
Bagaimana jika kita mengenal sebuah daerah bukan hanya dari tempat yang dikunjungi, tetapi juga dari cerita, simbol, dan kehidupan masyarakat yang dituangkan ke dalam selembar kain?
Batik memang sangat lekat dengan budaya Jawa. Namun, perjalanan batik di Indonesia ternyata jauh lebih luas. Hampir setiap daerah memiliki ciri khas batiknya sendiri yang lahir dari kekayaan budaya, lingkungan, serta kreativitas masyarakat setempat.
Di Kabupaten Tangerang, tepatnya di Desa Kemuning, terdapat Kampung Budaya Batik Khas Tangerang yang dikenal sebagai Kampung Budaya Kemuning. Kawasan ini menjadi salah satu tempat untuk mengenal batik Tangerang sekaligus melihat secara langsung bagaimana proses pembuatannya.
Suasana terasa teduh ketika memasuki kawasan ini. Lingkungannya rapi dan asri. Di sebuah gazebo dengan desain unik yang menyerupai kandang sapi, beberapa ibu terlihat duduk membatik.
Tangan mereka bergerak perlahan mengikuti pola yang telah tergambar di atas kain. Tidak ada proses yang terburu-buru. Setiap garis dan titik dikerjakan dengan penuh ketelitian.
Pemandangan tersebut memberikan kesan tersendiri. Batik tidak hanya terlihat sebagai kain yang sudah selesai dibuat dan siap digunakan, tetapi juga sebagai sebuah proses yang membutuhkan ketelitian, kesabaran, dan waktu.
Di sebuah rumah yang sekaligus berfungsi sebagai galeri, berbagai motif batik khas Tangerang yang dikenal dengan brand Nyi Pohaci dipajang dengan rapi. Nama tersebut diambil dari sosok Nyi Pohaci atau Dewi Sri, yang dikenal sebagai dewi kesuburan dan pelindung padi dalam mitologi masyarakat.
Dari sini, batik terasa bukan sekadar persoalan motif dan warna. Ada cerita mengenai tempat, masyarakat, dan lingkungan yang ikut membentuk identitasnya.
Cerita yang Bermula dari Rambutan Parakan
Perjalanan batik khas Tangerang di Kemuning memiliki cerita yang cukup panjang. Pengembangannya dirintis sejak 2007 oleh H. Ali Taba, yang akrab disapa Bapak Ali.
Gagasannya berangkat dari keinginan untuk memberikan identitas dan motif khas bagi daerah Tangerang. Dari sinilah muncul motif rambutan parakan yang kemudian menjadi salah satu pelopor identitas batik lokal Tangerang.
Seiring waktu, berbagai unsur lokal mulai menjadi sumber inspirasi.
Ada rambutan parakan yang menggambarkan kekayaan lokal. Ada wareng atau ayam jantan yang melambangkan kekuatan, keberanian, dan kegagahan. Ada pula kacang Cisoka yang menggambarkan hasil bumi dan potensi alam Kabupaten Tangerang.
Motif-motif tersebut memperlihatkan bahwa cerita mengenai sebuah daerah sebenarnya dapat berangkat dari hal-hal yang sederhana dan dekat dengan kehidupan masyarakat.
Buah, hewan, hingga hasil bumi yang mungkin selama ini dianggap sebagai bagian biasa dari keseharian ternyata dapat diterjemahkan menjadi simbol identitas. Ketika dituangkan ke dalam kain, unsur-unsur tersebut mendapatkan cerita baru dan menjadi bagian dari perjalanan budaya sebuah daerah.