Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Yustisia Kristiana
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Yustisia Kristiana adalah seorang yang berprofesi sebagai Dosen. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Mengenal Tangerang Lewat Motif Batiknya

Kompas.com, 16 September 2026, 13:33 WIB

Bagaimana jika kita mengenal sebuah daerah bukan hanya dari tempat yang dikunjungi, tetapi juga dari cerita, simbol, dan kehidupan masyarakat yang dituangkan ke dalam selembar kain?

Batik memang sangat lekat dengan budaya Jawa. Namun, perjalanan batik di Indonesia ternyata jauh lebih luas. Hampir setiap daerah memiliki ciri khas batiknya sendiri yang lahir dari kekayaan budaya, lingkungan, serta kreativitas masyarakat setempat.

Di Kabupaten Tangerang, tepatnya di Desa Kemuning, terdapat Kampung Budaya Batik Khas Tangerang yang dikenal sebagai Kampung Budaya Kemuning. Kawasan ini menjadi salah satu tempat untuk mengenal batik Tangerang sekaligus melihat secara langsung bagaimana proses pembuatannya.

Suasana terasa teduh ketika memasuki kawasan ini. Lingkungannya rapi dan asri. Di sebuah gazebo dengan desain unik yang menyerupai kandang sapi, beberapa ibu terlihat duduk membatik.

Tangan mereka bergerak perlahan mengikuti pola yang telah tergambar di atas kain. Tidak ada proses yang terburu-buru. Setiap garis dan titik dikerjakan dengan penuh ketelitian.

Pemandangan tersebut memberikan kesan tersendiri. Batik tidak hanya terlihat sebagai kain yang sudah selesai dibuat dan siap digunakan, tetapi juga sebagai sebuah proses yang membutuhkan ketelitian, kesabaran, dan waktu.

Di sebuah rumah yang sekaligus berfungsi sebagai galeri, berbagai motif batik khas Tangerang yang dikenal dengan brand Nyi Pohaci dipajang dengan rapi. Nama tersebut diambil dari sosok Nyi Pohaci atau Dewi Sri, yang dikenal sebagai dewi kesuburan dan pelindung padi dalam mitologi masyarakat.

Dari sini, batik terasa bukan sekadar persoalan motif dan warna. Ada cerita mengenai tempat, masyarakat, dan lingkungan yang ikut membentuk identitasnya.

Cerita yang Bermula dari Rambutan Parakan

Perjalanan batik khas Tangerang di Kemuning memiliki cerita yang cukup panjang. Pengembangannya dirintis sejak 2007 oleh H. Ali Taba, yang akrab disapa Bapak Ali.

Gagasannya berangkat dari keinginan untuk memberikan identitas dan motif khas bagi daerah Tangerang. Dari sinilah muncul motif rambutan parakan yang kemudian menjadi salah satu pelopor identitas batik lokal Tangerang.

Seiring waktu, berbagai unsur lokal mulai menjadi sumber inspirasi.

Ada rambutan parakan yang menggambarkan kekayaan lokal. Ada wareng atau ayam jantan yang melambangkan kekuatan, keberanian, dan kegagahan. Ada pula kacang Cisoka yang menggambarkan hasil bumi dan potensi alam Kabupaten Tangerang.

Motif-motif tersebut memperlihatkan bahwa cerita mengenai sebuah daerah sebenarnya dapat berangkat dari hal-hal yang sederhana dan dekat dengan kehidupan masyarakat.

Buah, hewan, hingga hasil bumi yang mungkin selama ini dianggap sebagai bagian biasa dari keseharian ternyata dapat diterjemahkan menjadi simbol identitas. Ketika dituangkan ke dalam kain, unsur-unsur tersebut mendapatkan cerita baru dan menjadi bagian dari perjalanan budaya sebuah daerah.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Danau Singkarak, Lebih dari Sekadar Pemandangan Indah
Danau Singkarak, Lebih dari Sekadar Pemandangan Indah
Kata Netizen
Perempuan dan Masa Depan Investasi di Pasar Modal
Perempuan dan Masa Depan Investasi di Pasar Modal
Kata Netizen
Anak Belajar Mengenal Tradisi Daerah lewat Karnaval Budaya
Anak Belajar Mengenal Tradisi Daerah lewat Karnaval Budaya
Kata Netizen
Sekolah dan Kuliah Gratis, Apakah Kesempatan Belajar Jadi Setara?
Sekolah dan Kuliah Gratis, Apakah Kesempatan Belajar Jadi Setara?
Kata Netizen
Cerita Musim Kemarau di NTT, dari Pohon Lontar ke Gula Lempeng
Cerita Musim Kemarau di NTT, dari Pohon Lontar ke Gula Lempeng
Kata Netizen
Mengenal TB Lebih Dekat, dari Penularan hingga Pencegahannya
Mengenal TB Lebih Dekat, dari Penularan hingga Pencegahannya
Kata Netizen
Ketemu Vitamin A-syik saat Jogging Malam di Manahan
Ketemu Vitamin A-syik saat Jogging Malam di Manahan
Kata Netizen
Menjadi Guru Tak Cukup Hanya dengan Keikhlasan
Menjadi Guru Tak Cukup Hanya dengan Keikhlasan
Kata Netizen
Anggrek Membawa Saya Kembali kepada Kuntowijoyo
Anggrek Membawa Saya Kembali kepada Kuntowijoyo
Kata Netizen
Mindfulness Bukan Sekadar Menjauh dari Kabar Buruk
Mindfulness Bukan Sekadar Menjauh dari Kabar Buruk
Kata Netizen
Menyusuri Jejak Sejarah Kali Pepe di Tengah Kota Solo
Menyusuri Jejak Sejarah Kali Pepe di Tengah Kota Solo
Kata Netizen
Karhutla Mapongka Mendekati Bandara dan Sekolah Rakyat
Karhutla Mapongka Mendekati Bandara dan Sekolah Rakyat
Kata Netizen
Kesendirian Tak Lagi Menjadi Sesuatu yang Menakutkan
Kesendirian Tak Lagi Menjadi Sesuatu yang Menakutkan
Kata Netizen
Brokoli Kuning dan Cara Sederhana Membuat Taman Lebih Hidup
Brokoli Kuning dan Cara Sederhana Membuat Taman Lebih Hidup
Kata Netizen
Keluarga Stucky, di Balik Awal Pendidikan Perempuan di Malang
Keluarga Stucky, di Balik Awal Pendidikan Perempuan di Malang
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Terpopuler
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau