pencegahannya
Mengenal TB Lebih Dekat, dari Penularan hingga Pencegahannya
Kata Netizen
Ketemu Vitamin A-syik saat Jogging Malam di Manahan
Ketemu Vitamin A-syik saat Jogging Malam di Manahan
Kata Netizen
Menjadi Guru Tak Cukup Hanya dengan Keikhlasan
Menjadi Guru Tak Cukup Hanya dengan Keikhlasan
Kata Netizen
Anggrek Membawa Saya Kembali kepada Kuntowijoyo
Anggrek Membawa Saya Kembali kepada Kuntowijoyo
Kata Netizen
Mindfulness Bukan Sekadar Menjauh dari Kabar Buruk
Mindfulness Bukan Sekadar Menjauh dari Kabar Buruk
Kata Netizen
Menyusuri Jejak Sejarah Kali Pepe di Tengah Kota Solo
Menyusuri Jejak Sejarah Kali Pepe di Tengah Kota Solo
Kata Netizen
Karhutla Mapongka Mendekati Bandara dan Sekolah Rakyat
Karhutla Mapongka Mendekati Bandara dan Sekolah Rakyat
Kata Netizen
Kesendirian Tak Lagi Menjadi Sesuatu yang Menakutkan
Kesendirian Tak Lagi Menjadi Sesuatu yang Menakutkan
Kata Netizen
Brokoli Kuning dan Cara Sederhana Membuat Taman Lebih Hidup
Brokoli Kuning dan Cara Sederhana Membuat Taman Lebih Hidup
Kata Netizen
Keluarga Stucky, di Balik Awal Pendidikan Perempuan di Malang
Keluarga Stucky, di Balik Awal Pendidikan Perempuan di Malang
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Terpopuler
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau